Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

Mudah Memaafkan dan Tidak Reaktif, Itulah Gus Mus Saat Dihina “BID’AH NDASMU!”

Nahdloh.com~ Ada-ada saja kelakukan anak ingusan bernama Pandu Wijaya ini. Pemilik akun twitter @panduwijaya_ itu mengucap hal yang sangat tidak pantas diutarakan kepada kiai dan ulamasekelas KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Sewot terhadap tweet Gus Mus yang berpendapat bahwa jumatan di jalan adalah bid’ah, ia kemudian membuat balasan ngawur “Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jum’at juga saat Rasulullah hijrah ke madinah. Bid’ah ndasmu!“. Itu ditulis Pandu pada Kamis, 23 November 2016. Ini screen shoot bocah nakal asli Probolinggo tersebut di twitter nya.

Cuitan Pandu Wijaya

Cuitan Pandu Wijaya

Kontan saja gaya ngetweet arogan alumnus Politeknik Negeri Malang (Polinema) Jatim tersebut membuat para santri Gus Mus sejagad terpancing. Ada yang menegurnya dengan halus, ada juga yang kemudian mencari identitas anak ini untuk dilaporkan ke aparat hukum. Tidak langsung minta maaf, malah ngetweet lagi dengan sinis.

Dengan akun twitternya yang sekarang ini sudah digembok, lebih lanjut ia berujar begini kepada akun @fajarnugros, “kyai jangan dikultuskan, dia hanya manusia, kalau salah ya dikritisi, diingatken! salah kok di bela, piye utekmu jal?” sarkasnya. Namun, ia buru-buru meralat dan kemudian meminta maaf. Ini screen permintaan maaf Pandu Wijaya:

Permintaan maaf Pandu Wijaya

Permintaan maaf Pandu Wijaya

Meskipun sudah meminta maaf, bagi para santri Gus Mus, cuitan Pandu sudah kelewatan. Ia bukan mengkritik, tapi sudah menghina. Ucapan “Bid’ah Ndasmu” dalam bahasa Indonesia itu artinya, “Bid’ah kepalamu peak”. Ini bukan bahasa kritik, tapi bahasa penistaan yang sesungguhnya. Tanpa tafsir yang berbeda dan khilafiyah, pernyataan itu sudah bisa ditebak arahnya, yakni membunuh karakter.

Karena itulah, Ketua Umum Ansor, Gus Yaqut Cholil Qoumas, mencari identitas bocah ingusan itu walau ia sudah meminta maaf. Dalam twitternya, Gus Yaqut mengatakan, “Proses tetap lanjut!”. Bahkan, ia juga akan datangi langsung perusahaan tempat Pandu Wijaya “al-coro” itu bekerja, yakni PT Adhi Karya South Building, Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18 Jakarta 12510.

Pandu Wijaya disebut sebagai bocah ingusan karena dalam beberapa statusnya, ia memang ingusan. Dalam sebuah kicauan darinya tertanggal 15 Juli 2015, ia bertanya kepada ustadz MA Al Amiry begini, “afwan ana mau tanya bagaiaman jika onani tidak mengeluarkan spesma/ mani apakah membatalkan puasanya? Syukron“. Anda bisa bantu jawabkah? Apa harus tanya ke Gus Mus untuk masalah ingusan ini?

Setelah ditelusuri, ternyata akun Pandu Wijaya ikut follow akun-akun penyedia info tidak pantas soal begitu an. Pantas aja pikirannya kotor tak terperi, termasuk kepada kiai. Ini wajah orang yang diburu itu. Sopan di wajah, kotor dalam dahi.

Wajah Pandu Wijaya

Wajah Pandu Wijaya

Apa yang ditweetkan oleh Pandu Wijaya si Penghina kiai ini, berbanding terbalik dengan misi hidupnya. Di akun Facebook tertanggal 9 Januari 2015, bocah imut berumur 25 tahun itu mendokumentasikan tujuan baik hidupnya. Seperti anak SD umumnya, di status Facebooknya, ia mempublikasikan secara lebay tujuan hidup yang inginnya “Bebas dari kebencian dan penyakit hati lainnya”. Sayangnya, dia tidak berhasil ketika kasus penghinaannya kepadaGus Mus ini diprotes.

Kemungkinan besar, nasib Pandu Wijaya akan sama dengan Deni Iskandar, kader HMI yang menghina Ketum PBNU KH Said Agil Siraj. Bisa jadi ia akan dipecat dari PT Adhi Karya dengan cepat, atau malah kena adzab hukuman penjara.

Komisaris Utama PT Adhi Karya Fadjroel Rachman juga telah meminta maaf kepada Gus Mus atas nama pribadi dan perusahaan lewat akun Twitter-nya @fadjroeL. Dia mengakui ucapan karyawannya menghina mantan Rois Syuriah Nahdhlatul Ulama (NU) itu sangat tidak pantas.

Merespons Fadjroel, Gus Mus bijak saja menanggapi. Sosok yang menyebut dirinya ‘orang bodoh yang tak kunjung pandai’ di Twitter ini merasa tidak ada yang perlu dimaafkan.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda,” tulis Gus Mus di akun Twitter-nya @gusmusgusmu pagi ini sambil menyertakan emoticon senyum.

Lewat akun Facebook-nya, Gus Mus juga menyampaikan kepada Fadjroel dan PT Adhi Karya agar Pandu Wijaya tidak dipecat.

“Saudara Fadjroel Rachman dan Adhi Karya BUMN dengan sungguh-sungguh memintakan maaf atas ucapan salah satu karyawannya. Maka dengan sungguh-sungguh saya menjawab: Tidak ada yg perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda. 😊 , Saya mohon jangan sampai si karyawan dipecat, sebagaimana usul sementara orang,” tulis Gus Mus.

Baca juga: Gus Mus Sebut Kasus Ahok ‘Digoreng’ dengan Catut Agama

Dari kejadian ini yang bisa kita ambil pelajaran adalah sikap kehati-hatian diri kita dalam berkomunikasi via sosmed maupun secara langsung untuk menyapaikannya dengan cara dan akhlak yang baik agar tida ada orang lain yang tersakiti.

Selain itu, kita belajar dari kesabaran dan akhlak Gus Mus saat bagaimana beliau dihina oleh orang lain. Gus Mus dalam status facebooknya menanggapi dengan respon yang sangat santun dan harus kita jadikan tauladan ketika mengalami hal yang sama. Mirip persis seperti apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Status Gus Mus dalam merespon hinaan

Status Gus Mus dalam merespon hinaan

 (cp)**

banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan