Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Dua Kali Lebaran Masih Pandemi: Bersabar dan Bersyukur - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Dua Kali Lebaran Masih Pandemi: Bersabar dan Bersyukur

Syukur Alhamdulillah kita masih dianugerahkan oleh Allah berbagai nikmat, sehingga mudah – mudahan diberikan kesempatan untuk bisa merasakan dan melaksakan Ibadah shalat Idul Fitri di tahun ini, walau masih dalam situasi dan kondisi pandemi covid 19 yang tak kunjung reda.

Satu bulan penuh kita melaksanakan Ibadah puasa Ramadhan yang diakhiri dengan Zakat fitrah, merupakan kerinduan yang akan kita tahan selama satu tahun kedepan.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang Istimewa, dimana Ibadah sunah yang dilakukan pada bulan Ramadhan memiliki nilai luar biasa dari pada biasanya, sehingga bisa menjadi sulam bagi Ibadah Fardhu kita yang bolong – bolong, dengan demikian semoga kita diberi usia untuk bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang.

Dengan mewabahnya virus Covid 19 ini mengingatkan kita bahwa manusia itu memiliki keterbatasan, yang menunjukan bahwa manusia adalah mahluk yang lemah.

Maka dengan demikian secara tidak langsung kondisi ini mengajarkan kita untuk selalu sabar dan syukur, sehingga perasaan resah, marah, susah, sedih, itu hilang dan diganti dengan ketenangan, kedamaian, kebahagian dan Ridho Allah SWT.

Dalam situasi pandemi ini, tentu kita merasa sangat terbatas melakukan berbagai aktivitas, baik aktivitas sosial maupun peribadahan, tidak seperti biasanya.

Tetapi justru dengan Keterbatasan ini mestinya kita harus mampu menyadari bahwa sejatinya keterbatasan itu adalah manusia itu sendiri atau manusia identik dengan keterbatasan.

Dalam menghadapi berbagai peristiwa yang terjadi, manusia diharuskan untuk berpegang teguh pada ajaran agamanya, termasuk dalam situasi pandemi pada Idul Fitri ini.

القيام بمقتضى الشريعة والوفاء بحق الحقيقة

“Melaksankan tuntutan syariat dan mengambil haq nya hakikat “

Kita dituntut untuk melaksanakan syariat agama diantaranya dengan menjaga diri dari hal – hal yang membahayakan diri sendiri dan mentaati keputusan pemerintah yang sah. Hal ini adalah bentuk menjalankan syariat agama, bentuk ketaatan terhadap aturan agama.

Sedangkan kondisi batin / hati harus selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT, agar bisa menjalankan tuntutan syariat tersebut, diantaranya adalah dengan mematuhi protokol kesehatan bagian dari menjauhi yang membahayakan diri, mentaati aturan pemerintah yang sah dan memperbanyak dzikir serta Ibadah lainnya Kepada Allah SWT.

إياك نعبد وإياك نستعين

“Hanya kepada Allah kami menyembah (Melakukan Penghambaan/Ibadah ) dan hanya kepada Allah kami meminta pertolongan “.

Berkenaan dengan shalat Idul Fitri, beragam situasi yang terjadi di Negeri ini, ada yang bisa dilaksanakan ada pula yang tidak bisa dilaksanakan karena terkait status ancaman virus

Esensi dari Idul Fitri bukan terletak pada shalat Id-nya atau dalam pelaksanaan shalat Id atau tidaknya. Shalat Id itu hukumnya sunah jangan diposisikan sama dengan yang wajib, sehingga ketika pemerintah melarang karena status virusnya, malah memaksa dengan heroik untuk melaksanakan (Shalat Sunah Ied).

Idul Fitri ini adalah salah satu momen untuk mempererat tali silaturahmi, saling membahagiakan, memperkuat hubungan persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa, maka jangan dinodai dengan kebencian dan kekesalan.

Dengan pandemi ini janganlah kita terhalang untuk tetap bersilaturahmi, jika silaturahmi ini tidak bisa dilakukan secara fisik maka bisa dilakukan dengan daring.

Kita memang dianjurkan untuk menjaga jarak fisik dengan membatasi berbagai kegiatan sosial, tidak mudik, tidak bertemu, tetapi jarak sosial tidak boleh renggang, lahir kita boleh berjauhan tetapi batin kita harus tetap berdekatan.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan munculnya Virus ini, yang kemudian teknologi tersebut sangat memberikan manfaat lebih sehingga secara esensi amaliyah dan tradisi Idul Fitri ini tidak terputus. Tidak bisa dibayangkan ketika virus ini muncul sebelum teknologi berkembang seperti sekarang ini, akan banyak amaliyah dan tradisi yang terputus.

Sabar dan syukur adalah kunci menghadapi situasi ini, tidak perlu saling menyalahkan, tidak perlu saling membenarkan, karena sejatinya di bawah langit itu tidak ada yang kebetulan, semuanya atas rekayasa Sang Maha Kuasa.

Ibnu Athoillah menyampaikan :

خيرُ ما تَطْلُبُهُ مِنْهُ ما هُوَ طالِبُهُ مِنْكَ.

“Sebaik-baik permohonan yang engkau ajukan kepada Allah adalah apa yang dituntut Allah untuk engkau lakukan”.

Hal yang dituntut oleh Allah adalah hal yang tidak dijamin oleh Allah termasuk di dalamnya adalah Sabar dan Syukur. Allah menjamin rezeki tetapi Allah tidak menjamin manusia untuk bersabar dan bersyukur.

Demikian sejatinya kita meminta permohonan kepada Allah untuk selalu bisa diberikan kesabaran dan bersyukur atas apa yang sedang kita hadapi.

Oleh: Ricky Assegaf

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan