Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

KYAI SHOLIHIN, PENDAMPING HADRATUSY SYAIKH DI JERUJI BESI

Nahdloh.com

Oleh : Ach. Syaikhu Azmy, MM*

Kotribusi Pesantren dalam mengawal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat besar, Jaringan Pesantren berperan penting untuk menjemput sekaligus menegakkan kemerdekaan. Para kiai dan santri menjadi tulang punggung perjuangan melawan Penjajah. Kyai-kyai di pesantren mengabdikan diri untuk mendidik santri, membentuk jaringan antar pesantren, sekaligus mengobarkan api semangat perjuangan untuk mengawal kemerdekaan

Kyai Solihin bin Kyai Muhammad Amin (Madamin) adalah salah satu ulama Pejuang yang lahir sekitar tahun 1912 di Cirebon, Jawa Barat , dari keluarga Pesantren Babakan Ciwaringin yang sederhana namun tegas dalam hal agama. Kyai Sholihin adalah Santri Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari Tebu Ireng, beliaulah satu – satunya Santri yang mendampingi Hadrotusyaikh ketika dipenjara oleh Tentara Jepang

Ketika Hadrotussyaikh dijemput paksa oleh tentara Jepang dan dibawa dengan mobil truk yang melaju dengan kencang para santri yang berusaha menghentikanya dihalangi oleh barisan tentara jepang,namun sekonyong-konyong Kyai sholihin melepaskan diri dari pengawalan dan berlari mengejar mobil yang sedang melaju kencang itu dan berhasil melompat kedalam truk yang membawa Hadrotussyaikh.

Sesampainya di markas Jepang Jombang Hadrotussyaikh langsung dibawa ke penjara,Kyai Solihin meminta menemani Hadrotussyaikh ikut dipenjara namun oleh Komandan Jepang tidak diperbolehkan masuk sambil didorong maka dengan lantang Kyai Solihin berkata : ”Saya Sholihin dari Cirebon”, sambil menunjuk Komandan tersebut, sampai para Komandan dan serdadu Jepang tertegun, mengetahui hal itu Hadrotus syaikh langsung berujar “ ra popo “ maka Komandan tersebut mengizinkan beliau ikut dipenjara satu sel bersama Hadrotussyaikh Hasyim As’ary [1].

Selama 4 Bulan Kang Sholihin sapaan Akrab Santri Tebu ireng, setia mendampingi Hadrotus Syaikh KH Hasyim As’ari dipenjara, beliau dengan penuh ta’dzim melayani segala kebutuhan Gurunya dengan sigap, seperti waktu Hadrotussyaikh dipenjara ditempatkan diruangan yang berdekatan dengan teras sehingga ketika hujan air masuk, Kyai Solihin mengelap Ruang penjara sampai mengusap telapak kaki Hadrotussyaikh dengan bajunya Sehingga Hadrotussyaikh merasa tenang. [2] maka tidak Heran ketika Kyai Sholihin Meninggal dalam Pembacaan Talqinya Kyai Ali Masina [3] menyematkan Syahadah “ Hadza Sohibus Sijni Mbah Hasyim As’ari ”

Berjuang di Garda Depan

Pada masa penjajahan Jepang Kyai Sholihin Di berikan amanat oleh Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Sebagai Lurah di Pesantren Tebu Ireng Jombang, Beliau menjalankan amanat tersebut dengan mengatur dan melaporkan segala rutinitas Pesantren pada Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari walaupun ketika itu teror dan ancaman sering menerpa Pesantren Kang sholihin tak gentar menghadapinya disamping menjalankan amanat Guru beliau juga telah dibekali berbagai ilmu lahir batin dari orang tuanya Kyai Madamin yang notabene seorang Ulama yang besar dari Pesantren Babakan Ciwaringin

Suatu Ketika ada Kejadian di Pesantren Tebu Ireng, salah satu santri Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asyari yang bernama Mas Dawam ditembak oleh tentara Jepang dan Jasadnya digantung di sebuah tempat yang terbuka, yang mana dimaksudkan sebagai bentuk intimidasi pada warga pribumi dan santri untuk tidak melawan karena siapapun yang akan melawan akan bernasib sama seperti itu, sehingga Jasad Syuhada Mas Dawam tidak ada yang berani mengambil.

Dengan Perasaan Duka dan Prihatin Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memerintahkan Kang Solihin untuk mengambil Jasad Mas Dawam, Dengan Tekad yang kuat beliau menyatakan Siap kemudian Hadrotussyaikh membekali Kang Sholihin dengan sepucuk pistol milik Gus Kholiq [4].

Dengan berbekal perintah guru dan semangat perjuangan walau dalam keadaan Hujan kang sholihin melangkah untuk mengambil Jasad Syuhada tersebut, sebelum mengambil Jasad tersebut beliau masuk ke sebuah Mushola untuk melaksanakan Sholat dengan dilanjutkan membaca wiridan yang telah diterima dari orang tuaya berupa Hizib Nashor, Hizib Nawawi, Hizib Bahri ditutup dengan Aji Penakluk berbahasa Cirebon [5].

Setelah selesai beliau Keluar dari Mushola tersebut sambil membawa beberapa jamaah untuk ikut dalam misi tersebut, sesampainya didekat area pegambilan beliau berdiri dan mengangkat pistol dan menembakkan peluru keatas, dengan Izin Allah Suara letusan pistol itu terdengar oleh tentara Jepang bagaikan dentuman meriam, hingga membuat tentara jepang kaget dan bingung hingga lari tunggang laggang hingga menanggalkan senjata yang di pegangnya, Kang Solihin bergegas mengambil Jasad Mas Dawam sementara teman-teman yang lain mengambil senjata yang di tinggalkan tentara Jepang.

Dengan keberanian dan kemampuan Kyai Sholihin, Hadrotussyaikh sering mempercayakan Kang Sholihin untuk mendampingi setiap aktivitas perjuangannya, dikarenakan Putra Cirebon yang dikenal banyak memiliki tokoh yang mumpuni dalam bidang kejadukan yang masih ada dan dianggap mampu dalam hal itu adalah beliau. Dimana Kyai Abbas Buntet dan Kyai Amin Babakan sudah berada di pesantrennya masing masing

Kecintaan dan Ketaatan Kyai Sholihin terus berlangsung hingga Hadrotussyaikh meninggal, beliaulah salah seorang yang jadi saksi kepergian Hadrotussyaikh menuju Sang Pemilik Hidup dengan tenang. Lahuma Al-Fatihah
*Penulis Adalah Cucu Menantu dan Khodimul Ma’had Assholihin Babakan Ciwaringin Cirebon

[1] DIceritakan oleh H. Fathulloh Sholihin ( salah satu Putra KH. Solihin )

[2] DIsampaikan oleh Hj. Samsyiah (salah satu anak KH. Solihin )

[3] Ulama Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

[4] Salah Satu Putra Hadrotussyaikh

[5] Di Sampaikan Oleh KH. Makhtum Hanan ( Mustasyar PBNU )

 

Tags: , ,
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan