Tahun Politik, Tetap Jaga Ukhuwah!!
banner 728x90

Kyai Yayan Jawab Tudingan Nasionalisme tidak ada Dalilnya

Direktur Aswaja Center Tasikmalaya, Kyai Yayan Bunyamin, Memaparkan materi NU dan Wawasan Kebangsaan dalam Madrasah Aswaja sekaligus menyambut Harlah NU ke 93, Kamis malam, 31 Januari 2019 di Pondok Pesantren Al-Mubarok Sukajadi Cibeureum. (Istimewa: Ichan)

nahdloh.com~ Tasikmalaya, Memahami NU dan wawasan kebangsaan ini penting, di tengah hiruk pikuk Indonesia sekarang, dimana ideologi-ideologi transnasional, yang terus menghujani NKRI ini, baik melalui HTInya, ataupun JAD, JAT dan lainnya yang merongrong terhadap kebinekaan, terhadap konsep kebangsaan NKRI.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Aswaja Center Tasikmalaya, Kyai Yayan Bunyamin, dalam pertemuan ke-2 Madrasah Aswaja sekaligus menyambut Harlah NU ke 93, Kamis malam (31/1), yang bertempat di Yayasan Ponpes al-Mubarak Sukajadi Cibeureum.

Kyai Yayan memaparkan, bahwa penerimaan NKRI dan Pancasila sebagai dasar negara telah ditetapkan dalam Muktamar tahun 1984.

“NKRI dengan Pancasila sebagai bentuk dasarnya itu sudah final. itu adalah puncak perjuangan dan mujahadah umat islam di Indonesia, tidak bisa diganggu gugat,” tutur Kyai yang sering berkomunikasi dengan Dr. H. Nadirsyah Hosen itu.

Kita sering teriak-teriak NKRI itu punya dalilnya, tutur Kyai. Pertama, munas Alim Ulama NU di Situbondo yang ditetapkan dalam muktamar, bahwa NU menerima Pancasila sebagai dasar negara, dan merupakan perjuangan final umat islam di Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Kedua, di dalam UUD 45, tertuang khusus untuk bentuk negara NKRI ini tidak bisa diamandemen.

Di tengah sebagian kelompok yang meragukan atas dalil Cinta tanah air bagian daripada iman, Kyai Yayan meminta untuk membaca kitab Maqosidul Hasanah yang ditulis oleh imam al Hafidz as-Syaqawy.

“As-Syaqawy menyatakan, Hubbul Wathan minal Iman tidak pernah diucapkan oleh Baginda Nabi SAW, akan tetapi esensinya sama dengan esensi hadits-hadits sahih dan nususussyar’iah dalam Al-Qur’an,” jelas Kyai yang pernah berdialog bersama Syech Wahbah aj-Juhaily itu.

Kyai Yayan menduga mereka bermuara fi dilalil Qur’an yang ditulis lmam Sayid Qutub, yang menuangkan bahwa nasionalisme itu berarti saingan bagi Allah, dan masuk pada ashobiyah, dengan mengkutif hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “Tidak termasuk ummatku yang berfanatik, dan jika mereka mati pun dalam kematian jahiliyah.”, sehingga dianggaplah nasionalisme adalah ashobiyah.

Rupanya mereka mengkutip hadits Abu Daud itu tidak jelas, ungkapnya. Karena coba perhatikan hadits setelahnya, Nabi ditanya, Apa Ashobiyah itu Wahai Rasulullah?, Nabi menjawabnya, “(Ashobiyah itu) engkau menolong saudaramu dalam kedhaliman”.
Artinya kalau fanatisme terhadap kebaikan itu tidak apa-apa, bahkan seharusnya dan dianjurkan, tegas Kyai Yayan.

Beliau tidak heran kalau ada yang lantang bicara nasionalisme tidak berdasar, karena mereka baru hafal satu dua hadits.

“Tidak aneh kemarin ada seorang mualaf yang teriak-teriak nasionalisme itu tidak ada dalilnya. bukan tidak ada dalilnya, tapi ia belum menemukan, emang berapa ratus ribu hadits yang telah dia baca?,” tandasnya

Setelah itu, dalam bahasa yang ringan Kyai Yayan menjelaskan cinta tanah air prespektif Al-Qur’an dan Hadits. Mulai dari tafsir Surat Al-Baqarah: 126, an-Nisa: 66, al-Qashash: 85, Fathul Bari: 3/705, at-Thuruqul al-Hukmiyyah:29-30 serta isi kitab al-‘Alaqoh baina ad-Diin wal Wathan:176. Tidak ketinggalan, Sistem politik dalam Islam, Nalar Politik dan Nalar Teologi NU beliau kupas, dimana sebagian isinya telah dituangkan dalam buku best saller karyanya yang berjudul “Hujjah an-Nahdliyah” cetakan pertama. (cp)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: