Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!!
banner 728x90

Gus Mus dan Pandu Wijaya Bertemu, Ini Yang Bikin Terharu !

Pandu Wijaya (25) sowan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di kediamannya di Komplek Pesantren Raudlatut Thalibin, Kelurahan Leteh Kecamatan Rembang, Jumat (25/11/2016).

Salah seorang karyawan PT Adhi Karya Tbk meminta maaf atas cuitan nyinyirnya yang mengomentari kicauan Mantan Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada akun Gus Mus, @gusmusgusmu.

Dalam kicauannya, KH Ahmad Mustofa Bisri menuliskan, “Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasullulah SAW baru kali ini ada BID’AH sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran.”

Setelah kicauan itu muncul, pada pukul 18.03 tanggal 23 November 2016, akun @panduwijaya menulis komentar, “Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasulullah hijrah ke madinah. Bid’ah Ndasmu!”

Pandu datang dengan ditemani oleh ibunya serta dua orang kakak laki-lakinya. Pandu yang merupakan warga Kabupaten Probolinggo Jawa Timur ini juga ditemani oleh pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kraksaan, Probolinggo.

Rombongan Pandu tiba sekitar pukul 13.30 dengan menumpang Avanza warna hitam, namun baru ditemui sekitar pukul 16.45 karena ketika datang, Gus Mus sedang beristirahat siang selepas salat jumat.

Kepada para wartawan yang telah menantinya di kediaman Gus Mus, Pandu menyatakan khilaf dan terbawa emosi sesaat sehingga membuat pernyataan yang menyakiti hati warga Nahdlatul Ulama dan Gerakan Pemuda Ansor.

“Sebagai pribadi saya meminta maaf. Ternyata sosok Gus Mus sangat menginspirasi. Begitu arif dan bijaksana. Betul-betul tokoh yang memang patut untuk kita contoh semuanya. Dengan sangat menyesal, saya meminta maaf,” katanya.

Bungsu dari tiga bersaudara ini hanya menyatakan meminta maaf apabila setelah permintaan maafnya secara langsung kepada Gus Mus masih ada yang melaporkannya kepada aparat penegak hukum, termasuk dalam kaitan statusnya sebagai karyawan PT Adhi Karya Tbk.

004487400_1480067855-img-20161125-wa0007

“Saya pribadi mengambil banyak khidmah, semoga PBNU dan GP Ansor membuka jalan untuk saya berubah menjadi lebih baik. Keluarga telah menegur saya. Sekarang saya tulus meminta maaf. (soal status sebagai karyawan) Itu tergantung General Manager saya,” ujarnya.

Sementara itu, pada saat menemui Pandu, Gus Mus tampak lebih banyak memahami pemuda ini. Kiai malah banyak memberikan saran kepada Pandu, antara lain agar tidak terforsir bekerja agar tidak mudah emosi.

“Kalau bekerja, ingat waktu. Ada waktu kita untuk keluarga dan yang lainnya. Sudah nggak usah dipikir (tentang cuitan di twitter dan terbebani meminta maaf). Saya sudah memaafkan,” ujar Gus Mus sambil sesekali mengajak guyonan penuh makna kepada Pandu.

Pada kesempatan itu, Gus Mus juga justru meminta kepada Pandu agar meminta maaf kepada sang ibu, yang karena tingkahnya, keluarganya sendiri menjadi terbebani. Di hadapan para anggota Banser Rembang dan para tamu Gus Mus, Pandu meminta maaf kepada ibunya.

Sebelum Pandu beringsut, selepas magrib, giliran pemilik akun facebook Hasan Albetas, warga Klender Jakarta Timur yang datang juga untuk meminta maaf karena menyebut muka Gus Mus bid’ah.

baca juga: 

Menurut informasi dari pihak keluarga, pemilik akun facebook Wari Maulana warga Bekasi, akan menyusul pula sowan kepada kyai sepuh ini guna meminta maaf.

Sementara itu, sebelumnya, pada Jumat (25/11/2016) pagi, Bahtiar Hari Prasojo, warga Pangkah Kabupaten Tegal yang membuat status nyinyir kepada Gus Mus melalui akun facebooknya, juga datang meminta maaf dengan disampingi sang ayah.

“Saya meminta maaf karena khilaf terbawa suasana. Saya menyesal. Tidak ada yang menyuruh saya. Pelajaran terbesar dari kejadian ini adalah agar saya tidak berlebih-lebihan dalam menyukai dan membenci sesuatu,” ujarnya.

Para personel Banser dan Ansor dari Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang tampak mengamankan lokasi di kawasan Pesantren Raudlatut Thalibin, guna mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

“Mereka yang melecehkan atau menistakan Kiai NU, ditabayunkan oleh Ansor-Banser di daerah masing-masing karena kami menjangkau semua daerah. Setelah ditabayun mereka meminta maaf dan meminta maaf langsung kepada kiai,” ujar Hanies Cholil, Ketua PC GP Ansor Rembang.

020420600_1480132491-1
Komandan Banser Satkorcab Rembang Zaenal Arifin menambahkan, pelajaran dari kejadian ini adalah agar tetap santun dan beradab dalam menggunakan media sosial.
“Kalau sudah menghina atau melecehkan ulama, maka berhadapan dengan kami. Tugas kami adalah menjaga ulama yang merupakan benteng NKRI,” ujarnya.

(spiritnkri.com)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
%d blogger menyukai ini: