Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Hari Anak Nasional, Orang Tua Harus Berikan Hak Anaknya - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Hari Anak Nasional, Orang Tua Harus Berikan Hak Anaknya

Ilustrasi

Oleh: Ilham Abdul Jabar

“Anak,” apa yang diingat jika dengar kata itu ? Apa terbayang bocah yang sukanya bikin usil, main kesana-kemari susah diatur dan ngabisin uang mulu “uhhh nakal pokonya.”

Kalau gak ada pikiran kesitu, mine set nya berarti baik. Tapi.. kalau pikirannya sama seperti itu, hentikan dulu berpikirnya. Karena perlu diperbaiki kembali.

Kenapa demikian ? Menurut saya hal seperti itu wajar wajar saja, namanya juga anak-anak. Rasulullah saja ketika punggungnya dinaiki Sayidina Hasan dan Sayidina Husein, tidak marah. Justru menegur Sayidina Ali yang melarang mereka seperti itu. Kisah ini masyhur di kitab Tanqih al-Qaul nya Syekh Nawawi.

Fiqih juga tidak langsung memikulkan perintah dan larangan terhadap mereka. Bahkan -setahu saya- fiqih membagi tahapannya menjadi 3; Shoby (anak kecil), mumayyiz (anak yang sudah mandiri) mukallaf (balig). Sungguh dimuliakannya seorang anak, hingga dia mendapatkan posisi setara dengan ibu, yang sama-sama memiliki hari untuk diperingati. Hari ibu ada, kan ? Hari anak ada, kan ? Yang gak ada itu hari ayah hi..

Nah.. kebetulan sekarang Hari Anak Nasional (HAN), yang tahun ini mengusung tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju . Sangat tepat selali tema ini, karena anak sebagai aset yang sangat berharga, baik untuk keluarga maupun bangsa. Contohnya, jika orang dewasa nanya sama teman sebayanya , tidak nanya kekayaan materi, apalagi nanya berapa banyak istri. Mereka pasti nanya “sudah punya anak berapa?” Gitu.

Maka, kita sebagai orang tua atau siapa saja yang sedang mendidik seorang anak, rawat baik-baik mereka, karena kedelai -malika- juga yang dirawat dengan sepenuh hati akan menghasilkan kecap yang bermutu, apalagi manusia. Anak juga mempunyai hak yang harus mereka terima. Sebagai mana Sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Al-Laits As-Samarqandi dari Abu Hurairah radhiyallahu anh ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مِنْ حَقِّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ إِذَا وُلِدَ، وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَ إِذَا عَقَلَ، وَيُزَوِّجَهُ إِذَا أَدْرَكَ

“Di antara hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua ada tiga,; jika anak sudah dilahirkan, memberi nama yang bagus. jika anak sudah baligh, mengajarkan kitab Allah (diajarkan ilmu agama). dan jika anak telah menemukan pasangannya mengawinkannya (agar terhindar dari zina),”

Megenai hadits ini, saya ingin menyuguhkan kutipan hikayat dalam kitab Tanbihul Ghafilin, cet.haramain, Halaman 46.

Diriwayatkan dari sayyidina Umar ra, bahwa seorang ayah datang kepadanya sambil membawa anaknya dan berkata, “Putraku ini durhaka kepadaku.” Kata si ayah. Maka, sayyidina Umar ra berkata kepada anak tersebut, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah, hingga engkau berlaku durhaka kepada orang tuamu?, Sesungguhnya hak kewajiban anak terhadap orang tua begini dan begini (menjelaskan),”

Lalu anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Bukankah seorang anak juga punya hak dari orang tuanya?”
Beliau menjawab, “Benar, hak anak atas orang tua adalah memilihkan ibu yang baik, yakni tidak menikahi seorang wanita rendahan agar anak tidak menjadi orang yang tercela lantaran ibunya. Memberi nama yang bagus dan mengajarkan kitab Allah.(mengajarkan ilmu agama).”

Lantas anak itu berkata, “demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik untukku. Ibuku adalah hamba sahaya jelek yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ayahku pun tidak memberiku nama yang baik, ia memberiku nama ‘Ju’al’ (kelelawar jantan), dan ayahku tidak mengajariku kitab Allah walau satu ayat pun.”

Maka, Amirul mukminin itu menatap ayah anak tersebut dan berkata, “Engkau berkata, ‘anakku ini durhaka kepadaku.’ Sungguh engkau telah mendurhakainya sebelum ia durhaka kepadamu. Enyahlah dari hadapanku.”

Dari hikayat di atas. kita bisa tahu, bahwasanya, first education (pendidikan pertama) seorang anak dari orang tuanya. Bukan itu saja, beri nama anak yang bermakna baik. Jika tidak bisa, tanya sama Kiai, guru, Ajengan. Jangan asal memberi nama. Jika semua itu tidak dilakukan, kalian para orang tua -karena saya belum nikah- sudah mendurhakai anak-anak kalian.

Selamat HAN #AnakPedulidiMasaPandemi

Penulis adalah Guru Kelas Takhosus Pondok Pesantren Al-Hikmah Mugarsari Tasikmalaya

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan