Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Generasi Milenial Terancam Faham Radikalisme–Terorisme - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Generasi Milenial Terancam Faham Radikalisme–Terorisme

Sebaik – baiknya generasi adalah gerasi yang berakhlak baik, saling mencintai dan mengasihi sesama makhluk ciptakan Tuhan.

Bonus demografi yang kemudian Indonesia akan didominasi oleh penduduk usia muda atau generasi milenial yang harus menjadi perhatian serius bagi bangsa kita, apakah bisa mendatangkan kemanfaatan ataukah menjadi kemadharatan …?

Generasi milenial dewasa ini telah menjadi sasaran empuk bagi kelompok teroris, salah satu contohnya seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, dua kejadian aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makasar dan aksi teror di Mabes Polri.

Kejadian Ini menjadi ancaman yang serius bukan hanya terhadap ketentraman hidup berbangsa dan bernegara tetapi juga ancaman terhadap karakter generasi milenial yang akan mewariskan peradaban selanjutnya.

Sangat ironis ketika banyak kemungkinan yang terjadi misalnya prilaku teror tersebut malah menjadi trend bagi generasi milenial yang sudah / sedang terpapar faham teror, hal ini mungkin saja sangat bisa terjadi karena sejatinya manusia itu akan selalu menginspirasi manusia yang lainnya.

Mengutip yang di sampaikan oleh Kadensus 99 Banser bahwa ” mereka para pelaku Teror sangat tertutup, diantaranya mereka melakukan berbagai doktrinasi / penyebaran faham nya melalui Media sosial”

Media sosial dijadikan sebagai ruang strategis bagi mereka untuk menyebarkan faham terorisme tersebut. Apalagi generasi milenial sangat berkaitan erat dengan media sosial.

Tidak menutup kemungkinan hal ini pun terjadi kepada usia – usia pelajar baik usia SMP – Mahasiswa, dimana mereka ( Pelajar) pada kondisi ini mempunyai waktu penuh bergaul Dengan media sosial.

Seperti yang di sampaikan oleh Noor Huda (Peneliti Terorisme) bahwa ” mereka para generasi milenial terkadang menjadi korban dari sebuah Proses relasi jender yang di dunia nyata dia tidak mendapatkan banyak alternatif, tidak mendapatkan jadi diri, dan mempunyai masalah individu. Kemudian melalui media sosial dia merasa mendapatkan alternatif yang di cari dan ironis nya alternatif tersebut di sediakan oleh kelompok radikal sehingga dia merasa mendapatkan jati dirinya dan kemudian mengikuti pengajian – pengajian yang salah kaprah”

Pondasi seseorang menjadi pelaku teror dilatarbelakangi pemahaman keagamaan yang salah kaprah.

Mereka di doktrin dengan pemahaman agama yang salah, mereka di doktrin dengan kebencian padahal Agama islam bahkan agama apapun tidak Mengajarkan kebencian, semua agama selalu di dasari dengan kedamaian

Kekerasan pasti dilatarbelakangi dengan kebencian sedangkan kedamaian pasti dilatarbelakangi dengan kasih sayang

Aksi teror itu bisa saja terjadi dimanapun dan kapanpun termasuk di kota Tasikmalaya, Karena mereka mempunyai sel-sel mati yang kapan saja bisa di hidupkan kembali untuk kemudian diledakan.

Sebagaimana banyak hasil survey menyampaikam bahwa kota Tasikmalaya itu adalah kota Intoleran, hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah karena intoleran itu adalah pondasi seseorang menjadi terorisme.

Terorisme ini adalah sikap dari pemahaman yang salah yang tidak sesuai dengan kodrat cara berfikir manusia, maka salah satunya caranya adalah dengan menyampaikan pemahaman yang benar yang sesuai dengan kodrat berfikir manusia

Langkah kongkrit untuk mengantisipasinya adalah melalui keterlibatan banyam pihak baik pemerintah, Aparat, Masyarakat, tokoh Agama, budaya, Ormas, termasuk lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan mulai dari TK Sampai perguruan tinggi bisa menjadi faktor strategis bagi penyelamatan generasi milenial kita, Bagaimana para pengelola pendidikan mengambil langkah preventif dengan menciptakan budaya narasi – narasi positif kemanusiaan, kebangsaan, dan keagamaan.

Hal ini tentu membutuhkan peran pemerintah dalam mengoptimalkan langkah tersebut, karena pemerintah sebagai bagian di dalamnya.

Saya kira apabila seluruh stakeholder di kota tasikmalaya ini, bersama – sama membangun budaya narasi – narasi positif kemanusiaan, kebangsaan dan keagamaan akan tercapai suatu daerah sesuai dengan “Baldatun Toyyibatun Warrobbun Gofur

Generasi milenial adalah generasi yang akan mewariskan peradaban selanjutnya, jangan sampai peradaban yang di wariskan adalah peradaban kebencian dan kekerasan.

Oleh : Ricky Assegaf

(Penulis adalah Ketua PC GP Ansor Kota Tasikmalaya dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Mugarsari)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan