Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!!
banner 728x90

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN KH. R. AS’AD SYAMSUL ARIFIN PAHLAWAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Nama 

KH. R. As’ad Syamsul Arifin

Tempat, Tanggal Lahir 

Makkah, 1897

Tempat, Tanggal Wafat

Situbondo, 4 Agustus 1990 M / 13 Muharram 1411 H

Pendidikan                              :

  1. Pondok Pesantren Banyuanyar Madura, dibawa bimbingan Kiyai Haji Abdul Majid dan Kiyai Haji Abdul Hamid,
  2. MAdrasah Sholatiyah Makkah,
  3. Belajar Ilmu Nahwu dan Bahasa Arab berguru kepada Syaikh Hasan al-Massad,
  4. Belajar Tauhid dan Fiqih kepada Syaikh Muhammad Amin al-Kutby,
  5. Belajar Bahasa Arab kepada Sayyid Hasan al-Yamani,
  6. Belajar Ilmu Tasawuf kepada Sayyid Abbas al-Maliki,
  7. Belajar Tafsir kepada Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki,
  8. Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dibawa bimbingan Kiyai Haji Nawawi,
  9. Pondok Pesantren Buduran Panji Sidoarjo dibawa bimbingan Kiyai Haji Khozin,
  10. Pondok Pesantren Demangan Bangkalan dibawah bimbingan Kiyai Haji Moch. Kholil bin Abdul Latif,
  11. Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dibawa asuhan Kiyai Haji Hasyim Asy’ari.
baca: KH. R. As’ad Syamsul Arifin Digelari Pahlawan Nasional

Riwayat Perjuangan Secara Kronologis :

Peran Pra Kemerdekaan “Kiyai As’ad Menanamkan Cinta Tanah Air dan Semangat Jihad melalui Pesantren dan Barisan Kerakyatan”

  1. Kiyai As’ad bersama sang aba, Kiyai Syamsul Arifin, menanamkan nilai-nilai cinta tanah air kepada para santri dan masyarakat melalui pendirian dan pengembangan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo (1914),
  2. Kiyai As’ad menanamkan semangat perjuangan dan dakwah Islamiyah melalui barisan pelopor (sekitar 1920-an). Pelopor merupakan wadah bekas bajingan yang dibina Pondok Pesantren Sukorejo untuk dakwah dan perjuangan,
  3. Menanamkan semangat jihad bersama ulama Nahdlatul Ulama (NU) membentuk Sabilillah dan Hizbullah. Setelah terbentuk Hizbullah dan sabilillah, para pelopor mendorong agar orang-orang di daerahnya masuk Lasykar Hizbullah dan Sabilillah. Kiyai As’ad menjadi komandan Lasykar Sabilillah di Karesidenan Besuki (1943).
baca: Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (Sejarah yang terlupakan)

Peran dalam Mempertahankan Kemerdekaan : Kiyai As’ad menempatkan Pesantren Sukorejo sebagai Pusat Perjuangan dan Kawasan Suci

  1. Pondok Sukorejo mengadakan pelatihan Mubalighin oleh PWNU dan PBNU. Materinya tentang Kebangsaan dan baris-berbaris (1945). Narasumbernya antara lain, KH. Wahab Hasbullah (PBNU) dan KH Masykur (Komandan Sabilillah Pusat). Peserta para Lasykar Hizbullah dan Sabilillah,
  2. Memimpin pelucutan pasukan Jepang di Garahan Jember (September – Awal Oktober 1945). Jepang berhasil dilucuti dan diusir,
  3. Membantu pertempuran 10 November di Surabaya (November 1945). Mendengar pertempuran di Surabaya yang begitu dahsyat lalu Kiyai As’ad mengirim anggota Pelopor dan Pasukan Sabilillah Situbondo ke daerah Tanjung Perak kemudian bertempur hebat di Jembatan Merah. Begitu pula, pengikut Kiyai As’ad yang berasal dari Bondowoso, langsung menuju Tanjung Perak kemudian terlibat kontak senjata dengan Belanda di Jembatan Merah. Di sini Kiyai As’ad aktif memimpin. Dalam pertempuran Surabaya, Kiyai As’ad bermarkas di rumah Kiyai Yasin, Blauran IV/25. Rumah Kiyai Yasin ini, memang menjadi markas para Kiyai yang mempunyai ilmu kanuragan tingkat tinggi. Misalnya Kiyai Gufron, Kiyai Ridwan, Kiyai Ali, Kiyai Muhammad Sedayu, Kiyai Maksum, Kiyai Mahrus Ali Kediri dan beberapa kiyai lainnya,
  4. Memimpin perang Gerilya Karesidenan Besuki (1945-1949), antara lain :
  5. Mencuri senjata di Gudang Mesiu Dabasah Bondowoso (Ramadhan 1366 H, Akhir Juli 1947). Kiyai As’ad bersama anggota pelopor mencuri senjata di Dabasah. Kemudian terlibat perang di beberapa daerah di Bondowoso,
  6. Belanda menyerang pertama kali ke Pondok Sukorejo (Oktober 1947). Agresi I Belanda ke Pesantren Sukorejo. Namun ketika masuk pesantren, Belanda sudah tidak menjumpai para pejuang, karena mereka sudah meninggalkan Pondok Pesantren. Pemimpin Pasukan Belanda menjadikan Sukorejo sebagai “Daerah Suci” (heillige zone) yang merupakan kawasan terlarang bagi pasukan Belanda. Maksudnya pasukan Belanda dilarang keras untuk memasuki daerah tersebut, walaupun untuk menangkap para tokoh Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Kiya As’ad menjadikan Ukaorejo sebagai pusat pejuangan. Banyak ulama dan pejuang dari daerah Karesiden Besuki, Probolinggo dan Madura yang mengungsi ke Sukorejo. Menurut Kiyai As’ad, sekitar sepuluh ribu pejuang yang berada di Sukorejo. Tiap hari, Kiyai As’ad menyembelih dua ekor sapi untuk lauk pauk para pejuang dan menghabiskan 480 ekor sapi,
  7. Belanda menyerang kedua kali ke Sukorejo (November 1948). Pasukan Belanda dibantu Cakra menyerang Pesantren Sukorejo untuk kedua kalinya. Pasukan Cakra menggeledah asrama santri dan merampok beberapa barang milik santri. Belanda menyerang ke Sukorejo lagi karena pada tanggal 16 November 1948, Van Der Plas menggelar Konferensi Dewan Kabupaten yang diikuti “Perwakilan Rakyat” se-Jawa Timur di Bondowoso yang akan membentuk Negara jawa Timur. Sebelumnya, untuk menghindari penyusupan gerilyawan, Belanda menggelar pembersihan total di beberapa daerak Karesidenan Besuki.
baca: Mengenang Para Pahlawan Jawa Barat

Peran dalam mengisi Kemerdekaan : Kiyai As’ad Mempraktikan Politik Kebangsaan dan Kenegaraan :

  1. Mencoba terjun ke politik praktis, sebagai anggota konstituante partai NU (1957-1959),
  2. Politik Kebangsaan dan tokoh dibalik layar :
  3. Penasihat Pribadi Wakil Perdana Menteri KH Idham Khalid (1956-1957) dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo,
  4. Penasihat Subhan ZE (politisi muda NU),
  5. Penasihat beberapa pengurus dan politisi NU.
  6. Ikut membentuk MUI pada tahun 1975,
  7. Sebagai mediator umat dan umara, pada tahun 1982 Kiyai As’ad menghadap Presiden Soeharto untuk menyampaikan keresahan umat soal Buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Dalam buku PMP yang diajarkan di sekolah disebutkan. Bahwa semua agama pada hakikatnya sama baiknya atau sama benarnya. Kalimat inilah yang membuat kalangan umat islam resah begitu juga warga Nahdliyin. Tanpa banyak bicara Kiyai As’ad mendatangi Presiden Soeharto. Kiyai As’ad mengharap, supaya Presiden Soeharto kelak menjadi husnul khotimah. Kiyai As’ad pun memaparkan bahwa umat islam sekarang sedang resah karena merusak akidah. Beberapa waktu kemudian, buku tersebut mengalami revisi dengan redaksi : Bahwa semua agama pada hakikatnya sama baiknya menurut keyakinan pemeluk agama masing-masing,
  8. Peneguhan Asas Tunggal Pancasila melalui Munas dan Muktamar NU (1983-1984). Kiyai As’ad menjadi aktor utama dibalik penerimaan asas tunggal Pancasila. Di samping itu, Kiyai As’ad juga sebagai tuan rumah Munas dan Muktamar,
  9. Mengembalikan Pesantren ke-Khittah-nya :
  10. Mendirikan perguruan tinggi, Universitas Nahdlatul Ulama Ibrahimy (UNNIB) pada tahun 1968,
  11. Mendirikan “Sekolah Umum” (SD, SMP, SMA, SMEA) : ingin menyantrikan siswa, mewajibkan siswa sekolah umum merangkap madrasah diniyah,
  12. Mendirikan Lembaga Kader Ahli Fiqh atau Ma’had Aly li al-‘Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh atau yang popular disebut Ma’had Aly (21 Juni 1990)….(Ag)**
Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: