Selamat Hari Pahlawan, Jasa dan Pengorbananmu akan terus dikenang. Berkarya dalam mengisi Kemerdekaan ini sebagai wujud syukur akan membuat para Pahlawan bangga !!

Mencerahkan

& Menggerakan

banner 728x90

Mondok Harus Sungguh-sungguh, Perangi Nafsu dan Jangan Memikirkan Rezeki

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus bersama KH. Maimoen Zubair

Nahdloh.Com~Ilmu itu didapat harus dengan sungguh-sungguh. Ilmu tidak mungkin didapat dengan cara enak-enakan. Man jadda wajad. Ini yang agak merosot dibandingkan dengan orang dahulu, sebab orang dahulu itu sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh adalah kunci keberhasilan.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Mujahadah di sini bisa bermakna perang fi sabilillah, atau bisa bermakna memerangi hawa nafsu. Jadi kalian belajar yang sungguh-sungguh. Perangi hawa nafsu kalian. Kalau makan, makanannya yang halal. Minumannya yang halal. Dan sandalnya juga yang halal. Soal sandal hilang jangan dianggap masalah sepele. Semenjak dahulu, orang memakai barang orang lain tanpa izin adalah ghosob. Dan ghosob hukumnya haram. Jangan dibiasakan.

Pernah ada tamu, salat di masjid kemudian sandalnya hilang. Ini kan memalukan. Kita harus merubah tradisi yang buruk. Sebab banyak sekali orang yang merendahkan dirinya sebab persoalan dunia. Jika orang makan yang tidak halal, itu namanya merendahkan dirinya sendiri. Hati-hati, kalian harus makan yang halal. Jangan dianggap enteng, di warung yang jujur.

Proses tobat yang ada haq adamiy-nya ini repot. Sebab banyak sekali santri, ketika sudah di rumah harus mengaku minta halalnya, minta maaf. Yang pusing itu warungnya di mana, pemiliknya siapa, jangan-jangan sudah meninggal. Ini kan repot. Tidak halalnya itu loh yang repot. Nikmatnya hilang, namun tuntutan akan menghadang.

Ilmu itu nurullah, dan nurullah itu memantul di hati seseorang. Tempatnya nurullah adalah hati. Orang yang mencari ilmu itu harus punya hati yang bersih. Hati yang jernih itu bisa diupayakan dengan makanan yang halal, rumah yang halal, pakaian yang halal, dan sandal yang halal. Ini jangan dianggap remeh. Kita perlu perubahan. Perlu revolusi. Revolusi ghosob.

Orang-orang dahulu, yang sering kamu dengarkan, ketika mencari ilmu tidak banyak bergaul. Cukuplah Allah yang menemani dan malaikat. Dan cukuplah berteman kitab atau buku. Jadi orang yang sedang belajar, idealnya tidak banyak bergaul. Supaya memprioritaskan belajar. Memprioritaskan ngaji. Sebab orang ngaji itu sekali duduk, satu sa’ah, ini pahalanya lebih utama daripada salat seribu rakaat. Ini kata Imam Syafii RA. Siapa yang mampu satu hari salat seribu rakaat?

Saya ingat, dulu waktu saya masih mondok, suatu ketika saat saya salat malam, oleh orangtua saya ditegur. Beliau menyuruh saya untuk terus saja mengaji. Supaya memprioritaskan muthalaah. Sebab qiyamul lail itu bukan dengan salat saja, namun mutholaah itu juga termasuk qiyamul lail. Jadi santri dalam beribadah kepada Allah, supaya memprioritaskan banyak mengaji.

ilustrasi pengajian di pondok pesantren

Dan ilmu bisa didapat dengan cara konsentrasi. Rasulullah sebelum menerima surat iqra, itu senang menyendiri di Gua Hira. Kalau sekarang santri nggak perlu berangkat ke gua Selomangleng. Konteksnya sudah beda. Dulu masa Rasulullah, Ka’bah dikuasai oleh orang jahiliyyah.

Di Gua Hira turunlah Jibril dengan membawa surat iqra. Ketika Rasulullah disuruh baca iqra, Rasulullah tidak bisa. Ma ana biqoriin, aku tidak bisa membaca. Sampai oleh Jibril Rasulullah dirangkul. Dilepas. Disuruh baca lagi tidak bisa. Sampai tiga kali baru bisa. Ini menunjukkan bahwa santri dalam belajar awalnya sulit. Namun kalau sungguh-sungguh, insyaallah dimudahkan oleh Allah SWT. Dan ketika sulit, kalian jangan putus asa. Sebab reaksi ilmu nanti ada. Ketika Rasulullah menerima ayat iqra ini gemetar. Beliau minta diselimuti. Ini artinya, beliau ketika menerima wahyu ada konsekuensinya. Dan wahyu yang paling berat diterima oleh Rasulullah adalah wahyu yang suaranya seperti kliningan. Artinya orang menerima ilmu kadang-kadang demikian. Kadang orang itu bingung. Bilamana kita sedang belajar Alfiyah dan lain-lain, kadangkala kita bingung. Kalau kejadiannya seperti itu, kalian harus tabah. Karena itu bagian dari proses.

Setelah kita menerima pelajaran dari guru, pelajarilah kembali berulang-ulang. Orangtua saya, Mbah Mahrus Ali almaghfurlah mengatakan kalau setelah ngaji supaya dideres sebanyak sebelas kali. Jadi kalian setelah sekolah atau ngaji, materi itu dibaca kembali sebanyak sebelas kali, itu riyadlahnya. Sebab ilmu yang didapat dengan riyadlah akan berbeda. Riyadlahnya kalian adalah dengan usaha dengan tekun. Habis ngaji dibaca bolak-balik sebelas kali, insyaallah nanti ada barokahnya. Sebab muallif (pengarang kitab, –red) itu kebanyakan wali min auliyaillah. Muallif selalu mendoakan kepada orang yang mengaji kitabnya.

Kalian harus meniggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak ada manfaatnya. Harus konsentrasi dengan ilmu. Apa yang kalian lakukan harus ada manfaatnya. Apa yang kalian perbuat, supaya diukur, ada manfaatnya apa tidak. Untuk mengukur islamnya orang itu baik apa tidak, bagaimana istigholnya orang tersebut. Bagaimana kesibukannya. Kalau dia sibuk dengan kelakuan yang baik, maka islamnya baik. Maka jangan sampai santri sibuk dengan perkara yang tidak baik. Ini supaya kita pelajari ketika kita di pesantren. Apa yang kalian lakukan supaya ada manfaatnya. Sebab yang memprihatinkan, kadang saya tahu sendiri, kadang laporan dari keluarganya, ada santri mondok kalau di rumah itu senang dolanan doro (merpati, –red). Terus ada santri yang senang dengan mercon. Ini kan tidak ada manfaatnya.

Itu supaya diperhatikan. Belajar yang tekun. Diusahakan di Lirboyo sampai tamat. Kalau orang alim ditempatkan di mana saja insyaallah bisa. Kalau orang berilmu, misalkan saja ditempatkan di alas (hutan, -Red), tidak masalah. Ada yang mendatangi. Ditempatkan di mana saja tidak masalah. Dan hidup dalam suasana apapun tidak masalah.

Memang ada perbedaan, kalau dalam zaman sahabat, sebelum mempelajari tentang Alquran mereka mempelajari tentang keimanan dulu. Jadi iman itu dulu dikuatkan. Oleh Rasulullah pada sahabat ini yang disentuh keimanan dulu. Kalau imannya kuat, insyaallah mencari ilmunya sungguh-sungguh.

Jadi prinsipnya kalau di pondok yang sungguh-sungguh. Yang tekun. Tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh.

Setelah di pondok jadi apa, makan apa, itu urusan Allah. Nanti rizki yang bagaimana, itu urusan Allah. Banyak sekali firman Allah yang menjamin rezeki hambanya. Jadi kalau kalian sudah di rumah, rezeki repot, bismillah, nikah saja. Insyaallah rezeki akan mudah. Orang kalau mencari ilmu itu rezekinya dijamin. Adapun cara Allah menjamin, kadang lewat orang tuanya, atau kakak calon mertuanya. Jadi kalian di pondok yang tekun. Tidak usah memikirkan yang macam-macam. Nanti setelah pulang supaya mengamalkan ilmu dan mengajarkan ilmu. Seperti ayat yang pertama kali turun,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Dengan ini, kita disuruh membaca, kita mencari modal. Kemudian turunlah ayat kedua,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

Ini menandakan bahwa tugas kita setelah mencari ilmu, mencari modal, adalah mengajarkan dan mengamalkan. Kalau sudah mengamalkan ilmu, insya allah rezekinya barokah, dzuriyahnya barokah, dan menjadi orang yang mulia.

Sumber: Lirboyo.net
*) Disarikan dari tausiyah KH Abdullah Kafabihi Mahrus saat acara Majelis Shalawat Kubro (Masbro) ke-3

Tags: ,
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: