Selamat Hari Pahlawan, Jasa dan Pengorbananmu akan terus dikenang. Berkarya dalam mengisi Kemerdekaan ini sebagai wujud syukur akan membuat para Pahlawan bangga !!

Mencerahkan

& Menggerakan

banner 728x90

Perlukah Memotong Rambut dan Kuku Sebelum Berqurban? Simak Penjelasan Hukum Ini!

Ilustrasi

NAHDLOH.COM

Permasalahan ini berawal dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”(HR. Muslim : 1977)

Dalam lafazh lainnya,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. HR. Muslim : 1977)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban setelah memasuki 10 hari awal bulan Dzulhijah (mulai dari tanggal 1 Dzulhijah).

Terkait permasalahan tersebut di atas, berikut pendapat para ulama sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli hadits terkemuka, Al Imam an Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim :

:قوله صلى الله عليه وسلم:

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا وفي رواية :  (فلا يأخذن شعرا ولا يقلمن ظفرا

“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Jika telah masuk sepuluh (Dzul Hijjah), sedangkan salah satu dari kalian memiliki hewan kurban yang hendak dikurbankan, maka jangan sekali-kali ia mencukur rambut atau memotong kuku”. Dan dalam satu riwayat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Hendaknya ia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku terlebih dahulu.”

Selanjutnya Al Imam An Nawawi menjelaskan :

واختلف العلماء فيمن دخلت عليه عشر ذي الحجة وأراد أن يضحي ،
فقال سعيد بن المسيب ، وربيعة ، وأحمد ، وإسحاق ، وداود وبعض أصحاب الشافعي : إنه يحرم عليه أخذ شيء من شعره وأظفاره حتى يضحي في وقت الأضحية ،

وقال الشافعي وأصحابه : هو مكروه كراهة تنزيه وليس بحرام ، وقال أبو حنيفة : لا يكره ، وقال مالك في رواية : لا يكره ، وفي رواية : يكره ، وفي رواية : يحرم في التطوع دون الواجب ، واحتج من حرم بهذه الأحاديث ،

Para Ulama berbeda pendapat tentang masalah orang yang memasuki tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan ingin berkurban.

Sa’id bin Musayyab , Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian kecil dari sahabat-sahabat Al Imam Asy Syafi’i berpendapat : “Hukumnya haram memotong sesuatu dari rambut dan kukunya sehingga datang waktu berkurban”.

Al Imam Asy Syafi’I sendiri dan mayoritas sahabat2nya berpendapat hal itu hukumnya dimakruhkan dengan makruh tanzih tidak sampai pada batas hukum haram.

Al Imam Abu Hanifah berpendapat tidak makruh.

Al Imam Malik dalam salah satu riwayat, berpendapat tidak makruh. Tetapi dalam riwayat lain berpendapat makruh. Dan dalam salah satu riwayat lain berpendapat haram namun dalam hal qurban sunnah dan tidak haram dalam qurban wajib.

واحتج الشافعي والآخرون بحديث عائشة – رضي الله عنها – ” قالت : كنت أفتل قلائد هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم يقلده ، ويبعث به ولا يحرم عليه شيء أحله الله حتى ينحر هديه ” رواه البخاري ومسلم .

Al Imam Asy Syafi’i dan yang lainnya berargumentasi dengan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Aku mengikatkan tali pada hewan qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengikatnya kembali dengan tangan beliau lalu mengirimnya . Maka sejak itu tidak ada yang diharamkan lagi bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah halalkan hingga hewan qurban disembelih” (HR. Al Bukhari dan Muslim.)

قال الشافعي : البعث بالهدي أكثر من إرادة التضحية ، فدل على أنه ? لا يحرم ذلك وحمل أحاديث النهي ? على كراهة التنزيه .

قال أصحابنا : والمراد بالنهي عن أخذ الظفر والشعر النهي عن إزالة الظفر بقلم أو كسر أو غيره ، والمنع من إزالة الشعر بحلق أو تقصير أو نتف أو إحراق أو أخذه بنورة أو غير ذلك ، وسواء شعر الإبط والشارب [ ص: 120 ] والعانة والرأس ، وغير ذلك من شعور بدنه ، قال إبراهيم المروزي وغيره من أصحابنا : حكم أجزاء البدن كلها حكم الشعر والظفر ، ودليله الرواية السابقة : ( فلا يمس من شعره وبشره شيئا ) قال أصحابنا : والحكمة في النهي أن يبقى كامل الأجزاء ليعتق من النار ، وقيل : التشبه بالمحرم ، قال أصحابنا : هذا غلط ؛ لأنه لا يعتزل النساء ولا يترك الطيب واللباس وغير ذلك مما يتركه المحرم .

Al Imam Asy Syafi’i berkata : Mengirim hewan qurban lebih banyak dari pada ingin berqurban, maka ini menunjukan bahwa hal itu tidak diharamkan dan hadis-hadis tentang larangan di atas itu membawa pengertian hukum makruh tanzih.

Sahabat-sahabat kami ( Asy Syafi’i) berkata : “Yang dikehendaki dengan larangan mengambil kuku dan rambut yaitu larangan memotong kuku atau membelah atau dengan cara lainyya, dan larangan menghilangkan rambut adalah menghilangkan rambut dengan cara mencukur, memotong, mencabut, membakar, mengambilnya dengan kapur atau dengan cara yang lainnya. Apakah itu rambut ketiak, jenggot, rambut kemaluan, Kepala dan rambut-rambut lain yang terdapat di badan.”

Sahabat-sahabat kami, Ibrahim Al Marwazi dan yang lainnya berkata : “Hukum seluruh angota badan adalah hukumnya rambut dan kuku, dan dalilnya adalah riwayat di atas : Lalu hendaknya ia tidak menyentuhkan sesuatupun akan rambut dan kulit.”

Sahabat-sahabat dari kalangan Madzhab Syafii berkata : “Hikmah dalam larangan itu adalah supaya semua anggota badan tetap dibebaskan dari neraka, dan ada yg mengatakan : “Karena serupa dengan orang yang sedang ihram.”
Tapi pendapat terakhir ini salah (karena orang yang berkurban) tidak perlu menghindari istri, tidak perlu meninggalkan wewangian, pakaian dan yang lainnya berupa larangan-larangan ihram.”

(Al Imam an Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 7, Bab Udhiyyah)
(Al Imam an Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Muhadzzab, juz 8 hal 285-286)
(Hasyiyah Asy Syaikh Muhammad Mahfudz At Turmusi ‘alal Minhajil Qawim, juz 6 hal. 655-656)

والله اعلم بالصواب

Oleh Dafid Fuadi

(Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Kediri)

Tags:
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: