Selamat Hari Pahlawan, Jasa dan Pengorbananmu akan terus dikenang. Berkarya dalam mengisi Kemerdekaan ini sebagai wujud syukur akan membuat para Pahlawan bangga !!

Mencerahkan

& Menggerakan

banner 728x90

Mengenal Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar

Pejabat Rais Aam Syuriyah PBNU KH Miftahul Akhyar. Dok. NU Online.

nahdloh.com

Penjabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar mengajak semua pengurus agar bersama-sama menjalankan tugas-tugas pengabdian di masyarakat melalui NU. Ia mengaku tidak mampu menjalankan organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia ini tanpa dukungan dan koordinasi yang baik.

“Saya tidak akan mampu melakukan tugas yang besar ini kalau tidak mendapatkan bantuan dari teman-teman,” kata Kiai Miftah di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (22/9.

Oleh karena itu, ia berharap agar para pengurus mendukung terhadap kebijakan-kebijakannya yang benar, dan menegur jika keputusannya dianggap melanggar Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

“Dengan inilah kita akan kuat, dengan inilah kita akan disegani, dengan ini semua program-program yang baik itu betul-betul baik bagi organisasi, bagi nahdiyyin, dan semoga baik menurut Allah,” ujarnya.

Siapa Kiai Miftahul Akhar?

KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Terutama bagi nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia lahir dari tradisi NU dan mengabdikan dirinya untuk NU sejak usia muda. Tak heran jika kemudian hari ini mengemban amanah kepemimpinan syuriyah NU, sebagai Penjabat Rais Aam.

Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Di NU ia pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013 dan 2013-2018, Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 dan selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020.

Menurut catatan pengurus PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan. Ia tercatat pernah mengaji di Pesantren Tambak Beras (Jombang), Pesantren Sidogiri (Pasuruan), Pesantren Lasem (Rembang), dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, ketika ia masih mengajar di Indonesia.

Menurut Karomi, penguasaan ilmu agama KH Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantunya. Kiai Miftachul Akhyar lalu mendirikan Pondok Miftahus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya. Awalnya ia hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian.

“Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki Kiai Miftachul Akhyar, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu. Kampung yang “gelap” itu lalu menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat,” papar Karomi.

Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar, menurut Karomi, yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan minuman dan menyajikan cemilan kepada para tamunya. Akhlak ini beliau teladani dari ayahandanya, Kiai Abdul Ghoni. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

NU Online

Tags:
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: