Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

Mengenal Cucu Syaikh Nawawi al-Bantaniy yang Pernah Mondok di Bantargedang Tasikmalaya.

Nahdloh.com 

KH. Thobary Syadzily adalah Pengasuh Pondok Pesantren al-Husna yang berada di Jl. Raya M. Toha No. 51 Rt. 02/02 Priuk Jaya, Tangerang, Banten. Beliau juga merupakan Ketua Umum Sarkub, salah satu perkumpulan pejuang Aswaja dalam membentengi aqidah ummat dari aqidah-aqidah yang melenceng.

Beliau adalah seorang Kyai keturunan Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Abdul Karim bin Syaikh Bukhari. Kedua kakeknya itu merupakan ulama besar pada zamannya yang diakui keilmuannya oleh dunia.

Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Abdul Karim di masa perjalanan dakwahnya, sama-sama memegang peranan penting dalam menyelamatkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dari faham Wahabi. Walau ada perbedaan, Syaikh Nawawi al-Bantani lebih memegang kitab-kitab klasik, sedangkan Syaikh Abdul Karim lebih mengembangkan thariqah yang dianutnya, yakni Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.

Ketika di SMA, KH. Thobary menguasai ilmu matematika, fisika, kimia dan bahasa Inggeris. Kemudian, setelah lulus SMA, beliau mendapat beasiswa di sebuah universitas dan bidang spesial ilmu kedokteran, tapi ayah beliau tidak mengizinkan. Akhirnya, beliau memutuskan sendiri untuk memperdalam menuntut ilmu di Pondok Pesantren

Semenjak kecil hingga dewasa KH. Thobary sudah akrab dengan pendidikan dan kegiatan agama. Disamping belajar formal, Kyai Thobary juga menimba ilmu di beberapa Pondok Pesantren Salaf yang khusus membahas kitab-kitab kuning. Diantara sebagian Pondok Pesantren yang pernah beliau singgahi adalah:

  1. Pondok Pesantren “Bantar Gedang”, Kecamatan Cibeureum, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat, pimpinan KH. Rukhiyat, pakar ilmu nahwu & shorof, (1983 – 1984).
  2. Pondok Pesantren “Riyadul Alfiyah”, Sadang Pasir, Garut, Jawa Barat, pimpinan KH Syarif Hidayatullah (Ceng Iif), pakar Alfiyah.
  3. Pondok Pesantren “Darul Hikam”, Cibeureum Pasir, Kec. Goalpara, Sukabumi, Jawa Barat, pimpinan KH Hasan Sadeli (Aang Sadeli), pakar ilmu falak, mantiq dan balaghah.
  4. Pondok Pesantren “Riyadul Alfiyah”, Kadukaweung, Pandeglang, Banten, pimpinan Mama Sanja, pakar Alfiyah dan ilmu hikmat.
  5. Pondok Pesantren “Darul Ahkam”, Padarincang, Serang, Banten, pimpinan KH Suhaemi, pakar ilmu fiqih.
  6. Pondok Pesantren “Mursyidul Falah”, Kp. Sawah, Kec. Rengasdengklok, Kab. Karawang, Jawa Barat, pimpinan KH Hasan Basri (Mama Obay), pakar ilmu tauhid, ushul fiqih dan sebagainya.
  7. Pondok Pesantren “Tarbiyatun Nasyi’in”, Paculgowang, Jombang, Jawa Timur, pimpinan KH Azis Manshur, pakar melughat kitab-kitab.

Setelah menuntut ilmu di beberapa pesantren tersebut di atas, kemudian mendirikan pesantren tahun 1995. Selanjutnya, mengaji kitab rutinan ke Abuya Dimyathi (Mbah Dim), Kp. Cidahu, Kec. Cadasari, Kab. Pandeglang, Provinsi Banten, setiap hari Ahad dan setiap malam Selasa (pengajian dimulai pukul 20.30 WIB s/d menjelang awal waktu shalat shubuh) selama delapan tahun.

Disamping kesibukannya sebagai penceramah dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Husna di Tangerang Banten, Kyai Thobary juga diberi beberapa amanah diantaranya sebagai:

1. Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Provinsi Banten.
2. Ketua Lajnah Falakiyah PCNU Kota Tangerang.
3. Anggota Tim Fatwa dan Hukum MUI Kota Tangerang.
4. Pengurus Dewan Masjid Indonesia Kota Tangerang.
5. Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran.
6. Pengurus Masjid Raya al-A’dzam Tangerang.
7. Anggota Tim Nasional Kementrian Agama.

Dalam dunia pendidikan formal, KH. Thobary Syadzily pernah pernah kuliah di UNDAR (Universitas Darul Ulum) jurusan Hubungan Internasional, dan di Fakultas FISIP yang juga mengambil jurusan Hubungan Internasional, keduanya di Jombang Jawa Timur. Beliau lulus setelah menyelesaikan skripsinya yang berjudul Politik Luar Negeri Amerika Serikat dalam Penyelesaian Damai Palestina Pasca Perang Dingin. Penelitian ini dilakukannya di CSIS (Center Strategic and International Studies) di Tanah Abang Jakarta Pusat.

Dilihat dari latar belakang keluarga dan beberapa latar pendidikan, bisa kita nilai bahwa KH. Thobary adalah orang yang berilmu luas. Apalagi setelah kita mengenal lebih dekat dengan beliau, maka akan terlihat dengan jelas seberapa besar kompetensi beliau dalam menguasai berbagai macam cabang ilmu, khususnya ilmu agama.

Eksistensi dunia dakwah yang beliau tanamkan dalam hati sejak kecil, tidak hanya terlihat dalam dakwahnya di beberapa kota di tanah air dan di Pondok Pesantren yang beliau asuh, tetapi juga kepada khalayak umum khususnya anak muda lewat media sosial seperti facebook, twitter dll. Langkah ini beliau tempuh sebagai upaya untuk membendung bahaya wabah Wahabi yang semakin berkembang di dunia maya. Beliau berharap, orang awam khususnya anak muda akan lebih memfilter diri agar tidak menyimpang dari ajaran para Ulama dan Salafussaleh.

Melihat semakin punahnya kitab-kitab klasik Ahlussunnah yang masih asli, KH. Thobary menganjurkan untuk menScan dan mencetak ulang beberapa kitab klasik, terlebih kitab-kitab tauhid seperti kitab Fath al-Majid, ‘Aqidat al-‘Awam, Fath al-‘Awam, as-Sanusiyyah dll. Karena dengan membaca dan mempelajari beberapa kitab klasik yang asli tersebut, maka pemuda-pemuda Aswaja akan mempunyai bekal ilmu yang banyak untuk menangkis faham Wahabi. Sebab belajar tidak hanya mendengar, tetapi juga harus mempunyai pegangan sebagai pendukung untuk melawan faham tersebut, seperti pegangan beberapa kitab klasik yang dimilikinya.

Perlu diketahui bahwa, dalam dakwahnya membendung faham Wahabi, KH. Thobary Syadzily tentu menggunakan cara yang persuasif (bil Hikmah wal Mau’idzatil Hasanah). Amat sangat dihindari oleh beliau cara dakwah dengan caci-maki maupun kekerasan. Terbukti beliau beberapa kali lebih memilih mendatangi langsung (face to face) para tokoh Wahabi dari berbagai daerah. Salah satu yang pernah beliau datangi adalah Mahrus Ali, tokoh Wahabi Jombang yang menulis sebuah buku yang dalam judulnya ditulis Mantan Kyai NU. Juga salah seorang tokoh Wahabi yang produktif menulis, Hartono Ahmad Jaiz, pernah didatanginya.

Terakhir keberhasilannya dalam mementahkan hujjah-hujjah Wahabi, terlihat pada usaha investigasinya terhadap tayangan-tayangan Khazanah Trans7 yang banyak menyinggung amalan-amalan Nahdliyin, seperti Maulid, Istighatsah, Ziarah Kubur, Dzikir bersama dan lain sebagainya dikatan sebagai amalan bid’ah, syirik dan sesat. Sidang investigasi itu diprakarsai oleh tim Sarkub bersama perwakilan dari pihak KPI, NU, FPI, MUI dan tim Khazanah Trans7.

Walau dalam sidang tersebut pihak Khazanah Trans7 telah mengakui kesalahannya dan berjanji akan memperbaikinya, namun pada perkembangan selanjutnya tetap saja mereka menyebarkan faham Wahabinya dan selalu saja menghantam amalan-amalan Aswaja khususnya amalan Nahdliyin.

Usaha telah dilaksanakan sebaik mungkin, tak ada caci-maki dan bentuk kekerasan, itulah yang tercermin dari dakwah sosok KH. Thobary Syadzily. Yang terpenting baginya adalah melaksanakan kewajiban dakwah, menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, dan hidayah sepenuhnya mutlak dari Allah Swt. Semoga kita semuanya senantiasa dikaruniai hidayah oleh Allah Swt. sehingga ketika wafat dalam keadaan iman dan Islam. Aamiin.

Sumber:
KH. Thobary Syadzily
Sya’roni As-Samfuriy, 06 Nopember 2013
sarkub.com

Tags: ,
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan