Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

Pemikiran Pendidikan Mbah Hasyim Masih Relevan

Nahdloh.com~Jombang, Pendidikan merupakan unsur terpenting dalam membangun peradaban. Pengelolaan pendidikan harus serius. Termasuk dalam menggali konsep pemikiran yang ditawarkan para founding fathers negeri ini. Di antaranya hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari.

Itulah spirit dari bedah buku Berguru Ke Sang Kiai, Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari, Jumat (11/11). Acara digelar di auditorium lantai dua kampus Institut Agama Islam Bani Fattah (IAI Bafa) Tambakberas.
Mukani menjelaskan berbagai temuan penelitiannya. “Karena sebenarnya buku ini adalah hasil riset saya tahun 2005 silam di Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya,” ujarnya.

Guru SMAN 1 Jombang ini juga mengungkap bahwa berbagai pemikiran pendidikan yang digagas Mbah Hasyim masih relevan untuk diaplikasikan pada dunia modern seperti sekarang. “Meski langkah teknis operasionalnya perlu dijabarkan lagi,” ucapnya.
Sikap jujur dari pendidik sebagai contoh. Mbah Hasyim sudah mendorong agar seorang pendidik melaksanakan profesinya secara jujur. Ini mengingat terkait erat dengan keberkahan ilmu yang diperoleh peserta didik.
“Namun apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita sekarang, tidak hanya pada pendidikan dasar dan menengah, di perguruan tinggi pun praktek tidak terpuji dilakukan oleh oknum, baik bernama guru ataupun dosen,” ujarnya.

Baca Juga:

Pada level peserta didik, fenomena yang terjadi sekarang juga sudah jauh dari nilai karakter yang digariskan Mbah Hasyim. “Meski banyak yang baik, peserta didik saat ini tidak ubahnya mesin produksi yang akan berjalan untuk mencari ijasah, bukan kompetensi,” katanya.

“Sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibenahi dengan dunia pendidikan kita, dan itu akan dimulai dari diri kita sendiri untuk memulai revolusi mental agar mutu generasi bangsa bisa meningkat,” imbuhnya.

Saat memberikan komentar pembanding, KH Achmad Mustain Syafi’i menekankan bahwa membaca tokoh tempo dulu itu untuk mengambil pelajaran, bukan semata berbangga. “Tokoh dulu sudah berbuat untuk jamannya, kita sebagai anak jaman harus berbuat untuk jamannya sendiri,” ujarnya.

Di dunia pesantren, lanjutnya, santri dididik kiai untuk memiliki being. “Ini akan menjadikan santri siap menjadi apa saja yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tidak individualis hidup sendiri, apalagi terisolir,” imbuhnya.
Dosen Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng ini juga menjelaskan bahwa sebagai santri, tidak disalahkan jika berbeda pemikiran dengan kiai. “Karena tiap kiai punya uswah, jadi boleh mengkritik, tapi bukan kepada kepribadiannya, melainkan pemikirannya,” ujar doktor UIN Sunan Ampel ini.

Untuk itu, imbuhnya, santri harus memiliki sifat halim dan alim. “Halim itu bener, harus dijadikan contoh oleh masyarakat sekitar dan ‘alim itu cerdas, untuk melayani umat yang mencari ilmu,” katanya. (muk/saiful)

sumber: pwnujatim.or.id

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan