Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!!
banner 728x90

Pluralisme Menurut Barat, Gus Dur dan Kiyai Ii Abdul Basith

nahdloh.com

Pluralisme menurut Barat
“Semua agama benar karena semua dedikasi dan komitmen agama ialah kepada Tuhan dan perdamaian”. (Barat membuat definisi tersebut dalam rangka melawan atheisme dan radikalisme). Apalagi setelah post modernisme menemukan hikmah agama juga “efek” buruk dari agama: radikalisme.

Gus Dur
“Semua agama benar”. Bunyi definisinya sama dengan definisi Barat, tapi definisi historisnya berbeda. Gus Dur menggunakan pluralisme dengan dua alasan yang dibenarkan oleh Qur’an.

Pertama: dalam perspektif orthodoxi historis (asal muasal agama), terutama agama Samawi. Semua agama Samawi benar ketika punya ortodoxi (keaslian) kuat memegang teguh ajaran para Nabinya, yaitu Tauhid dan Syari’at. Yakni Yahudinya Musa As, Nasraninya Isa As, Kong Futsunya Lao Tse As, dan Islamnya Muhamad Saw.
Dalam hal ini Gus Dur menggunakan pluralisme dengan dasar-dasar filosofi sufisme Ibnu Arabi.

Kedua: Gus Dur menggunakan ide “pluralisme” yang dimaksudkan dan didefinisikan Barat sekarang yang sangat memerlukan kritik, ialah sebagai “taktik membendung kristenisasi”. Para Pendeta dan Misionaris percaya, bahwa semua agama benar. Efek samping berpikirnya ialah: mereka tak perlu melakukan kristenisasi karena semua agama sudah benar: Islam benar. Kristen benar. Dll. Itu siasat Gus Dur yang hanya bisa ditebak oleh pemikiran penuh tafakur. Faktanya, di era reformasi yang serba bebas, ide pluralisme telah membendung semangat kristenisasi di Indonesia ketika Gus Dur masih ada. Gus Dur pulang, kristenisasi kembali merajalela…

Kiyai Ii Abdul Basith

“Pluralisme dimaknai sebagai fakta keberagaman, perbedaan agama-agama, yang semuanya sebagai kehendak Tuhan.” Dasar pemikirannya ialah mazhab Sunni yang meyakini semua taqdir berasal dari Alloh; baik atau pun buruk, iman atau pun kufur.

Al-Qur’an menyatakan (Hud: 118) dan ayat ayat lain yang senada:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ

“Seandainya Tuhanmu berkehendak, niscaya Ia menjadi manusia sebagai satu umat.”

“Seandainya”. Dengan menggunakan لو, adalah mustahil. Seandainya Alloh menghendaki semua manusia menjadi satu umat, satu agama, pastilah hanya akan ada satu umat dan satu agama.

Namun kehendak Alloh tidak demikian, realitasnya dijadikannya manusia ada yang kufur ada yang iman. Ini realitas. Dan ini hakekat. Dalam hal ini hadir “inklusfitas” beragama. Namun kita tetap ditungtut hanya memeluk Islam. Karena hanya tinggal Islam yang masih membawa orthodoxi para Nabi sejak Adam As, Ibrahim As, hingga Muhamad Saw.

Gus Dur menggunakan pendekatan ortodoksi historis tentang orsinilitas agama-agama yang asli yg diemban oleh para Nabi. Ia menggunakannya saat ini, diantaranya sebagai taktik membendung kristenisasi.
Sedangkan Kiyai Ii Abdul Basith, dasar filosofisnya ialah realitas taqdir, dan bahkan manshus dalam al Qur’an sendiri…

Wallohualam

oleh: Ii Ruhimta

(Lakpesdam Jawa Barat)

Tags: ,
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: