Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! UNUTAS Sebagai Perwujudan Nilai-nilai Ishlahiyah - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

UNUTAS Sebagai Perwujudan Nilai-nilai Ishlahiyah

Diantara visi Nahdlatul Ulama adalah sebagai jam’iyah diniyah Islamiyah ijtimaiyah yang memperjuangkan tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah serta mewujudkan kemaslahan masyarakat, kemajuan bangsa, kesejahteraan, keadilan, dan kemandirian khususnya warga NU serta terciptanya rahmat bagi semesta dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berazaskan Pancasila. Dari sini nampak jelas bahwa NU dilahirkan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat, sehingga NU dapat dikatakan sebagai harakah ishlahiyah dan juga jam’iyah ishlahiyah. Berangkat dari nilai-nilai kemaslahatan inilah NU begerak untuk  menguatkan umat (taqwiyatul Ummah) dalam berbagai aspek kehidupan dan menjaga umat (himayatul Ummah) dari beraneka ancaman tantangan yang dihadapi mereka.

NU berusaha mengawal umat untuk maju dan menggapai kemaslahatan di dunia dan akhirat. Jargon kemaslahatan ini bukan hanya sebuah impian belaka, namun selalu digaungkan dengan kaidah yang selalu melekat yaitu: al-muhafazhatu alal qadimish-shalih wal akhdzu bil jadidi alshlah (Menjaga tradisi yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik lagi). Tentu kaidah ini tidak hanya sebagai jargon belaka tapi dimanifestasikan dalam perubahan paradigma NU dari masa ke masa dengan tanpa meninggalkan miqat dan manhajnya.

NU hari ini, lahir dan tumbuh berkembang dari rentetan perjalanan historis yang panjang. Babakan sejarah yang hampir menyampaikan pada usianya yang ke satu abad ini. NU  telah membuktikan sebagai jam’iyah yang selalu membawa perubahan inovatif dengan tanpa meninggalkan tradisi sucinya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan paradigma pemikiran keislaman Nahdlatul Ulama yang lebih inovatif dan progresif. Hal ini tidak lahir dengan sim salabim tapi melalui proses panjang serta diiringi faktor-faktor yang melatarbelakanginya sehingga NU tampil lebih dewasa dan dinamis.

Dalam Tesis Tejo Waskito disebutkan salah satu faktor yang menjadi pemantik pergeseran paradigma keislaman Nahdlatul Ulama, bermula dari sebuah revolusi paradigmatik yang lahir dari sebuah Muktamar di Situbondo tahun 1984. Dari sinilah pohon itu mulai ditanam kemudian disirami dan tumbuh menjadi NU yang semerbak mewangi. Kembalinya NU ke Khittah tahun 1926 membawa sebuah paradigma baru yang secara revolusioner membangkitkan pemikiran-pemikiran baru luar yang biasa.

Belum lagi faktor eksternal yang mengiringi gerak khittah ini semakin menyeruak seiring sejalan dengan paradigma baru ini. Salah satu faktor tersebut adalah terjadinya mobilitas sosial intelektual anak muda NU yang secara perlahan  mampu mengurangi isolasi warga NU yang dikenal dengan sarungan, kolot, dan tradisional.  Karena mobilitas sosial intelektual inilah yang mampu menggerakkan NU menjadi sebuah jam’iyah yang lebih elegan.

Keberadaan anak muda ini di kemudian hari mampu melahirkan tokoh sentral yang merupakan lokomotif gerakan kultur sosial intelektual di tubuh NU. Seperti halnya kehadiran KH Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur. Tokoh sentral ini mampu menggerakkan jam’iyah NU baik secara kultur atau struktur menuju kepada perubahan intelektual di NU. Belum lagi tokoh lain, sebut saja KH Masdar F Masudi yang berkarya melalui Perhimpunan Pengembangan Pesantren Dan Masyarakat atau P3M yang hadir dengan gagasan-gagasan dahsyatnya mampu menggetarkan arasy pemikiran Islam di Indonesia.
Dari kiblat baru inilah para santri mulai melek dan berusaha ittiba kepada mereka. Maka berbondong-bondong para santri belajar di beberapa Perguruang Tinggi Agama Islam. Para santri inilah yang mampu mendongkrak NU untuk bergerak dari sayap tradisional menuju menuju paradigma intelektual modern. Para santri yang berasal dari Pondok Pesantren dari berbagai daerah di Indonesia dengan semangat melanjutkan menuntut ilmu ke lembaga ini. Para santri dengan berbekal ilmu yang luar biasa tentang agama Islam pada akhirnya harus bersentuhan juga dengan metodologi baik dari Timur Tengah maupun dari Barat. Inilah sebuah awal dari perubahan itu.

Dari pergulatan pemikiran tradisional dan modern ini perlahan tapi pasti ternyata dapat menggeser teologi NU dari Aswaja yang bersifat doktrinal menjadi Manhaj al-Fikri selain tradisi fiqih yang semula berkutat secara qauli menjadi fiqih yang bersifat manhaji. Tentu ini sangat merubah dasar pemikiran para santri yang berawal dari pemikiran serba manut terhadap apa yang terdapat dalam kitab kuning, namun dengan berbekal metodologi yang cukup handal mampu menganalisis lebih dalam dari sekedar memaknai kata-per kata. Kajian terhadap teks turats ini dapat melahirkan pemikiran inovatif yang walaupun kadang memunculkan kenakalan-kenakalan intelektual.
Perubahan paradigma pemikiran keagamaan NU ini tidak hanya berputar di tataran para elit. Namun berimbas secara kuat mengakar ke daerah di seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia. Satu persatu para putra daerah mulai berfikir keras mengibaskan kesan kolot dan tradisional. NU hadir harus sejajar dengan jam’iyah lainnya yang telah terlebih dahulu berlari dan berkutat dalam pendidikan, bahkan menjadi pioneer pendidikan di Indonesia.

Tak terkecuali di Kota Tasikmalaya. Kelahiran lembaga pendidikan tinggi yang dikenal dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatu Ulama (STAINU) merupakan salah satu imbas perubahan paradigma baru tersebut. STAINU Tasikmalaya lahir dari rahim para ulama  NU Kota Tasikmalaya. Gagasan mendirikan lembaga pendidikan tinggi NU ini adalah diharapkan mampu melahirkan para pemikir Islam inovatif yang berkarakter aswaja an-nahdliyyah.

Keberadaan STAINU Tasikmalaya adalah sebagai perwujudan dari kaidah Al muhafazhatu ‘alal qadimish-shalih, yaitu merawat dan menjaga radisi yang shalih atau baik. Namun dengan semangat ishlahiyah, dasar keberadaan lembaga pendidikan tinggi ini tidak cukup berhenti di sepotong kaidah tapi harus mampu melanjutkan kaidah tersebut yaitu wal-akhdzu bil jadidil ashlah yaitu mengambil sesuatu yang baru (inovatif) dan tentu lebih memberikan kemaslahatan. Mega rencana transformasi STAINU Tasikmalaya menjadi  Universitas Nahdlatul Ulama Tasikmalaya (UNUTAS) adalah merupakan perwujudan dari kelanjutan kaidah tersebut.

STAINU Tasikmalaya atau ke depannya UNUTAS (semoga), harus hadir di masyarakat Indonesia sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang mengusung semangat ishlahiyah. Menjadi landasan pacu saat akan berlabuhnya manhaj aswaja mengarungi samudera dakwah. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, lembaga pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama  harus memiliki dua tujuan yaitu sebagai markaz al-ishlah (pusat perbaikan) dan markaz li i’dadirijal al-ishlah yaitu sebagai pusat penyiapan tokoh-tokoh perbaikan/perubahan. Hal ini sejalan dengan konsep al-Ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah intinya bagaimana menuju perbaikan yang lebih baik lagi, kemudian lebih baik lagi dan tujuan utamanya adalah lebih baik serta lebih maslahat untuk umat. Disinilah peran serta rijalul Ishlah memegang kendali berani bertransformasi mengemukakan visi baru dan inovasi karena sesungguhnya inti dari inovasi itu adalah al-ishlah.
Wallahu a’lam bish-Shawab.

Acep Zoni Saeful Mubarok

(Penulis adalah Ketua LBMNU Kota Tasikmalaya dan Ketua SPI Universitas Siliwangi)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan