Kirab Satu Negeri, #KitaIniSama Bela Agama, Bangsa Negeri!!
banner 728x90

Posisi Perempuan dalam Radikalisme: Agen Perdamaian atau Kekerasan?

 

Nahdloh.com~Bogor, SAAT mendengar pengeboman bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu, Anna Marsiana terhenyak. Betapa tidak? Dirinya mendapati seorang ibu yang membawa kedua anak perempuannya ikut dalam aksi ‘jihad’ yang berdarah. Sebagai seorang aktivis pluralisme dan feminisme, nurani Anna terusik.

“Apa penyebab seorang ibu bisa membawa anak-anak mereka untuk ikut melakukan tindak terorisme? Apa motivasinya? Apa yang sudah ia alami hingga bisa terjadi hal semacam itu?” perempuan yang menjadi direktur Asian Women’s Resource Centre ini menyatakan kegundahannya dalam sebuah sesi di Asia Interfaith Forum 2018 yang berlangsung di Bogor kemarin (24/7).

Anna kemudian mencoba menelisik peran dan posisi perempuan dalam radikalisme dan ekstremisme. Ia menemukan data yang tak kalah mencengangkan. “(Sebanyak – pen) 78% dari deportan ISIS ialah perempuan; 13 perempuan didakwa atas tindakan terorisme; dalam 3 tahun belakangan makin banyak perempuan ditemukan, ditahan karena percobaan tindak radikalisme,” ia membeberkan. Sebagai puncaknya ialah pengeboman bunuh diri seorang ibu bernama Puji Kuswati dan dua putri kecilnya di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018 lalu.

Ia menggarisbawahi peran perempuan dalam radikalisme. Meskipun dalam kelompok ekstremis Islam, posisi perempuan memang dianggap subordinat dari pria ternyata perannya tak kalah penting. Perempuan tak cuma mengurus rumah dan melahirkan anak-anak yang kelak bisa melanjutkan perjuangan ‘jihad’ sang suami, tetapi juga menjadi ‘madrasah pertama’ bagi anak-anaknya. Mereka berkontribusi dalam penyediaan logistik, pengumpulan dana, penanam ideologi pada buah hatinya, bahkan pelaku tindak kekerasan di lapangan langsung.

Dalam catatan sejarah, kisah Jael dalam al Kitab juga ia interpretasikan sebagai sosok perempuan dengan narasi kekerasan. “Tahun 1991, Rajiv Ratna Gandhi tewas karena seorang pembom bunuh diri yang seorang wanita. Sementara pada tahun 2008, lebih dari 80 perempuan Palestina tewas dalam pemboman bunuh diri. Semua ini membuktikan bahwa perempuan itu mampu untuk menjadi agen kekerasan,” ungkap Anna. Perempuan tak lagi hanya satu kelompok homogen yang dianggap selalu penuh kasih sayang, welas asih dan lembut. Mereka bisa beringas dan penuh kekerasan. “Perempuan juga sama kompleksnya dengan pria,” tegasnya.

Maka dari itu, dalam agenda pencegahan dan penanganan terorisme, pemberdayaan kaum Hawa tidak bisa diabaikan. Menurut Anna, perempuan memiliki kekuatannya sendiri dibandingkan laki-laki karena sekarang ini mereka lebih banyak “memiliki kebebasan dan peluang tumbuh dan mengembangkan diri”. Sebagian perempuan yang terlibat terorisme bahkan menganggap keterlibatan mereka dalam teror adalah bentuk ekspresi dari hak-hak untuk menjadi setara dengan para pria. Hanya saja masalahnya kesetaraan itu disalurkan bukan pada cara yang konstruktif dan damai.

Lalu bagaimana memberdayakan kaum perempuan agar menjadi agen-agen perdamaian daripada kekerasan? Anna mengutarakan beberapa solusi yang ia anggap jitu, di antaranya perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan program negara yang lebih membumi di tingkat akar rumput. Dalam lingkungan akademis, upaya pencegahan bisa dilakukan dengan mengadakan seminar, studi, diskusi. Di kalangan akar rumput, penanaman nilai-nilai pluralisme dan perdamaian sangat diperlukan. “Masalahnya, selalu ada ‘jurang’!” ucap Anna geram. Jurang-jurang itu berupa banyak faktor misalnya budaya sampai individual.

Anna tidak menawarkan solusi instan. Alih-alih, ia mencoba memberikan usulan langkah-langkah konkret yang bisa segera diterapkan di lapangan. Dalam hal budaya kita bisa membangkitkan memori perdamaian. Temukan nilai kearifan lokal yang mulai dilupakan tetapi dapat dipakai untuk menyatukan masyarakat. Di sisi pendidikan, fondasi strategis mesti segera dibangun di sekolah-sekolah, pesantren dan komunitas lintasiman. (*/)

Tags: ,
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: