Tahun Politik, Tetap Jaga Ukhuwah!!
banner 728x90

Warga NU, Kyai Yayan: Belajar dari Filisofi Lambang NU

Kyai Yayan Bunyamin, Sabtu Malam (5/1), di Ponpes Bahrul Ulum KH. Busthomi Mabna Takhosus Al-Mursyidi AL-Fauziyah, saat memberikan mauidhoh hasanah. (Istimewa/Ihsan)

nahdloh.com~Tasikmalaya, Kamis legi, 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M, dikenal dengan lahirnya NU. Namun jauh hari sebelum itu, NU telah berkembang secara ideologi, dimana pada tahun 1916, KH. Wahab Chasbullah bersama Kyai-Kyai Pesantren mendirikan lembaga kursusan dengan nama Nahdlatul Wathan, Kebangkitan Tanah Air, yang terdorong karena kolonialisme yang semakin menjadi-jadi dan munculnya isu islam state.

KH. Wahab Chasbullah sangat update, tahu perkembangan dunia. Seorang Santri Cendikia itu membawa isu dunia menjadi isu nasionalisme. Termasuk pada tahun itu juga, lagu subbanul wathan diciptakan seiring pendirian lembaga kursusan Nahdlatul Wathan.

Hal itu disampaikan oleh Kyai Yayan Bunyamin, Sabtu Malam (5/1), di Ponpes Bahrul Ulum KH. Busthomi Mabna Takhosus Al-Mursyidi AL-Fauziyah, saat mengisi mauidhoh hasanah bersama KH. Muhamnad Abbas atau dikenal Gus Abbas, pimpinan Pesantren Buntet Cirebon.

Dalam paparannya, Beliau banyak menyinggung ke-NUan. Berawal dari menjelaskan nama dari Nahdlatul Ulama itu sendiri. Dimana katanya, Nahdloh adalah kebangkitan, Ulama ya ulama. Dalam al Qur’an kata ulama terulang dua kali. Pertama, dalam surat al-Fathir ayat 28, dan yang kedua dalam surat as-Syuaro ayat 197. Ulama berada dalam kompetensi yang berbarengan, antara khosyah dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

“Orang yang penuh dengan ilmu pengetahuan, tapi tidak khosyah, maka tidak dikatakan ulama. begitupun sebaliknya.” ujar Penulis buku Menalar NU itu.

Demikian NU berarti pergerakan, kebangkitan, harokah orang-orang ilmiah, lanjutnya, maka orang NU yang penuh dengan ilmu tapi tidak mau terjun memperbaiki ummat, keNUannya dipertanyakan.

Filisofi Lambang NU

Kyai Yayan membeberkan waktu pembuatan, serta filosofi daripada lambang NU.

“KH. Ridwan Abdullah diberi waktu dua bulan untuk membuat lambang NU. Dengan proses istikharah, selesailah satu minggu sebelum ditetapkan.” ungkap Direktur Aswaja Center Tasikmalaya itu.

Kyai muda ini merinci yang ada pada lambang NU, dimana satu bintang di atas menggambarkan Rasulallah SAW., dan empat bintang di sebelah kiri dan kanan atas menggambarkan empat Sahabat Nabi yang dikenal Khulafaurrasyidin.

“Dari empat simbol Sahabat Nabi itu, sejak berdirinya NU sudah menunjukan jati dirinya melawan terhadap Syiah yang selalu diskriminatif terhadap Sahabat Nabi. Tidak benar NU Tasayyuh. Bagi yang menuduh NU, katanya sekarang agak berbau-bau Syiah, mereka tidak paham terhadap NU itu sendiri,” tegasnya.

Empat bintang di bawah menunjukan NU berpegang pada 4 madzhab, atau Madzahibul Arba’ah, tuturnya, ini jelas untuk membedakan dengan Wahhabi yang menghapuskan Madzahibul Arba’ah atau tidak bermadzhab.

Almagfurlah KH. Ridwan Abdullah, meletakan bola dunia pada lambang penuh dengan makna. Menurut Beliau, “Di bumi inilah tugas kita untuk memakmurkan. NU lahir bukan sekedar untuk Indonesia, bukan hanya untuk ummat Islam, tapi lahir untuk dunia.”

Kyai Yayan melanjutkan, bahwa tali bersimpul yang melingkari globe, melambangkan persatuan yang kokoh, dan untaian tali ada garis 99, itu menandakan Asmaul Husna yang berjumlah 99.

Lambang NU kenapa ada dua ikatan? Pertama hablum minaAllah, dan yang kedua hablum minannas. Penulis buku Hujjah Nahdliyyah itu mengingatkan, “Saat ini banyak yang kelihatanya memiliki hubungan baik dengan Allah, namun hablum minannasnya ancur, nyebar hoax, provokasi, fitnah dan adu domba.”

Ikatannya ini dibuat longgar, bukan simpul mati. Ini menandakan toleransi dalam melihat situasi dan kondisi. Islam tidak jumud kaku, Ia mengungkapkan, “banyak diantara orang tahu teks dan tidak paham konteks. al-Quran diturunkan bukan di ruang hampa, tapi di tengah-tengah sosiologis ditengah perkembangan masyarakat. Nah, ini tugas kita hari ini untuk menyelaraskan antara teks di dalam kutubutturos dengan konteks kita hari ini.”

Terakhir, kenapa huruf “dhad”nya panjang? hal itu bertabarruq pada Rasulullah SAW, dimana beliau pernah bersabda “Saya orang yang paling fasih melafalkan huruf Dhad…”. Artinya, Nahdlatul Ulama ingin menjadi organisasi Islam yang fasih menyebarkan Islam ke seluruh dunia sefasih Rasulallah melafalkan kalimat Dhad. “Jangan aneh, sekarang NU sudah berdiri di 54 negara.” Jelasnya.

Acara di pesantren pimpinan KH. Ahmad Munawwar Hidayatullah, yang dikemas dalam PHBI 1440 H., Silaturahmi Alumni Hanifa ke IX, Tafarukan pengajuan intensif dan Tabarukan Khotaman Shahih Bukhari itu berjalan lancar. Turut hadir Ketua PCNU, Ansor-Banser, Para Pimpinan Pondok Pesantren, Jajaran Pengurus Ansor-Banser, Muspika Cibeureum,Tokoh, santri dan masyarakat. (cp)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: