Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!!
banner 728x90

Silaturahmi Alumni, KH. Ii Abdul Basith: Amar Ma’ruf Harus Berdasarkan Ilmu

 

nahdloh.con~ Tasikmalaya, Peran alumni pesantren sama dengan pesantren tempat di mana asal alumni itu digembleng, berdakwah amar ma’ruf nahyi munkar dengan pola-pola atau cara khas pondok pesantren yaitu dengan pendidikan.

Pesan tersebut disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Sukahideng, KH. Ii Abdul Basith, dalam Silaturahmi Alumni Pesantren, Senin pagi (4/11), di Aula Gedung Kantor MUI Kab. Tasikmalaya. Jl. KH. Ruhiyat no 56 A Cipakat Singaparna.

Dalam pesannya, Kyai Ii menekankan pentingnya berdakwah dengan pendidikan. Mengutif surat Ali ‘Imran Ayat 104, beliau mengatakan, di samping ikhtiar untuk kesejahtera lahir dengan sosial dan ekonomi, juga sejahtera batin itu dengan pendidikan. Dakwah bil Khoir, yaitu dakwah Ilal Islam berupa pendidikan Iman, Islam dan Ihsan.

Masih terkait ayat di atas, beliau menjelaskan Amar ma’ruf, yang diambil dari kata ‘urf yaitu adat istiadat. 

“Yang dimaksud disini adalah ma’ruf syar’i, yaitu lam yunkiruhu syar’u. Bahwa segala sesuatu yang dianggap baik oleh adat istiadat, dan bukan sekedar baik menurut adat, tapi tidak diingkari oleh syara’,” tutur Kyai yang juga Ketua MUI Kab. Tasikmalaya itu.

Amar Ma’ruf bukan sekedar diajak, lanjutnya, namun juga harus diperintahkan. Dengan mencontohkan adat YASINAN di Indonesia dianggap baik dan tidak bertentangan dengan syariat, maka jangan dilarang!, bahkan bukan sekedar baik tapi juga harus diperintahkan; wa’mur bil ma’ruf.

Contoh lain, beliau meneruskan, adalah adat handap asor, cium tangan-lemah lembut. Jangan malah dimusyrikan!, karena dalam Al-Qur’an  wakhfidh janaahaka….., jangan hanya karena beda dengan adat di Arab yang cuek-keras, atau karena tidak cocok dengan ‘urf dari Arab maka berani membidahkan atau memusyrikan!!. 

“Ma’ruf tidak sekedar diukur baik dengan kesamaan ‘urfnya namun kesesuaian dengan syara’nya,” jelasnya

Saya tidak berpendapat, untuk amar ma’ruf hanya sekedar tugas pemerintah, Imam Ghozali pun dalam Ihya-nya berpendapat berdasarkan penelitian, orang yang melakukan Amar ma’ruf, nahi mungkar tidak harus memiliki jabatan, para sahabat, para tabiin pun jalan tanpa menyandang jabatan apapun. papar beliau

Menurut KH. Ii, idealnya yang melakukan Amar ma’ruf nahi mungkar adalah pemerintah, karena yang paling memiliki amar adalah Ulil Amri dan yang memilik nahi juga ulil amri. Namun beliau membolehkan siapapun untuk melakukannya dengan catatan.

“Melihat contoh para sahabat dan tabiin, pribadi pribadi pun bebas melakukan Amar ma’ruf nahi mungkar tetapi harus berdasarkan ilmu. Karena jika tidak menggunakan ilmu, maka kemungkaran akan bertambah besar.” tandasnya.

Dalam silaturahmi tersebut, selain membahas  peran strategis alumni melalui wadah IKHLAS (Ikatan keluarga lintas harmonis lintas alumni sukahideng), juga sekaligus sosialisasi undang undang no 18 tahun 2019 tentang pesantren. (cp)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: