Selamat Hari Pahlawan, Jasa dan Pengorbananmu akan terus dikenang. Berkarya dalam mengisi Kemerdekaan ini sebagai wujud syukur akan membuat para Pahlawan bangga !!

Mencerahkan

& Menggerakan

banner 728x90

MENJAGA KOTA SANTRI DARI BIBIT-BIBIT TERORISME

Proses penggeledahan kediaman terduga teroris di Tasikmalaya. (Foto: Deden Rahadian/detikcom)

NAHDHLOH.COM

Tasikmalaya memang punya historis yang sangat kuat berkaitan dengan pergerakan terhadap kedaulatan Indonesia.

Tasikmalaya telah menjadi tempat teraman, ternyaman untuk berkembangbiaknya teroris, sehingga banyak sel-selnya yang belum bangun. Dengan demikian, tidak heran teror-teror bom di tempat lain tidak akan terjadi di Tasikmalaya, karena salah satu basis mereka.

Setelah adanya UU Tentang Terorisme, maka dugaan tersebut semakin dikuatkan dengan banyaknya penangkapan terduga teroris di Kota Tasikmalaya, bahwa Tasikmalaya telah menjadi tempat berkembangbiaknya teroris. Pun saya sangat setuju dan mengapresiasi sekali dengan lahirnya UU tersebut, sehingga pihak berwajib lebih leluasa menjalankan tugasnya, karena persoalan Kedaulatan lebih Utama.

Kota Tasikmalaya yang cukup dikenal sebagai “Kota Santri”, dengan Perda Tata Nilainya (red: menurut saya kurang tepat), serta adanya trend beragama yang tinggi, namun ironis sekali telah terjadi penangkapan 8 terduga teroris di Kota tercinta ini.

Sempat dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa Kota Tasikmalaya masuk pada 10 besar “Kota Intoleran”, dimana intoleran ini merupakan benih terorisme (red: Intoleran-Radikal-Teroris).

Delapan terduga teroris yang berasal dari Kota Tasikmalaya tersebut, adalah bagian dari jaringan Jama’ah Ansorul Daulah (JAD) dan sekarang telah resmi menjadi kelompok yang terlarang di negeri ini.

Pertanyaanya, apakah setelah dilarang oleh Negara akan begitu saja hilang dengan sendirinya…??, tentunya tidak. Oleh karenanya, Pemerintah, Kepolisian, TNI, Ulama, dan seluruh komponen masyarakat harus memperkuat serta memperjelas “imunitas” beragama sesuai dengan Referensi Keilmuan yang jelas (bersanad), sehingga gerak berfikir dan gerak bertindaknya relevan.

Pemahaman Agama yang instant, pesimistis dalam beragama, pesimistis dalam meraih pahala, akhirnya mencari jalan pintas dengan anggapan dapat meraih pahala besar kemudian masuk “Surga”. Hal lain yang dapat berbahaya jika salah bimbingan, ketika mulai muncul rasa paling benar daripada orang lain, semisal karena sedang trend penomena “Hijrah”, kemudian ikut-ikutan riaknya saja, parahnya mulai menyalahkan ubudiyah kebanyakan masyarakat.

Ini PR kita semua warga masyarakat Kota Tasikmalaya. Pemerintah menjalankan fungsinya, Kepolisiannya meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini, para Tokoh Agama memberikan pemahaman yang benar sesuai dengan Referensi Keilmuan yang jelas (bersanad), serta masyarakat mampu berfikir dan bertindak secara objektif (rasional).

Marilah kita mulai dari sekeliling kita dulu, memperkuat “Imunitas” dengan beragama secara terbuka, moderat, dapat serasi dengan kearifan lokal, dan yang paling utama ikuti kepada Arus Besar/kelompok mayoritas (Sawaadul A’dhom).
Ricky Assegaf

(Ketua GP. Ansor Kota Tasikmalaya)

Tags: , ,
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: