Sungguh Terdapat Suri Tauladan dalam Diri Rasulalloh SAW
banner 728x90

Nasihat al-Gahzáli untuk ‘Para’ Penguasa (Bag 1)

ilustrasi

nahdloh.com

Dalam Kitab Kasyf ad-Dzunún, dikatakan bawah al-Ghazáli (1058-1111 M) pernah menuliskan nasihat-nasihatnya kepada raja ke 4 dinasti Saljuk, Muhammad bin Malik syah as-Saljuki (1074-1092 M), dalam bahasa Persia, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa arab dengan judul At-Tibru al-Masbúk fí nashíhati Mulukí (Nasihat-nasihat berharga untuk raja). Ibn Katsír dalam kitab al-Bidáyah wa an-Niháyah (jilid 11/223) mengatakan bahwa Raja Malik Syah adalah raja terbaik dan mempunyai catatan sejarah yang baik pula, adil penyayang, merakyat, dan berbudi luhur.

Pada periode raja Malik Syah ini. Al-Ghazáli pernah menjadi rektor di universitas terkemuka saat itu, yaitu Nizhámiyah yang didirikan pada tahun 1065-1067 M di Baghdad. Nizhamiyah berperan besar dalam menyebarkan dan memperkokoh Mazhab sunni. Dalam kitab Wafayát al-‘Ayán (jilid 5/ 70-71) dikatakan bahwa tatkala al-Ghazáli mengetahui Muhammad Máliksyah naik tahta, ia menuliskan surat yang berisikan nasihatnya untuk raja. Nah, kemungkinan besar nasihat lengkapnya itu terekam dan dibukukan menjadi kitab At-Tibru al-Masbúk ini.

Sungguh nasihat-nasihat tersebut menggugah hati setiap yang membacanya. demikian juga yang diberikan nasihat tidak akan merasa dihakimi atau dicela harga dirinya. Al-Ghazáli menasihati raja dengan cara terbaik, tidak di umbar dikhlayak ramai. Dalam Ihyá Ulúm ad-Dín (jilid 2/182), al-Ghazáli mengutip perkataan Imám as-Syáfi’i, orang yang menasehati saudaranya secara tertutup, maka ia sudah benar-benar menasehatinya, tetapi orang yang menasehati saudaranya secara terbuka, maka sebenarnya ia sedang mempermalukan dan menjatuhkan kehormatannya.

Untuk itu, mari bersama-sama melihat bagian-bagian dari nasihat al-Ghazáli yang tertulis dalam kitab tersebut yang rasa rasanya masih relevan untuk zaman ini, seraya kita haturkan alfátihah untuk Imám al-Ghazáli. Alfátihah.
_______________
Nasihat pertama, al-Ghazáli berkata :
أن تعرف اولا قدر الولاية وتعلم خطره
Hendaknya mengetahu kemulian kekuasaan dan mengetahui bahaya/resikonya.

Pada bagian ini, al-Ghazáli menjelaskan bahwa kekuasaan adalah nikmat dari Allah swt, yang jika dimanfaatkan dengan benar maka penguasa akan mendapatkan kebahagian yang tak berujung, begitu pula sebaliknya, orang yang tidak memanfaatkan kekuasaannya dengan benar, akan mendepatkan kecelakaan dan kesengsaraan besar setelah siksaan atas dosa kekafiran.

Untuk melegitimasi kemualian kekuasaan, al-Ghazáli menyebutkan banyak hadis-hadis nabi saw. Diantaranya :
إذا كان يوم القيامة لا يبقى ظل ولا ملجأ إلا ظل الله ولا يستظل بظله إلا سبعة أناس : سلطان عادل في رعيته…
Pada hari kiamat, ada tujuh kelompok yang akan mendapatkan perlindungan Alláh swt. Pertama penguasa yang adil pada rakyatnya.
أحب الناس إلى الله تعالى وأقربهم إليه السطان العادل وأبغضهم إليه وأبعدهم منه السلطان الحائر
Manusia yang paling dicintai dan paling dekat dengan Alláh swt adalah penguasa yang adil, dan orang yang paling dibenci dan jauh dari Allah swt adalah pemimpin yang dhalim.

al-Ghazáli keudian berkata : maka, tidak ada nikmat yang paling mulia, yang diberikan Allah swt dari memberikan kekuasan kepada seseorang. Dan orang yang tidak mengetahui kemulian nikmat ini dan malah tersibukan dengan kedhalimannya maka dikahwatirkan ia dijadikan musuh oleh Allah swt.

Kemudain ia pun menyebutkan banyak hadis-hadis nabi saw mengenai resiko dari kekuasaan, diantaranya nasihat Nabi saw kepada para pembesar Quraish berikut ini :

يا سادات قريش عاملوا رعاياكم وأتياعكم بثلاثة أشياء إذا سألوكم الرحمة فارحموهم وإذا حكموكم فاعدلوا فيهم واعملوا بما تقولون، فمن لم يعمل بهذا فعليه لعنة الله ولائكته لا يقبل الله من فرضا ولا نفلا.

Wahai para pembesar Quraish ! perlakukanlah rakyat kalian dengan tiga hal. Jika mereka meminta kasih saying, maka kasihilah mereka, jika mereka mengangkatmu menjadi penguasa, maka berlaku adillah, dan lakukan apa yang kalian katakana. Jika tidak melakukan 3 hal ini, maka laknat Allah swt dan malaikat baginya, dan tidak akan diterima ibadah fardu dan sunnahnya.

Dari kutipan hadis-hadis Nabi SAW tadi jelas, keadilan penguasalah yang menjadi ukuran keselamatan dia di akhirat kelak.

Al-Ghazáli kemudian menuliskan kisah kekaguman utusan kaisar romawi terhadap Umar ibn khattab, yang ketika utusan itu bertemu, Umar ra lagi tidur nyenyak ditempat terbuka diatas tikar kasar. Utusan itu berkata ‘beginikah kondisi penguasa, yang seluruh kerajaan dibumi berada pada pundaknya. wahai umar ! engkau bersikap adil, maka engkau merasa aman, dan bisa tertidur nyenyak di tempat terbuka ini, sedangkan raja kami di romawi, melakukan kedhaliman dan pembantaian, hingga ia tak pernah bisa tidur nyenyak karena hidupnya penuh dengan kekhawatiran. Aku bersaksi agamamu adalah agama yang benar’

al-Ghazáli kemudian menasehati agar selau dekat dengan para ulama dan gemar mendengarkan nasihat-nasihatnya, karena mereka mengajarkanmu tentang keadilan. Dan mewanti-wanti agar tidak terjerumus pada nasihat ulama abal-abal.

lalu Bagaimanakah keadilan itu? Untuk menjawabnya Al-Ghazali menuliskan cerita dari umar ibn abdul azíz yang bertanya tentang definisi adil kepada seorang ulama bernama Muhammad ibn Ka’ab al-Qurthúbi. Beliau mengatakan “jadilah kamu seperti seorang anak dihadapan mereka yang lebih tua usianya, jadilah seperti ayah dihadapan mereka yang lebih muda, dan jadilah saudara dihadapan mereka yang seusia denganmu. Hukumlah setiap pelaku kriminal sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya, dan janganlah kamu menghukum seseorang hanya karena rasa benci, karena hal tersebut akan menjerumuskanmu ke neraka’

Bagaimana Kelanjutan Nasihat al-Ghazáli? Mari Kita simak pada tulisan berikutnya. insyáalláh
________
Saya akhiri tulisan ini dengan memohon do’a kepada Allah swt, agar ia memberikan hidayah dan taufiqnya bagi kita semua agar bisa berlaku adil terhadap siapapun. Ámín yra.

Muhammad Mufti
(Rijalul Ansor Kota Tasikmalaya)

Tags:
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: