Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!!
banner 728x90

Islam Tradisional Belum Tentu NU

nahdloh.com

Judul ini saya ambil, karena banyak orang Islam tradisionalis yang tidak sejalan dengan NU, tetapi sering kali mengaku NU, dan mengatur-ngatur. Harusnya NU begini, begitu, dan sering mencaci para ulama NU juga Nahdliyyin. Padahal pengurus NU bukan, banom, lembaga atau lajnah juga bukan.

Memang betul, NU identik dengan tradisi. Hal ini karena sikap keagamaan yang dikembangkan oleh para ulama NU sangat luwes, tidak kaku juga akomodatif.

Dulu, para pengamal tradisi tahlilan, solawatan, selamatan kelahiran anak dll., selalu diidentikkan dengan NU. Ini tidak salah sebetulnya, karena memang warga NU adalah pengamal hal tersebut. Bahkan sejak dulu, tuduhan TBC (tahayul bid’ah dan churafat) selalu disematkan pada NU, sehingga NU melakukan pembelaan terhadap praktik keislaman di nusantara ini, dari dulu sampai sekarang.

Oleh karena tuduhan dan pembelaan itu, sangat wajar jika para pengamal islam aswaja yang memiliki tradisi khas ini, selalu mengidentikkan diri dengan NU. Pun sebaliknya, NU mengklaim mereka sebagai warganya.

Namun, bagi saya, ber-NU bukan hanya melakukan tahlilan saat ada orang meninggal, yasinan dan membaca rotib di malam jumat, memperingati kelahiran nabi dan sebagainya. Tetapi, Ber-NU adalah mengikuti jamiyah, bukan sekedar mengikuti kultur.

Memang ada istilah NU kultur dan NU struktur. Namun, dikotomi tersebut tidak lagi relevan saat ini, di saat NU sudah mulai menata jamiyah menuju organisasi yang modern. Semua warga NU harus ikut struktur. Bukan berarti semua harus jadi pengurus. Tetapi yang mengaku warga NU harus ikut pimpinan NU, menerima segala bentuk keputusan jamiyah, dari mulai hasil muktamar, hasil munas alim ulama dll. Jika ada yang mengaku NU, tetapi menolak kebijakan jam’iyah, apalagi sampai mencaci maki para ulama NU. Menurut saya orang tersebut bukan NU, meski dia pengamal tahlilan.

Sebagai jam’iyah, NU memiliki rambu-rambu yang jelas. NU memiliki Qanun Asasi, AD/ART, ada Mabadi Khairo Ummah, juga berbagai prinsip (dari mulai prinsip keagamaan, sampai berbangsa dan bernegara). Jika orang mengaku NU, maka ia harus mengikuti itu. Karena NU bukan hanya sebutan atau pelabelan terhadap karakteristik atau jenis manusia. Tetapi NU adalah organisasi yang memiliki aturan main yang jelas. Jadi, ber-NU-lah dengan kaffah.

Asep Deden
(Aktifis Muda NU)

Tags: ,
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: