Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Tersandung Korupsi Apakah Siksaan atau Cobaan …??? - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Tersandung Korupsi Apakah Siksaan atau Cobaan …???

Oleh: Ricky Assegaf, M.Pd

(Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya)

Nahdloh.com~ Setiap orang mesti akan lebih banyak melakukan kebaikan dari pada kejelekannya, maka siapapun orang yang melakukan kejelekan ia berpotensi untuk melakukan kebaikan kembali.

Melihat pemandangan yang agak berbeda di Kota Tasikmalaya saat ini pasca non-aktifnya Wali Kota Tasikmalaya ( BBD ) oleh KPK RI, terihat banyak sekali bermunculan dukungan moral dari berbagai kalangan, salah satunya dalam bentuk spanduk di pagar Mesjid Agung Kota Tasikmalaya.

Aswaja memang sangat mengajarkan dan menganjurkan untuk menghormati Pemimpin, (Walau) Pemimpin itu dhalim, tetapi seiring itu pula apabila terdapat kesalahan kita diharuskan untuk mengingatkan dengan cara – cara yang diajarkan oleh Nabi. 

Dalam konteks ini, ketika orang beriman melakukan kesalahan kemudian dihentikan kesalahanya (ditangkap),  berarti Allah SWT menyayangiya. Karena supaya berhenti melakukan kesalahannya tersebut. Dengan demikian apabila dibiarkan akan terus bertambah dosanya dan di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawaban. Begitulah cara Allah mengingatkan kepada orang yang beriman. 

Bagi mereka yang tidak beriman melakukan tindakan korupsi hingga ditetapkan oleh KPK, maka hal tersebut adalah Azab/siksaan dari Allah, tetapi bagi orang yang beriman hal tersebut adalah cara Allah mengingatkannya.

Kita harus selalu berprasangka baik terhadap Allah sebagaimana dijelaskan : “Ana Inna Dzhonni Abdi bii” (Allah itu tergantung prasangka kita), ketika kita berprasangka jelek terhadap Allah maka kejelekan menimpa kepada kita, sebaliknya ketika prasangka kita kepada Allah baik maka akan baik pula. 

Secara hakikat, kebaikan dan kejelekan adalah Allah yang merekayasa, akan tetapi sebagai seorang hamba mestinya dalam mengekpresikan kehambaannya harus dibarengi dengan etika. Ketika sesuatu yang baik harus diyakini dari Allah dan sesuatu yang jelek ulah dari diri kita sendiri.

Membincang terkait korupsi, korupsi adalah perilaku menyimpang yang sejak zaman Nabi pun telah ada, kisah populer yang di ceritakan dalam kitab al-Minhaj fi Syarah Sahih bukhori muslim, “ketika Abdulloh bin Al-Lutbiyah ditunjuk untuk menjadi petugas pemungut zakat dari masyarakat di Bani Sulaim, akan tetapi Rasulullah mendapati ada hal yang tidak benar dalam laporan Al-lutbiyah. 

Setelah Rasulullah mengetahui Al-lutbiyah melakukan korupsi, segera Rasulullah langsung berpidato di hadapan umum. Beliau memberitahukan kepada masyarakat muslim pada saat itu tentang ketidakbenaran yang telah dilakukan Al-lutbiyah, di mana maksud Rasulullah memberitahukan di depan umum tiada lain adalah membuat malu dan jera para koruptor dan pelajaran bagi yang lainnya agar tidak melakukan hal yang sama.

Kata “Korupsi” yang pertama selalu terlintas dalam benak ini adalah kalimat yang di sampaikan Gusdur “Negeri ini Tidak akan hancur karena bencana dan perbedaan sebaliknya, Negeri ini mudah hancur karena moral bejat dan korupsi“. Sebelum kita lanjutkan hadiah Alfatihah untuk guru kita semua almarhum Almagfurlah KH. Abdurahman Wahid (Gusdur) 

Para ulama telah sepakat menyikapi persoalan korupsi yang terjadi di Negeri ini bahwa melawan korupsi adalah Jihad Fi Sabilillah, bahkan ada yang menyatakan bahwa korupsi adalah kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime) yang benar-benar harus dimusnahkan. 

Dalam buku Jihad NU Melawan Korupsi telah disampaikan bahwa, “Korupsi adalah tindakan memporak – porakgandakan keadilan. Implikasi korupsi adalah terjadinya kerusakan, terlanggarnya hak asasi manusia, pemiskinan, kehancuran tatanan kehidupan, dan sebagainya. Hal inilah yang diperangi oleh semua Agama. Karena itu Agama tidak bisa di jadikan tempat berlindung para koruptor”.

Maka dengan demikian untuk melawan perilaku korupsi tersebut diperlukan kesungguhan dengan mengerahkan seluruh kemampuan untuk meberantas korupsi, salah satunya adalah dengan mendukung Lembaga Negara (KPK) dalam menuntaskan proses hukum. Selain itu juga, mari kita bersama-sama untuk menjauhi sikap Permisif (Upaya membolehkan/mendukung) terhadap upaya-upaya korupsi apapun itu bentuk dan dalilnya sebagaimana kesepakatan para ulama bahwa melawan korupsi adalah Jihad Fi Sabilillah.  

Wallohu A’lam ….

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin