Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Pusaka KH. A Wahab Muhsin dalam Konteks Covid-19 - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Pusaka KH. A Wahab Muhsin dalam Konteks Covid-19

Almagfurlah KH. A. Wahab Muhsin (Tengah) bersama Almagfurlah KH. Sihabuddin Muhsin (Kanan) dan Almagfurlah KH. Fuad Muhsin (Kiri)

Oleh Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi

KHA Wahab Muhsin (1924 M – 2000 M) kiai karismatik dari Sukahideng Tasikmalaya, memimpin Pondok Pesantren Sukahideng Sukarame Tasikmalaya sejak tahun 1945 hingga tahun 2000. Pesantren yang didirikan ayahandanya KHZ Muhsin pada tahun 1922. Pesantren ini sekarang dipimpin putera sulungnya, Prof.Dr.KH Fuad Wahab. Keilmuan KHA Wahab Muhsin sangat diakui para ajengan di tatar Tasikmalaya, terutama dalam bidang Balāgah dan Uşul Fiqh. Beliau pernah memberi kuliah di Perguruan Tinggi Islam Ponpes al-Musadaddiyah Garut dan Institut Agama Islam Cipasung Tasikmlaya dalam kedua bidang keilmuan di atas.

Tidak ada satu informasi pun dalam buku sejarah yang menceritakan keterlibatan almaghfurlah dalam perjuangan revolusi, karena ketawadluan yang melandasi kehidupannya, beliau tidak mau dikultus dan dipuja sebagai seorang pahlawan. Hanya saja, almarhumah Hj Siti Şofiyah (isteri almaghfurlah) pernah bercerita di depan putera-puteri dan cucu-cucunya, bahwa abah (panggilan untuk KHA Wahab Muhsin) pada zaman perlawanan KHZ Musthofa beserta para santrinya di pesantren Sukamanah terhadap tirani Jepang — (dan abah adalah salah seorang santrinya yang telah dimukimkan ke Sukahideng)–, abah pergi ke medan tempur bersama KH Ma’mur (Pimpinan Ponpes Al Ma’mur Rancabolang yang masih termasuk murid KHZ Musthafa). KH Mamur gugur sebagai salahseorang syuhada, sedangkan abah tertangkap tentara Jepang dan dijebloskan ke penjara Kota Tasikmalaya, dan diperlakukan sebagai seorang seorang yang berontak kepada Jepang. Selama di dalam penjara beliau sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, antara lain, kepala abah pernah dipakai untuk memadamkan api rokok salah seorang sipir penjara, mata beliau dikucuri air kencing yang dicampur dengan kapur, bahkan di punggung beliau masih ada bekas luka penyiksaan di penjara Jepang tersebut. Kisah ini tidak pernah keluar langsung dari ucapan beliau baik sewaktu pengajian, perkuliahan ataupun di tempat lainnya.

Ibu Hj. Ai Maemunah, puteri kedua almaghfurlah, mengisahkan pengalamannya sewaktu kecil, ia sering disuruh beliau memijitnya. Sewaktu memijit terlihat di punggung abah ada dua bentuk lebam seperti bekas pukulan benda keras. Ia pun bertanya:

“Abah bekas apa di punggung ini?”
“Itu, sewaktu abah di Sukamiskin.” Demikian jawaban almaghfurlah singkat. tanpa menceritakan apa sebenarnya yang terjadi di Sukamiskin itu.

Dalam bidang organisasi beliau pernah menduduki jabatan Rais Syuriah NU Cabang Tasikmalaya dan Ketua Umum MUI Kab. Tasikmalaya. Di antara fatwanya yang monumental adalah tentang KB (Keluarga Berencana) yang pada waktu itu dilaksanakan secara paksa. Jika ada warga Tasik yang enggan melaksanakan KB maka yang bersangkutan harus berhadapan dengan yang berwajib. Sehingga muncullah kegelisahan umat Islam terutama di pedesaan.

Dalam kondisi seperti itu, muncullah fatwa tentang KB. Bahwa KB itu bi manzalah al-dawā (sama kedudukannya dengan obat). Hanya orang sakitlah yang memerlukan obat, sedangkan orang sehat tidak membutuhkannya. Orang miskin dalam ekonomi dan dalam pendidikan digolongkan sebagai “orang sakit”, bagi mereka dianjurkan ikut program KB, sedangkan orang kaya, alim, terpandang dan terpelajar tidak dianjurkan untuk ikut program KB, karena kelompok ini termasuk golongan “orang sehat”. Fatwa ini sangat memukul kebijakan pemerintahan Orde Baru yang kala itu tampaknya sedang mengejar target.

Relasi dengan santrinya sangat akrab sekali, sehingga beliau memosisikan diri di depan para santrinya sebagai kakak mereka, beliau biasa dipanggil akang (artinya kakak atau abang), bukan mama atau pak ajengan sebagaimana panggilan yang lazim dipakai di tatar Priangan Timur. Namun lambat laun, sesuai dengan pekembangan jaman para santri akhirnya memanggilnya bapak atau pak ajengan.

Dalam proses pembelajaran di pesantren beliau sering mengajarkan nadhoman-nadhoman (lagu-lagu religius) yang beripa bait-bait terjemahan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Sunda, agar mudah difahami oleh santri terutama masyarakat yang membutuhkan bimbingan sambil dinyanyikan, supaya disenangi dan mudah dihafal. Tampaknya beliau mempunyai aliran darah seni. Konon lagu Indonesia Raya pun pernah diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Di samping itu, beliau sering memberikan nasihat dan doa-doa yang seyogyanya diamalkan oleh para santrinya, terutama setelah melaksanakan shalat wajib. Kumpulan doa atau wirid ini saya namai Pusaka. Dinamai Pusaka karena termasuk peninggalan yang harus dipelihara keberadaannya dan dilestarikan. Setelah dipelajari secara mendalam ternyata Pusaka ini mengandung informasi yang sangat luas, bisa dijadikan pedoman dan motivasi untuk menghadapi berbagai keadaan termasuk dalam menghadapi virus corona yang sedang mewabah sekarang ini.

Pusaka pertama : “ hasbunallāh wa ni’mal wakīl ” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).

Wirid ini diambil dari surah Ali Imran: 173 yang erat kaitannya dengan Perang Badar. Syaikh Al Imām al -‘Ãrif rahimahullāh berkata bahwa Rasulullah saw memberi isyarat kepada para sahabatnya agar mereka rujuk (kembali) pada Allah swt, bersandar pada-Nya, sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari-Nya. … Frasa “ hasbunallāh ” adalah tanda bahwa hamba benar-benar membutuhkan Allah. Tidak ada keselamatan kecuali dari dan dengan pertolongan Allah. Tidak ada tempat berlari kecuali hanya pada Allah.

Ayat ini berhubungan dengan kisah Abu Sufyan, panglima perang kaum musyrikin Mekah dan tentaranya yang sudah kembali dari perang Uhud. Sesampai di suatu tempat bernama Ruha, mereka menyesal dan bermaksud melanjutkan perang, lalu Abu Sufyan menyuruh Nu’aim bin Mas’ud dan kawan-kawannya pergi ke Madinah untuk menakut-nakuti kaum muslimin dengan menyebarkan kabar bohong, bahwa musuh telah menghimpun kekuatan baru, sebagaimana tercantum pada awal ayat Ali Imran: 173, akan tetapi para mujahidin tidak merasa gentar karena berita itu, bahkan mereka bertambah-tambah keimanannya, lalu mereka berkata: “ hasbunallāh wa ni’mal wakīl ” Maka (setelah itu) mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (Ali Imran: 174).

Pusaka ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
إذا وقعتم في الأمر العظيم فقولوا: حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Jika kamu jatuh ke dalam masalah besar, ucapkanlah : “ hasbunallāh wa ni’mal wakīl ”.

Doa ini sangat kontekstual sekali dengan kondisi sekarang ini. Informasi tentang corona sudah tersebar di berbagai massmedia, diantaranya ada yang faktual, tetapi tidak sedikit pula yang hoax. Informasi tentang dahsyatnya penyebaran corona, dahsyatnya daya bunuhnya, serta informasi lainnya yang sangat meresahkan dan menakutkan, tidak jauh berbeda dengan informasi dan issu yang disebarkan Abu Sufyan sebelum perang Badar, maka seyogyanya umat Islam menghadapinya dengan bertawakkal dan menyerahkan semuanya kepada Allah dengan banyak melafalkan “ hasbunallāh wa ni’mal wakīl”, sudah barang tentu dengan dibarengi ikhtiar yang optimal, in syaa Allah di suatu saat kita juga akan mendapatkan nikmat dan karunia yang amat besar dari Allah SWT. yaitu lenyapnya corona, sebagaimana Allah SWT anugerahkan nikmat dan karunia kepada mujahidin perang Badar.

Pusaka kedua: “ lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn ” (tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim).

Wirid ini diambil dari al-Anbiya: 87. Dalam tafsir al-Wajīz disebutkan bahwa ayat ini berhubungan erat dengan kisah nabi Yunus as yang pergi dan marah meninggalkan kaumnya, padahal Allah SWT belum mengizinkannya. Yunus as pergi bersama beberapa orang menaiki perahu dan ketika datang ombak yang besar, mereka pun khawatir akan tenggelam, maka mereka melakukan undian untuk melempar salah seorang di antara mereka ke laut agar beban perahu semakin ringan, ternyata hasil undian tertuju kepada Yunus as, tapi mereka enggan melemparkannya, maka mereka mengulangi lagi, dan ternyata tertuju lagi kepada Yunus as, namun mereka tetap enggan melemparkannya, maka dilakukan undian sekali lagi dan ternyata hasil undian tetap jatuh kepada Yunus as, maka Yunus as pun berdiri dan melepas pakaiannya lalu melemparkan dirinya ke laut.

Allah swt telah mengirimkan ikan besar untuk menelan Yunus as. Allah perintahkan kepada ikan itu agar tidak memakan dagingnya dan tidak meremukkan tulangnya, karena Yunus as bukanlah makanannya, perut ikan hanyalah sebagai penjara baginya. Ada yang berpendapat, bahwa Yunus as. tinggal dalam perut ikan selama 40 hari. Ketika ia mendengar ucapan tasbih dari batu kerikil di sekitarnya, maka ia pun mengucapkan, “ lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn ” . Ia mengakui hanya Allah yang berhak diibadahi dan hanya Allah yang berhak disucikan dari segala aib dan kekurangan. Ia pun mengakui kezaliman dirinya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari Kiamat. Kemudian Kami (Allah swt) lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuknya sebatang pohon dari jenis labu.” (Aş- Şāffāt: 143-146). Setelah Yunus as ikrar, bahwa tidak ada tuhan melainkan hanya Allah, mensucikan-Nya dan mengakui atas kesalahannya. Lalu Allah SWT mengabulkan doanya.

Fastajabnā lahụ wa najjaināhu minal-gamm, wa każālika nunjil-mu`minīn
“Maka Kami (Allah) telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami (Allah) selamatkan orang-orang yang beriman”(al-Anbiya: 88)

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Yunus as diatas, bahwa -khususnya- dalam konteks sekarang ini umat Islam harus senantiasa meyakini bahwa tidak ada yang patut dimintai pertolongan melainkan hanya Allah SWT. Disamping itu umat Islam perlu sering introspeksi bahwa boleh jadi wabah yang merebak ini karena kita telah banyak melakukan dosa dan kesalahan, maka kita perlu mengakui keslahan- kesalahan itu lalu memohon pengampunan-Nya – lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn . Semoga Allah swt segera mengabulkan permohonan kita dan menyelematkan dari kedukaan ini, sebagaimana Allah swt telah mengabulkan do’a nabi Yunus as. Amien.

Pusaka ketiga: “ annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn”. (sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang).

Wirid ini diambil dari surah al-Anbiya: 83. Dalam tafsir al-Wajīz disebutkan: Allah SWT menguji Ayyub as dengan pemyalit kulit yang buruk dan menjijikan. Selama menderita penyakit (18 tahun) Ayub as mengasingkan diri (karantina mandiri). Anak-anaknya wafat, seluruh hartanya binasa dan seluruh manusia (selain isterinya) menjauhinya, namun Allah mendapatkannya dalam keadaan sabar dan ridha terhadap musibah itu. Yunus as berdoa kepada Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas. Beliau bertawassul kepada Allah dengan keadaannya yang begitu parah dan dengan rahmat Allah yang sangat luas: maka Allah mengabulkan doanya dan berfirman kepadanya:
(Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah) al-Anbiya: 84

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Ayub as, khususnya dalam konteks covid-19, antara lain ia mengajarkan kebesaran hati dan kesadaran diri melakukan karantina mandiri, karena dengan karantina penyakit tidak akan menyebar kepada orang lain. Ia sadar penyakitnya menular dan membahayakan orang lain. Ia memilih jalan sunyi, mengisolasi diri, agar tak mengganggu kenyamanan orang lain. Lalu ia mengadu dan berdoa hanya kepada Allah, bukan mengadu pada makhluk.

Ia sebutkan apa yang menjadi kesusahannya, lalu menyebut asma Allah atau nama-nama-Nya yang baik (al-asma al-husna) sesuai dengan konteks do’a. Maka di musim wabah corona yang membawa korban cukup banyak dan memporakporandakan perekonomian ini, mari kita melakukan karantina mandiri, bagi orang yang sehat bisa menjaga diri agar tidak ditulari orang lain, bagi yang kebetulan sakit, maka penyakitnya tidak akan menularkan kepada orang lain. Mari kita menengadah berdoa memohon hanya kepada Allah, Mahapengasih, Mahapenyayang, dan Mahapenyembuh agar segera menghilangkan corona, khususnya dari muka bumi Indonesia ini. Semoga Allah SWT mengabulkan doa kita, sebagaimana Allah SWT telah mengabulkan doa nabi Ayub as.

Pusaka keempat: wa ufawwiḍu amrī ilallāh, innallāha baṣīrum bil-‘ibād (Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya).

Wirid ini diambil dari surah Ghafir: 44. Penyerahan segala urusan kepada Allah SWT semata. adalah sejalan konsep tawakkal yang banyak sekali disebutkan dalam Alquran. Rasulullah SAW telah memberi contoh bagaimana tawakkal yang benar sewaktu menjawab pertanyaan seorang sahabat kepadanya: Ya Rasulallah apakah hewan ini ditambatkan dulu lalu bertawakkal atau hewan itu dilepaskan lalu saya bertawakkal? Rasulullah saw menjawab: tambatkanlah hewan itu setelah itu bertawakallah. (HR al-Tutmudzi/ Shahih Sunan al-Turmudzi II/610).

Dalam konteks covid-19 ini, agar umat Islam terhindar dari wabah corona, terlebih dahulu diharuskan melaksanakan seluruh protokol kesehatan yang dianjurkan oleh dokter, paramedis dan pemerintah. Kalau itu semua sudah dilaksanakan maka serahkanlah semua urusan covid-19 itu kepada Allah SWT. Perlu disadari bersama bahwa berikhtiyar sama seperti tawakkal kepada Allah SWT, keduanya diperintahkan agama. Semoga Allah swt berkenan menerima ikhtiyar kita dan mengabulkan segala doa kita.

Pusaka kelima : surah al-Insyirāh atau Alam Nasyrah ` . Surah Alquran no. 94

Surah al-Insyirāh terdiri dari 8 ayat, surah yang menegaskan tentang nikmat-nikmat Allah SWT yang diberikan pada Nabi Muhammad SAW. dan umatnya, serta pernyataan bahwa kesukaran itu satu paket dengan kemudahan. Di dalam surah ini mengandung ibrah (pelajaran) yang bisa diambil, salah satunya adalah bahwa setiap orang pasti mengalami kesulitan, dan setiap kesulitan pasti satu paket dengan kemudahan. Di sini manusia dididik Alquran untuk meneladani akhlaq Rasul saw perihal sikapnya yang optimisme dalam menyelesaikan berbagai ujian, rintangan dan cobaan kehidupan.

Kata al-‘usr (kesulitan) yang disebutkan sebanyak dua kali dalam bentuk definitive (baca: ma’rifah ). Walaupun disebut dua kali, tapi dalam pemaknaannya hanya dihitung satu kali kesulitan. Sementara itu, kata yusr (kemudahan) dideskripsikan dengan indefinite article (baca: nakirah) yang mengindikasikan makna kemudahan lebih dari satu kali. Maka makna yang terkandungnya adalah, bahwa ada satu kesulitan disusul dengan dua kemudahan. Menurut Ibnu ‘ Āsyűr penggunaan kata ma’a dalam kalimat inna ma’al-‘usri yusro mengandung makna betapa dekatnya jarak antara kesusaahan dan kemudahan.

Dalam kondisi covid-19 ini sudah barang tentu banyak sekali kesulitan yang dialami seluruh manusia, keterbatasan bersoaialisasi, keterbatasan berusaha, penurunan pendapatan, serta senantiasa dihantui rasa ketakutan dan kecemasan. Maka marilah kita perbanyak membaca surah al-Insyirāh, semoga sesuai dengan isi kandungan surat itu, Allah SWT segera mengganti kesusahan/kesulitan ini dengan berbagai kemudahan yaitu antara lain hilangnya wabah corona, sehingga kita semua dapat beraktifitas sebagaimana biasanya.

Namun perlu diperhatikan bunyi penutup surat ini
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,” (7) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (8)

Namun, nanti begitu segala urusan yang berhubungan dengan Corona ini selesai, marilah kita mengerjakan pekerjaan lainnya yang lebih produktif, bermanfaat dengan memperhatikan aturan kesehatan, lingkungan, dan aturan- aturan Pemerintah, serta hanya kepada Allah SWT kita berdoa dan berharap.

senayanpost

Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi Lc, M.Ag,
(Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.)
Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
%d blogger menyukai ini: