Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! MENGAPA FATWA MUI dan FATWA ULAMA AL AZHAR DITOLAK SEBAGIAN UMAT DI INDONESIA?? - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

MENGAPA FATWA MUI dan FATWA ULAMA AL AZHAR DITOLAK SEBAGIAN UMAT DI INDONESIA??

Ilustrasi Shalat Berjamaah (kompas.com)

nahdloh.com

Selama ini ceramah dan pengajian-pengajian di Majlis Taklim dan Masjid, selalu diisi dengan nasihat, dan motivasi ibadah sekencang-kencangnya. Dan tak jarang komedi-komedi sebagai bumbu. Saya pikir sah saja asal tidak berlebihan. Walau pun ada hadits dha’if yg memperingatkan larangan tertawa di Masjid riwayat al Dailami:

الضحك في المسجد ظلمة في القبر

“Tertawa di Masjid itu menjadikan kegelapan di kuburan.”

Bisa jadi selama ini ceramah-ceramah berisi show “hiburan” oral sang da’i. Meski harus diakui pula motivasi amal saleh dan ibadah seperti disebutkan tadi.

Namun hampanya umat dari kajian-kajian fiqih (hukum Islam), membuat “laju” semangat ibadah tanpa batasan ilmu. Dengan kata lain: semangat tapi kurang mengingat.

Fenomena ini kita lihat saat fatwa ttg penutupun sementara Masjid, tidak ada berjama’ah di Masjid, tidak ada solat Jum’at (diganti dg solat zuhur di rumah), tidak ada umrah dan haji saat terjadi wabah epidemi (wabah global), banyak sekali ahli ibadah yang gamang, dan tak jarang menolak serta marah: “Mengapa Mesjid ditutup? Takut Alloh? Atau corona?”

Barangkali semangat ceramah ttg akhlaq dan motivasi ibadah merupakan semangat “sufistik” atau tasawwuf. Dan cukup berhasil menggiring jama’ah untuk bertambat hati dengan Masjid, alhamdulillah. Sebuah pencapaian menggembirakan.

Namun berbahaya tanpa semangat mengadakan kajian-kajian hukum Islam (fiqih). Apapun alasannya: seperti tidak suka fiqih karena menghindari ikhtilaf. Padahal ikhtilaf fiqih itu bagian dan kecerdasan umat. Dan damai rukun di tengah-tengah ikhtilaf, sesungguhnya merupakan akhlaq itu sendiri. Ikhtilaf merupakan keniscayaan dalam memahami hukum Islam, karena pleksibititas teks-teks Qur’an dan Sunah yg cocok diaflikasikan di setiap wilayah dan kondisi yg berbeda-beda:

صالح لكل زمان ومكان

“Pas untuk setiap rentang waktu dan wilayah.”

Jauh-jauh berabad lalu Imam Malik mengingatkan bahaya ceramah memotivasi ibadah dan amal solih, tapi hampa dari kajian fiqih, sebagai perbuatan zindiq (intelektual munafiq yg beratribut Islam):

من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ، ومن
تفقه ولم يتصوف فقد تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق

“Barang siapa yang semangat bertasawwuf (beribadah, beramal salih) tanpa disertai ngaji fiqih, maka ia berjalan ke arah zindiq. Dan barang siapa yg semangat mengaji fiqih tanpa bertasawwuf, maka ia berjalan ke arah kefasikan. Dan barangsiapa yg menghimpun antara pengajian fiqih dan tasawwuf, maka ia berada di jalur yg benar.”

Demikian juga Imam Syafi’i mengingatkan:

فقيهاً وصوفياً فكن ليس واحداً *** فإني وحق الله إياك أنصح
فذلك قاسٍ لم يذق قلبه تقى *** وهذا
جهول كيف ذو الجهل

“Jadilah ahli fiqih dan ahli tasawwuf, jangan menyebelah (fiqih saja atau sufi saja). Demi Alloh aku nasihatkan kalian. Nun jauh di sana ada orang yg jiwanya tidak halus (karena jauh dari tasawwuf). Sementara di sini orang bodoh, sebagaimana kebodohannya (semangat ibadah tanpa fiqih).”

Ceramah, tausiyah, di negeri kita kebanyakan berisi materi akhlaq, nahyul munkar dan motivasi ibadah serta amal salih.

Yang kurang ialah “kajian”. Kajian atau mengkaji, mengaji, adalah menganalisa, membahas, menyimpulkan, yg sifatnya lebih ilmiah. Dan memang diperlukan orang-orang yang mampu membaca turast kitab-kitab berbahasa Arab. PR untuk para muballig… 🙏

والله أعلم بالصواب

Oleh: Ii Ruhimta

(Santri Sukahideng Tasikmalaya, penulis LKiS-Pelangi Yogyakarta, pengajar fakultas FEBI UIN Bandung)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
%d blogger menyukai ini: