Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Bagaimana Kebhinekaan Dalam Perspektif Papua? Ini Penjelasannya - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Bagaimana Kebhinekaan Dalam Perspektif Papua? Ini Penjelasannya

nahdloh.com~ Semarang, Suara Dakwah Net menggelar seminar virtual yang bertema “Kebhinekaan Di Tanah Papua”. Dalam Seminar ini dihadirkan Narasumber dari tokoh Pemuda Papua Robert Manaku, Anggota Dewan Papua Fauzun Nihayah dan Tenaga Ahli MPR RI Saiful Arif.

Dalam seminar yang diadakan pada hari Jum’at (19/6/2020) ini, direktur Suara Dakwah Net, Dr. Muhammad Rikza Chamami menjelaskan bahwa forum ini adalah sebuah chanel youtube yang dinakhkodai oleh santri-santri Pondok Pesantren Al-Firdaus YPMI Ngaliyan Semarang.

Terkait dengan diadakannya Seminar ini, Ustadz yang akrab disapa Rikza ini ingin mendiskusikan bagaimana kita menciptakan papua yang damai, yang indah, dan membanggakan Indonesia.

“Saya pernah ke Papua tiga kali, dan saya merindukan keramahan-keramahan warga Papua. Saya juga pernah ke ujung Aceh. Kita memang berbeda, tapi semua itu merupakan keindahan yang seharusnya kita pelihara,” ucap pria yang juga menjadi kepala PPM UIN Walisongo Semarang ini.

Pada seminar yang dipandu oleh dosen FISIP UIN Walisongo, Solihah Mufrihah ini, Robert Manaku, menjelaskan bagaimana perspektif Kebhinekaan orang Papua. 

“Orang papua terdiri dari 250 suku yang terbagi dalam 7 wilayah adat. Meskipun begitu banyak suku, namun orang papua dapat hidup rukun dengan beragam suku lainnya termasuk luar Papua,” ungkap tokoh muda yang menjadi Advokad di Lembaga Bantuan Hukum Talenta.

“Masyarakat Papua memeliki kearifan lokal yang harmoni dalam filsafat hidupnya,” imbuhnya.

Robert Manuku mengatakan, saat ini terdapat ancaman-ancaman yang mengganggu kerukunan di Papua. Tanpa disadari, di Papua sendiri muncul dikotomi antar masyarakat Papua.

“Upaya untuk menghancurkan kerukunan orang Papua terus dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab melalui tangan-tangan tak terlihat,” Ucap pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Yayasan Cendrawasih Semarang yang menghimpun komunitas Papua di Jawa Tengah.

Saat ini, Lanjut Manuku, tanpa disadari orang Papua muncul dikotomi “orang gunung dan orang Pantai”, ada juga Orang Papua Asli dan Non Papua, serta stigma sparatis dan lain-lain. 

“Ini dibangun untuk memecah belah orang Papua dan dengan orang dari luar Papua,” tegasnya.

“Cara untuk mengembalikan kebhinekaan di Papua adalah dengan menegakkan keadilan dan membangun kesetaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” bebernya.

Sementara itu, Fauzun Nihayah yang menjabat sebagai Sekretaris Komisi V DPRD Papua menjelaskan bahwa kehidupan di papua, dari sisi sosial terjadi akukturasi budaya mengingat banyaknya warga yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang datang ke Papua. 

“Masyarakat Papua sangat terbuka dan ramah, seandainya ada berita kerusuhan maka sebenarnya hal itu terjadi karena ada persoalan-persoalan tertentu. Prinsipnya tak ada asap jika tak ada api. Keurukunan antar suku dan antar agama juga sangat kental di sini. Banyak anak-anak muslim yang bersekolah di sekolah mon muslim dan sebaliknya,” ungkap wanita yang sudah sejak tahun 2015 aktif dalam penelitian dan melakukan banyak aksi sosial di Papua.

Wanita yang juga dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta ini juga sangat memprioritaskan program-program untuk Orang Papua.

“Kami sebagai legislator di Papua juga kami memprioritaskan program-program untuk orang asli Papua,” kata kandidat Doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta ini. 

Fauzun mengingatkan bahwa di Papua memiliki banyak tokoh yang berkontribusi bag bangsa dan negara seperti Frans Keisiepo yang membantu Bung Karno dalam perjuangan kemerdekaan serta Gubernur pertama Papua.

“Kita harus melihat bahwa banyak tokoh-tokoh Papua yang berkontribusi pada bangsa ini,” jelasnya. 

Di akhir, Saiful Arif selaku Tenaga Ahli MPR RI memjelaskan filosofi dan sejarah Pancasila. 

“Dalam Kakawin Negarakertagama, jelas Arif, sang raja selalu waspada dan memegang teguh pancasila, berlaku mulia dan menjalankan upacara agama,” bebernya.

“Dalam Kakawin Sutasoma, bagi yang mengikuti Vajrayana, Pancasila harus dipegang teguh jangan sampai dilupakan,” sambungnya.

Mengenai Pengakuan kembali 1 juni sebagai hari lahirnya pancasila, Arif mengatakan bahwa keputusan itu twlah memulihkan kehirmatan Bung Karnk sebagai penggali pancasila. 

“Presiden Joko Widodo telah menghidupkan kembali peringatan hari lagir pancasila setiap 1 Juni dan memulihkan kehormatan Bung Karno sebagai Penggali Pancasila,” pungkasnya.

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
%d blogger menyukai ini: