banner 728x90

Sebelum Menjatuhkan Pilihan

Sebelum Menjatuhkan Pilihan
Ricky Assegaf, S. Pd, M. Pd Saat memberikan Materi Pengajian Pesantren (Istimewa/cp)

Nahdloh.com~Tasikmalaya, Menjatuhkan pilihan bisa disebut sesuatu yang gampang, bisa juga disebut sesuatu yang susah.  Apabila diantara pilihan tersebut telah menemukan kecocokan dan sesuai keinginan hati, tentu tidaklah susah. Begitupun  sebaliknya, akan sangat sulit ketika pilihan tersebut berbeda dengan keinginan hati.

Keinginan hati adalah keinginan atas dasar dari perasaan hati (perasaan yang sebenarnya) yang tidak bisa dipungkiri dan dipengaruhi oleh apapun dan siapapun. Tentunya harus mempunyai Kecerdasan Ruh yang berkorelasi dengan qolbu sehingga menjatuhkan sebuah pilihan yang tepat.

Kecerdasan Ruh inilah yang harus kita gunakan ketika dihadapkan pada kondisi yang sulit menentukan pilihan, Kecerdasan Ruh merupakan cara pandang dan cara berfikir yang hanya dimiliki oleh manusia yang membedakan dengan mahluk yang lainnya, sehingga dengan ruh inilah, manusia bisa memiliki kekuatan melangit dan tanggungjawab yang besar. Karena Ruh ini membuka dan merasakan makna yang bahagia, memberikan segala kebutuhan untuk mencapai sarana kebahagiaan yang di sebut dalam al-quran dengan Raihan ( al-Waqiah: 89 ).

Berkaitan dengan inilah Kecerdasan Ruh harus berperan aktif dalam menjatuhkan pilihan, apalagi kita sedang dihadapkan pada Pilkada Kota Tasikmalaya, dimana kita harus memilih Pemimpin untuk menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai Baldatun Thayyibatun Warabbun ghafur (Negeri yang baik dengan Rab Maha pengampun) (Qs 34 ; 15).  Makna dari kalimat “ negeri yang baik “ mencakup seluruh kebaikan alamnya, kehidupannya, kelapangan rejekinya, aman tentram serta damai dan “Rab Maha Pengampun “ mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan Ampunan dari Allah SWT.

Dalam pandangan Islam, memilih pemimpin adalah Fardu Kifayah ( al-ahkamussulthoniyyah ) tetapi bukan berarti menyerukan tidak memilih pemimpin ( golput ) itu tidak apa- apa karena  sudah terwakili oleh yang memilih, justru apabila menyerukan tidak menentukan pilihan ( golput ) itu Haram hukumnya karena  sama dengan mengajak untuk meninggalkan Fardu Kifayah ( Is’ad al- Rafiq Vol. 2 Hal 93 ).

Dalam sejarah perkembangan keilmuan, Tiga Ulama Klasik (Imam al-mawardi, Imam Al-Gozali, Ibnu Khaldun) menyebutkan dalam karyanya diantara syarat menjadi pemimpin adalah ;

  1. Al-‘adalah ( adil )
  2. Baligh
  3. Wara’
  4. Lelaki
  5. Al-‘alim ( berpengetahuan ),
  6. Mampu mendengar, melihat dan berbicara dengan sempurna
  7. Memiliki kondisi fisik yang baik
  8. Memiliki kompetensi
  9. memiliki kearifan dan wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengatur kepentingan umum.
  10. memiliki keberanian untuk melindungi wilayah kekuasaan Islam dan untuk mempertahankannya dari serangan musuh.
  11. berasal dari keturunan atau mempunyai sifat suku Quraisy.

Tentu lebih tepatnya  pandangan para Ulama Klasik ini, syarat menjadi pemimpin pada masa nya, Imam Al-mawardi ( 927 – 1058 ), Imam Al-Ghazali ( 1058 – 1111 ) dan Ibnu Khaldun ( 1332 – 1406 ). Ada empat kriteria yang sama di sebutkan ; (1) Adil, (2) Berilmu (3) sehat & mampu Mendengar, Melihat, Berbicara  (4) Memiliki Kompetensi dalam mengelola daerah (5) Keberanian (6) berasal dari suku dan atau memiliki sifat suku Quraisy. Ada hal yang berbeda pada pendapat Ibnu Khaldun, beliau menuliskan bahwa “harus memiliki sifat suku Quraisy “. Beda hal dengan Imam Al- Mawardi dan Imam Al-Ghazali “ Keturunan quraisy“.

Ibnu khaldun menyatakan bahwa pada masanya sudah semakin sulit mencari dari keturunan Quraisy. Oleh karena itu, Kriteria yang terakhir ini tidak bisa diaplikasikan di Indonesia. Karena kita adalah negara Indonesia bukan Bagdad, bukan Mesir, tentunya terdapat suatu kondisi dan situasi serta kultur yang berbeda.

Kita saat ini berada pada era nation–state, dimana wewenang dan kekuasaannya pun berbeda, tetapi minimal ini bisa menjadi sebuah gambaran, untuk  lebih cerdas dan lebih memahami kriteria calon pemimpin Kota Tasikmalaya.

Pilkada Kota Tasikmalaya akan menghasilkan pemimpin yang baik ketika para kandidat dan pemilih melakukan hal yang baik pula, memilih bukan berdasarkan keterpaksaan atau hadiah tetapi memilih berdasarkan hasil dari pengolahan pemikiran yang orisinil. Begitupula para kandidat yang berkompetisi melakukan berbagai strategi untuk dipilih oleh masyarakatnya harus berdasarkan pada pertimbangan kemaslahatan karena Kaidah Fiqh menyebutkan “ Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dilakukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan“. Apabila tidak dimulai dari sekarang dengan berlandaskan strategi atas pertimbangan kemaslahatan, bagaimana nanti setelah terpilih ?

Tiga Kanditat Pemimpin pada Pilkada Kota Tasikmalaya merupakan kandidat yang mempunyai visi dan misi yang hebat, mempunyai keinginan yang sama menjadikan Kota Tasikmalaya yang baik. Kebebasan dalam memilih jadikanlah sebagai kedewasaan sosial, kedewasaan hidup berbangsa dan bernegara, bukan dijadikan ajang kebencian. Kita jadikan Kota Tasikmalaya menjadi kota yang Baldatun Thayyibatun warabbun ghafur, dimulai dari kesadaran masing–masing.

Penulis adalah Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya dan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikmah Tamansari. 

Tags:
banner 468x60 banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan