Satu dalam Persaudaraan, Satu Indonesia Sambut Kejayaan!!
banner 728x90

Yang Baper dan Labil, Dimanfaatkan Provokator !

Nahdloh.com~Akhir-akhir ini media tengah diramaikan oleh masalah yang ditimpakan pada sosok Basuki Tjahja Purnama yang merupakan Gubernur DKI Jakarta. Beberapa orang menyebut masalah tersebut tidak main-main karena perkataannya dalam sebuah kunjungan ke kepulauan Seribu dinilai menistakan agama. Ah.. SARA lagi!

baca: Menggunakan Sara untuk Tujuan Politik, Primitif

Penilaian tersebut kemudian disebarluaskan lewat media sosial sehingga memunculkan hujatan dan sebagainya kepada calon gubernur petahana untuk 2017-2022. Hal tersebut kemudian menjadi latar belakang dilaksanakannya aksi damai 4 November 2016, menuntut Ahok (sapaan akrabnya) diproses hukum. Kabar terakhir, Ahok ditetapkan sebagai tersangka dan tidak akan mengajukan praperadilan. Ia ingin ‘fight’ di pengadilan.

Namun, penulis bukan ingin membahas soal status tersangka Ahok. Penulis justru ingin menyoroti soal provokasi di sosial media yang sampai saat ini sudah sampai pada level siaga.

baca: Habib Luthfi: Jangan Terprovokasi Pengganggu Stabilitas NKRI!

Sejak kemunculan video dan transkrip asal-asalan mengenai masalah di atas, provokasi di media sosial terus-terusan muncul. Mereka yang menerima informasi mentah kemudian luluh dan seketika sejalan dengan provokator tersebut untuk menuntut Ahok diproses hukum. Mereka yang terprovokasi, menurut penulis, adalah orang yang BAPER alias bawa perasaan.

BAPER tidak mengenal status sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Mereka yang terpelajar pun seketika bisa terhasut oleh provokasi soal isu ini. Tidak melihat dan meneliti lebih dalam soal video yang beredar, mereka percaya saja. Meskipun sudah diberi bukti nyata soal video asli dan panjang, mereka masih ngotot bahwa Ahok menistakan agama. Terlepas dari kata-kata Ahok yang dilontarkan soal fenomena politikus memanfaatkan kitab suci, pihak-pihak yang terprovokasi seharusnya mampu mengontrol diri dan tidak mudah percaya begitu saja dengan hasutan-hasutan politis.

baca: Cerdas Literasi Mengenal Berita “Abal-Abal”

Mereka yang memprovokasi sebenarnya mempunyai kepentingan lain di balik isu penistaan. Mereka yang baper mudah terprovokasi karena tidak mengenal iklim politik di Indonesia. Maka dari itu provokator berusaha memanfaatkan orang-orang BAPER untuk dapat memperkuat secara kuantitas untuk menjatuhkan Ahok. Mau tidak mau, isu ini pasti disebut sebagai penjegalan terhadap Ahok di Pilkada DKI. Mengapa? Karena pihak yang kemarin-kemarin melecehkan Pancasila atau agama tertentu saja tidak pernah didemo besar-besaran seperti yang telah terjadi 4 November lalu.

Efeknya di media sosial pun masih terasa hingga sekarang. Aktivitas ‘unfriend’ berjamaan seolah menjadi hal yang wajib dilakukan karena pandangan yang bersebrangan. Ini menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa..

“JANGAN BAPER DI MEDIA SOSIAL”

Kita yang beraktivitas di media sosial harus siap terhadap segala postingan yang ada. Jangan mudah percaya pada provokasi hanya karena Anda termasuk golongan yang dilecehkan. Cobalah berpikir secara luas apa masalah tersebut dan apa tujuannya disebarkan di media sosial. Bahwa media sosial berisi orang yang beragam dan mungkin bersebrangan dengan Anda, bahkan mereka yang mempunyai kepentingan politik. Diam dan amati!

baca: Bisnis Kebencian Online?

“JANGAN LARUT DALAM ISU JIKA ANDA TIDAK TAHU APA-APA”

Penulis sudah resah dengan orang-orang baper dan labil di media sosial yang mudah percaya pada satu informasi yang fiktif sumbernya. Kami yang cukup mengenal dengan situasi politik di Indonesia toh bermaksud menyadarkan pihak yang terprovokasi untuk kembali pada tujuan negara.

baca: Media Sosial, Bisa Saja “Membunuhmu”

“PANCASILA BUKAN HANYA PAJANGAN, TAPI IDEOLOGI BERNEGARA”

Agama memang adalah pegangan hidup, namun ideologi negara tidak dapat dilepaskan dalam hidup bernegara. Kita sebagai generasi penerus harus mampu memilahdan memilih nilai-nilai yang relevan dalam perkembangan jaman. Tidak semua nilai yang berlaku dahulu dapat diterapkan di masa kini atau yang akan datang. Setiap nilai mempuyai konteks sesuai tempat dan waktu.

baca: Antisipasi Arab Spring, Panglima TNI Ingatkan Enam Ancaman

PAHLAWAN BERKORBAN UNTUK KEMERDEKAAN NEGARA YANG BERAGAM INI. BUKAN UNTUK MENDIRIKAN NEGARA RADIKAL….(DSP)**

sumber: Kompasiana.com

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About