Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Dari Wabah Covid-19, Tuhan Merindukan Rumah-rumah Syurga - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Dari Wabah Covid-19, Tuhan Merindukan Rumah-rumah Syurga

Oleh Ilham Abdul Jabar

Mulai adanya 2019 akhir, sampai sekarang 2021, virus Covid-19 masih saja tetap eksis di berbagai belahan dunia. Mulai dari perkotaan sampai perkampungan, mulai dari pekerja kantoran sampai yang tidak bekerja sekalipun terkena dampak atas penyebaran virus ini. baik dampak ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Untuk mencegah semua ini berbagai upaya telah pemerintah lakukan, mulai dari beberapa kali melayangkan surat edaran sampai pemberlakuan lock down di sebagian kota dan kabupaten yang diberi tanda zona merah. Penggelontoran dana bantuan Covid-19 pun terus pemerintah upayakan, agar ekonomi masyarakat bisa tetap stabil.

Di sisi lain para Ajengan-ajengan dan Kiai-kiai dari Kampung sampai pemilik pesantren, terus menerus bermunajat dan istighatsah kepada Tuhan agar wabah ini bisa segera berlalu. Di kunut nadzilah, setelah shalat, di pengajian, di  khutbah-khutbah dan di ritual keagamaan yang lainnya mereka selalu menyimpan doa dan harapan kepada Tuhan, agar wabah ini cepat berlalu.

Disamping ikhtiar Pemerintah dan Kiai, agar wabah ini segera berakhir dan masyarakat tidak merasa cemas apalagi ketakutan. Selalu saja ada oknum yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan situasi ini untuk memenuhi hasrat kepentingannya sendiri.

Masyarakat dibuat cemas dengan disajikannya berita-berita hoaks dan provokasi. tidak hanya itu, semua kebijakan pemerintah dijadikan senjata untuk menciptakan suasana ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sehingga apa yang kita lihat di sekitar ? Kesadaran masyarakat atas protokol kesehatan diabaikan, kepercayaan mereka terhadap pemerintah mulai berkurang.

Bahkan yang lebih mirisnya lagi, pemuka agama yang seharusnya memberikan pengertian dan mendinginkan suasana di masyarakat, malah ikut terprovokasi. Dimana-mana suasana seperti ini sudah lumrah terjadi, bangsa ini kenapa? Apa karena masyarakat kita minim membaca, ataukah oknum yang tidak bertanggung jawab terlalu lihai memainkan suasana?

Kebijakan Pemerintah Ditanggapi Buruk

Dalam waktu dekat ini pemerintahan pusat sudah menetap kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Menindak lanjuti hal itu, Mentri Agama (Menag) Republik Indonesia melayangkan dua surat edaran. Pertama, edaran Menteri Agama No SE 16 tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Malam Takbiran, Shalat Idul adha, dan Pelaksanaan Kurban Tahun 1442 H/2021 M di Luar Wilayah PPKM Darurat.

Kedua, edaran Menteri Agama No SE 17 tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di tempat Ibadah, malam takbiran, Shalat Idul adha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kurban Tahun 1442 H/2021 M di Wilayah PPKM Darurat.

Dua surat edaran ini ternyata diterima baik dan dikritisi buruk oleh mereka, bahkan ‘maaf’ sekelas Sekretaris jenderal (Sekjen) Majlis Ulama Indonesia (MUI) saja turut mengritisi keputusan Kemenag. Mulai dari statemen “tempat ibadah tidak baik dikosongkan,” sampai stateman “Tuhan bisa murka tempat ibadah ditutup.” Tidak hanya itu saja, salah satu Ustadz kondang pun ikut mengkritisi surat edaran Menag “dimana letak hati kecil mu,” katanya. Seakan-akan pemerintah melarang masyarakat untuk beribadah, ini sungguh penggiringan opini yang fatal.

Coba buka sejenak jendela mu dan lihat negara lain, seperti Arab Saudi yang sudah menutup lebih dari 700 Masjid. Perlu saya tegaskan, Ini masalah keselamatan bukan masalah melarang masyarakat untuk beribadah.

Kembali Ramaikan Rumah dengan Ayat-ayat Al-Qur’an

agar tidak berlarut-larut dalam kebencian, karena kita yakin bahwa semua yang telah pemerintah tetapkan itu untuk kemaslahatan. Kaidah fiqih mengatakan:

تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة

Kebijakan imam/pemerintah bagi rakyat berdasar maslahah”

Justru dengan diberlakukannya peniadaan sementara peribadatan di tempat ibadah, Tuhan memberi peringatan kepada kita. bahwa rumah kita sudah lami kita jadikan seperti kuburan yang sunyi akan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan sunyi dari gema adzan dan iqamah apalagi pengajian.

Sementara itu Baginda Alam telah berpesan kepada kita untuk tidak menjadikan rumah seperti kuburan. dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Dari Abu Hurairah r.a, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR Muslim)

Bayangkanlah, Sungguh akan menjadi suasana yang indah, jika setiap waktunya di setiap rumah terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an ‘tapi bukan dari HP ya..’ ketika waktu shalat tiba, anak laki-laki di masing-masing rumahnya melantunkan adzan, dan perempuannya membacakan iqamah. Setiap waktunya satu keluarga shalat berjamaah dengan dipimpin seorang ayah yang menjadi kepala keluarga. ‘Jomlo jangan baper’

Doa-doa yang dipanjatkan dari masing-masing rumah akan bersatu dan menembus pintu langit. Mungkin ini hikmah yang tidak kita sadari dari wabah yang Tuhan telah turunkan ke muka bumi ini, Tuhan sudah lama merindukan doa hamba-hamba-Nya yang dipanjatkan dari rumah yang dijadikan Syurga. Hilangkan prasangka buruk kepada siapapun. jadikan rumah yang kita miliki sebagai Syurga, yakinlah kita bisa melewati wabah yang menimpa muka bumi ini.

اللهم اصرف عنا هذا الوباء، وقنا شر الداء، ونجنامن البلاء بلطفك وقدرتك إنك على كل شيء قدير

(Penulis Adalah Guru Kelas Takhosus Pondok Pesantren Al-Hikmah Mugarsari)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan