Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!! Akhlaq Radikal dan Ekstrim Dalam Berdakwah - Suara Nahdliyyin
banner 728x90

Akhlaq Radikal dan Ekstrim Dalam Berdakwah

Ilustrasi Faham Radikalisme

Oleh: Ii Ruhimta

(Dosen FEBI UIN Bandung)

Sejatinya, akhlaq radikal dan ekstrim atas nama agama ini sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pun sudah mengabarkan dalam berbagai haditsnya bahwa gerakan semacam ini akan selalu ada.

Salah satunya hadits-hadits sohih yang menceritakan tentang Dzul Khuwaishirah yang merupakan cikal bakal atau genetika terorisme dan radikalisme. Nabi Muhamad Saw mewaspadakan dalam haditsnya tentang generasi yang mewarisi akhlaq kasar dan keras dengan berbaju agama:

‎إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ ‏”‏ ‏.‏ ‏‏ متفق عليه

“Akan lahir dari turunan orang ini (Zul Khuwaisiroh) suatu kaum yang membaca al Qur’an namun tak sampai di tenggorokannya pun (tidak memahami dengan baik), mereka membunuh kaum Muslimin sendiri, sementara mereka kerjasama dengan kaum pagan (penyembah berhala), mereka justru (dengan perbuatannya) keluar dari Islam sebagaimana panah melesat pada sasarannya. Seandainya aku mendapati mereka, maka aku akan menumpasnya seperti penumpasan terhadap kaum Ad.”
(Hadits Bukhari-Muslim).

Dalam sejarah perkembangan Islam, dikenal suatu firqah (aliran) yang bernama Khawarij. Khawarij ini muncul sebagai respon ketidaksepakatan terhadap tindakan tahkim (arbitrase) yang ditempuh Khalifah ‘Ali Ibn Abu Thalib dalam penyelesaian peperangan Shiffin dengan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam perjalanannya, Khawarij ini dapat ditumpas. Namun, pemikirannya bermetamorfosis dalam berbagai bentuk firqah. Sehingga, sampai sekarang pun masih banyak ditemukan pemikiran yang benar-benar fanatik, tekstual, dan fundamental. Kalangan yang pendapatnya berbeda dengan mereka, maka akan diberikan stempel “liberal” “kafir”, “bid’ah”, dan “sesat”.

Syafi’i Ma’arif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999–2004, dalam buku Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Transnasional di Indonesia (2009), setidaknya ada tiga teori yang menyebabkan adanya gerakan radikal dan tumbuh suburnya gerakan transnasional ekspansif:
Pertama, adalah kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga mereka mencari dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar.

Kedua, adalah dorongan rasa kesetiakawanan terhadap beberapa negara Islam yang mengalami konflik, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Kashmir, dan Palestina.

Ketiga, dalam lingkup Indonesia, adalah kegagalan negara mewujudkan cita-cita negara yang berupa keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata. Sejak awal sehingga saat ini.

Diantara penyebab akhlaq radikalisme dan akhlaq ekstrimisme dalam Islam:

  1. Ekslusif dalam menafsirkan teks-teks Qur’an dan Sunah.
    Yakni bahwa mereka paling merasa benar dalam menafsirkan dalil-dalil yang maknanya elastis (banyak pengertian). Sehingga siapa pun yang berbeda dengan mereka akan dipandang sesat. Kalau sudah dianggap sesat, maka akan mudah mengkafirkan.
  2. Sangat Tekstual dan salah tafsir terhadap ayat ayat yang membahas tentang perang:

‎وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ 36)

“Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semua. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Taubah: 36)

Padahal ayat di atas memerlukan penafsiran yang komprehensif. Memerlukan pembahasan sebab nuzul dan kontekstualitas lainnya.

  1. Mudah mengkafirkan sesama Muslim.
  2. Berdakwah tanpa didasari kasih sayang, tetapi kebencian, kasar perkataan serta keras hati. Perhatikan ayat ini:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ في الأمر

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)

Mafhum ayat di atas, dakwah yang kasar itu tanpa didasari kasih sayang Allah Swt.

  1. Mudah mengutuk dan sumpah serapah kepada sesama Muslim atau pun non Muslim:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Bukanlah sifat seorang mukmin yaitu tukang menyerang harga diri orang lain, tukang melaknat (sumpah serapah), pelaku fahisyah (perzinahan dan hal-hal yang mendekatinya), dan pelaku perbuatan tercela lainnya.” (Hadits Riwayat Hakim).

لا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Orang-orang yang suka melontarkan kata-kata laknat, maka pada hari kiamat mereka tidak akan menjadi ahli syafa’at dan tidak menjadi syuhada.” (Hadits riwayat Muslim).

لا تَلاعَنُوا بِلَعْنَةِ اللَّهِ، وَلا بِغَضَبِ اللَّهِ، وَلا بِالنَّارِ
“Janganlah kalian saling mengutuk dengan kalimat ‘laknatulloh’ juga ‘murka Allah’ dan jangan melaknat dengan neraka.” (Hadits riwayat Ahmad).

Dalil-dalil yang wajib hafal:

‎إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ ‏”‏ ‏.‏ ‏‏ متفق عليه

“Akan lahir dari turunan orang ini (Zul Khuwaisiroh) suatu kaum yang membaca al Qur’an namun tak sampai di tenggorokannya pun (tidak memahami dengan baik), mereka membunuh kaum Muslimin sendiri, sementara mereka kerjasama dengan kaum pagan (penyembah berhala), mereka justru (dengan perbuatannya) keluar dari Islam sebagaimana panah melesat pada sasarannya. Seandainya aku mendapati mereka, maka aku akan menumpasnya seperti penumpasan terhadap kaum Ad.”
(Hadits Bukhari-Muslim).

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ
“Bukanlah sifat seorang mukmin yaitu tukang menyerang harga diri orang lain, tukang melaknat (sumpah serapah), pelaku fahisyah (perzinahan dan hal-hal yang mendekatinya), dan pelaku perbuatan tercela lainnya.” (Hadits Riwayat Hakim).

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan