Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73. Dirgahayu Indonesia
banner 728x90

KHUTBAH ‘IDUL FITRI: ORANG YANG TAQWA TIDAK AKAN MENCACI MAKI ULAMA

NAHDLOH.COM

Khutbah I

السلا م عليكم ورحمۃ اﷲ وبركا ته

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Jamaah Idul Fitri yang di Muliakan Allah.

Alhamdulillah wasyukrillah pada pagi hari ini, kita bisa bersama sama berkumpul ditempat yang mudah mudahan berkah dan penuh magfirah dari Allah SWT, Lebaran atau momentum Idul Fitri ini, hampir selalu diwarnai dengan gempita kegembiraan umat Islam di berbagai penjuru daerah. Gema takbir dikumandangkan di malam harinya, Pada pagi harinya pun mayoritas dari umat Islam mengenakan pakaian serba baru, makan makanan khas dan istimewa, serta bersiap bepergian untuk bersilaturahim ke sanak saudara dan kerabat.

Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Rasulullah SAW bersabda:

زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر

“Hiasilah hari rayamu dengan takbir”

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!

Ibadah Puasa di bulan Ramadhan yang baru saja kita laksanakan, sesungguhnya adalah suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dan berkesinambungan bagi orang-orang yang beriman yang menghantarkannya pada puncak nilai-nilai kemanusiaan yang disebut dengan Taqwa. Taqwa inilah indikator utama kemuliaan, indikator utama kebahagiaan dan indikator utama kesejahteraan. Sehingga orang yang taqwa akan menjaga hawa nafsunya, dia tidak akan berani membenci Ulama bahkan mencaci maki ulama. karena faham akan ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.

قَالَ اللهُ تَعَاَلَى: يَآأَيـــُّهَا
النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ
اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. {الحجرات : 13}.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat: 13).

Dengan ketaqwaan yang terus-menerus dibangun dalam diri kita, keluarga, lingkungan, masyarakat dan bangsa, insya Allah akan menumbuhkan kesejahteraan dan keberkahan hidup yang senantiasa kita dambakan. Kita menyadari dan kita akui dengan jujur bahwa saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, keberkahan dan kesejahteraan masih belum bisa di raih oleh setiap orang karena tetap dikembalikan kepada Nilai ketaqwaannya masing masing kepada Allah. Ini terbukti dari jumlah orang miskin yang semakin banyak, angka pengangguran semakin tinggi, jumlah anak yang tidak bisa sekolah semakin bertambah. Mungkin ini bentuk kurangnya keberkahan, walaupun kita menyadari tidak mungkin disuatu negara tidak ada orang yang miskin.

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!

Hadirin Jama’ah Idul Fitri yang dimuliakan

Memang kondisi semacam ini terasa sangat ironis dan sangat kontradiktif jika dikaitkan dengan kondisi Tanah Air kita yang sangat subur, sumber alam yang melimpah ruah dan mayoritas penduduknya beragama Islam. Tetapi tentu hal ini tidaklah mengherankan jika dilihat dari ajaran Islam itu sendiri.

Di dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang mengkaitkan kesuburan dengan kemakmuran. Artinya Negeri yang subur tidak otomatis rakyatnya akan menjadi makmur. Bahkan kesuburan akan menjadi malapetaka kalau disertai dengan kekufuran terhadap nikmat Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman Allah pada QS. An-Nahl ayat 112.

قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَضَرَ بَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً
يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ
فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْأ يَصْنَعُوْنَ.
{النحل : 112}.

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya daya kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; oleh karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebebabkan apa yang telah mereka

Hadirin Jama’ah Idul Fitri Rahimakumullah

Kemakmuran dan kesejahteraan sesungguhnya akan bisa dibangun dan diraih melalui perilaku yang baik, yang berdasarkan Iman dan Taqwa, seperti kejujuran, kecerdasan (Intelektual, Spiritual, Emosional, dan Sosial), etos kerja yang tinggi, etika berusaha dan bekerja yang berdasarkan pada nilai-nilai Agama, Aswaja dan kepekaan sosial yang tinggi. Di dalam Al-Qur’an dan hadits banyak digambarkan betapa kejujuran (ash-Shiddiq) akan meraih kebaikan, sebaliknya khianat, dusta, korup dan mengambil hak orang lain akan menghasilkan berbagai macam keburukan. Rasulullah
SAW bersabda:

: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِِّدْقَ يَهْدِىْ إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يـَهْدِى إِلَى اْلجَنَّةِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدِقُ حَتَّى يُكْتَب عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا.وَإِنَّ الْكَذِبَ يـَهْدِىْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يـَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ  حَتَّى
يُكْتَب عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً . {رواه البخارى

“Hendaknya kalian selalu berusaha menjadi orang yang benar dan jujur, kerena kejujuran akan melahirkan kebaikan (keuntungan-keuntungan). Dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga, jika seseorang terus berusaha menjadi orang yang jujur, maka pasti dicatat oleh Allah sebagai orang yang selalu jujur. Jauhilah dusta dan menipu, karena dusta itu akan melahirkan kejahatan dan kejahatan akan menunjukkan jalan ke neraka. Jika seseorang terus-menerus berdusta, maka akan dicatat oleh Allah sebagai orang selalu berdusta.”(HR.Bukhari).

Perlu di garis bawahi, bahwa hadits di atas menjelaskan kejujuran akan membawa ke jalan yang lebih baik dan kebohongan akan membawa ke jalan yang lebih buruk.

Seperti yang kita rasakan bersama, di era milenium sekarang ini, ujian yang paling berat adalah kejujuran dimana sulit sekali mencari orang yang jujur, pemimpin di tuntut supaya jujur kepada rakyatnya, tokoh agamapun harus jujur kepada umatnya, siapapun dan profesi apapun harus jujur kepada pekerjaannya, begitupun masyarakat agar supaya jujur kepada dirinya dan kepada orang lain.

Maka kalau sudah tercipta hal seperti ini tidak akan banyak berita bohong dan fitnah yang beredar di media sosial, hari ini masyarakat saling menghujat saling memfitnah dan saling membenci di antara sesama umat Islam, ini hanya hal sepele saja sebenarnha soal perbedaan pilihan dan dukungan, orang yang dia idolakan tidak terpilih menjadi pemimpin, akhirnya benci yang berkepanjangan, kepada pemimpin yang terpilih, tanpa menghiraukan kepntingan bangsa dan negara, padahal urusan Negara jauh lebih penting dari segalanya.

sehingga apapun yang dilakukan oleh pemimpin yang terpilih, dianggap salah terus dan tidak ada benarnya, bahkan kalau ada individu dan kelompok yang mendukung pemerintahan yang sah secara mandataris Rakyat secara demokrasi, merekapun tidak sungkan untuk mencaci maki dan menebar fitnah bagi yang mendukung Negara dan pemerinrahan.

Baik itu kepada ulama atau kepada siapapun yang berbeda pendapat dengannya.

Wabil khusus masyarakat yang tidak paham apa apa, menyerang Nahdlatul Ulama, merendahkan bahkan memfitnah NU serta kyai kyai NU, mereka yakin tidak Tabayun sehingga mereka menjadi korban fitnah.

Padahal alangkah lebih baik kepada mereka sebelum bersikap mencaci maki pelajari dahulu seperti apa perjuangan NU untuk bangsa Indonesia ini. Yang dipertahankan oleh NU bukan individu pemimpinnya tapi exsistensi NKRI nya, jauh lebih mahal.

Hadirin jamaah ‘Idul Fitri yang di Muliakan Allah

Akhir akhir ini, di Indonesia banyak serangan fitnah terhadap para ulama, mereka mencaci maki, mengolok olok dan memfitnah ulama. Tanpa ada adzab dan etika sebagai rakyat Indonesia yang terkenal ramahnya, Asal beda pendapat dan pemikiran bahwa pendapat orang lain itu salah, yang benar adalah pendapatnya sendiri.

Terus bagaimana bisa, kita sebagai masyarakat untuk beragama yang sebenarnya tanpa kehadiran ulama? selama ini kita memahami Islam dan ajarannya melalui peran kehadiran ulama, sementara kita yang baru saja faham agama sedikit sedikit sudah benci kapada ulama, ketika benci kepada Ulama akan berdampak kepada ilmu dan hidup kita, niscaya tidak akan barokah dan manfaat.

Ironisnya, Baru saja paham ilmu dari Browsing internet sudah berani menyalahkan para ulama, yang mana persentasi ke ilmuaan Ulama jauh lebih tinggi dan jauh lebih berjuang terhadap agama dan bangsa indonesia ini, di bandingkan dengan kita! terus apa yang telah kita perbuat untuk Bangsa dan Agama ini? Sementara ulama ulama pesantren sudah jelas banyak membina umat siang dan malam, dan itu adalah bentuk perjuangan yang sangat jelas. Maka ketika kita jauh dari para Ulama dan Fuqoha akan ada tiga dampak terhadap kehidupan kita semua,
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

سياتى زمانٌ على امّتى يفرّون من الالعلماءِ والفقهاء فَيَبْتَلِيَهُمُ اللهُ بثلاثِ بليّاتٍ : اُولاها يَرْفَعُ اللهُ الْبَرَكَةَ من كسبهم , والثانية يُسَلِِّطُ اللهَ تعالى عليهم سلطانا ظالما , والثالثة يخرجون من الدنيا بغير ايمانٍ

“Akan datang suatu masa kepada ummatku dimana mereka lari dari para Ulama dan Fuqoha, makap Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu :

  1. Allah menghilangkan berkah dari rizki
    mereka.
  2. Allah menjadikan penguasa yang
    Dzalim untuk mereka.
  3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia
    ini tanpa membawa iman. ( Al Hadits )

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!

Dari maksud hadits di atas perlu di uraikan begitu dahsyatnya peringatan yang kanjeng Nabi sampaikan dalam hadits tersebut. Dengan memperhatikan kondisi zaman saat ini, dimana sudah banyak ummat Islam yang enggan menuntut ilmu Agama, tidak mau masuk ke Pondok Pesantren untuk belajar ilmu agama dari para ‘Ulama’ dan mengkaji hukum-hukum Islam dari para ahli fikih, bahkan orang tua yang memiliki putra dan putri memberikan kebebasan kepada anak-anak mereka dalam memilih pendidikan mereka tanpa ada usaha atau kemauan untuk mengarahkan mereka agar memperdalam mempelajari ilmu agama di Pondok Pesantren, lebih dari itu anak-anak merekan yang memang sudah belajar di Pondok pesantren mereka tarik kembali untuk kemudian disekolahkan di sekolah-sekolah umum, ini menunjukkan bahwa masa yang disampaikan oleh Rasululloh dalam sabda Beliau tersebut sedang terjadi dan itu di masa kita ini.

Jama’ah ‘Idul Fitri Rohimmakumullah

Dalam hadits tersebut Kanjeng Nabi menyampaikan bahwa Akan datang suatu masa dimana Umat Islam akan menjauhi Ulama’.

Artinya umat Islam akan senantiasa menjauhkan diri mereka dari Ulama’, menghindar dari ulama’, bahkan kalau kita melihat dimasa sekarang ini, bukan saja ummat Islam menjauhkan diri dan lari dari para Ulama’ dan Fuqoha, namun lebih dari itu mereka juga menentang dan memusuhi Ulama’. Bahkan mencaci maki Ulama.

Kanjeng Nabi, melanjutkan bahwa Allah akan memberikan tiga macam bencana kepada Umat yang telah meninggalkan Ulama dan Fuqoha :

Yang pertama adalah Allah akan mengangkat berkah dari apapun yang mereka usahakan. Jika Allah telah mengangkat berkah dari apa yang diusahakan, maka tentu sekali apapun yang dihasilkan dari usaha tersebut, seberapa besarpun keuntungan dan hasil dari usaha tersebut tidak akan mendapatkan berkah dari Allah, yang bahkan bisa jadi akan mendatangkan kemadlaratan dan kesengsaraan baik hidup di dunia lebih-lebih di akhirat kelak’.

Kemudian yang kedua, ketika Ummat telah menjauhi para Ulama’ dan Ahli Fikih, maka Allah akan memberikan penguasa kepada mereka pemimpin yang dzalim. Hal ini bisa kita lihat di zaman sekarang , dimana ada bebrapa pemimpin di negeri ini, yang tidak adil terhadap rakyatnya, padahal dia beragama Islam, tetapi tidak amanah tidak jujur kepada rakyat yang dipimpinnya, tidak mengayomi masyarakat, tidak melayani masyarakat, bahkan malah menganiaya dan mendzolimi masyarakatnya sendiri. Dengan pemimpin-pemimpin yang tidak amanah seperti ini, maka kesengsaraan demi kesengsaraanlah yang akan diterima oleh rakyat.

Kemudian yang ketiga, yang paling dahsyat bencana yang akan diberikan Allah adalah, mereka akan keluar dari dunia/ mati dalam keadaan tidak membawa iman.

ketika Ulama’dan Fuqoha telah dijauhi oleh ummat, maka dihawatirkan kematian yang tanpa membawa iman, sehingga semua amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia menjadi sia-sia hanya karena menjauhkan diri dari Ulama’ dan Ahli Fikih.

الله أكبر الله أكبر
الله أكبر ولله الحمد!

Lalu siapakah Ulama yang semestinya tidak boleh dijauhi oleh kita, mereka adalah sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَه مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama ( Fathir : 28 )

Imam asy Syafi’i Rahimahullah, beliau pernah berwasiat :

“Nanti diakhir zaman akan banyak Ulama’ yang membingungkan umat, sehingga umat bingung untuk membedakan dan memilih yg mana Ulama’ Warosatul Anbiya’ (penerus nabi) dan mana Ulama’ suu’ (jahat) yang menyesatkan umat.”

Imam Syafi’i lalu melanjutkan wasiatnya :

“Carilah Ulama’ yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan orang Munafiq, dan jadikanlah ia sebagai Ulama’ yang membimbingmu, dan jauhilah ulama’ yang dekat dengan orang Kafir dan Munafiq kerana ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari keredhaan Alloh.”

Hadirin Jama’ah ‘Idul Fitri Rohimmakumullah

Kalau kita buka sejarah kebelakang, Telah terjadi fitnah besar di dunia Islam setiap penghujung satu abad, atau seratus tahun, sebagaimana kata Ibnu Abi Khatim dalam tafsirnya :

قَالَ ابْنُ أَبِيْ حَاتِمٍ فِي تَفْسِيْرِهِ :
عَنْ عَبْدِ اللِه بن عَمْرٍوبِنْ العَاصِ قَالَ : “مَا كَانَ مُنْذُ كَاَنتِ الدُّنْيَا رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ إِلَاكَانَ عِنْدَ رَأْسِ المِائَةِ أَمْرٌ”

Ibnu Abi Khatim berkata dalam Tafsirnya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al Ash, bahwasanya beliau berkata: “Sejak Dunia tercipta, di setiap penghujung satu abad akan terjadi sebuah peristiwa besar”

Salah satu contoh, Fitnah yang terjadi di penguhujung abad kedua Hijriah adalah fitnah bahwa al Quran yang semula diyakini sebagai Kalamullah yang bersifat Qodim, tiba-tiba berubah di masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun bin Harun Al-Rosyid. Beliau menetapkan bahwa Madzhab resmi Negara adalah Aqidah Mu’tazilah. Otomatis, pada masa itu pemerintah menegaskan kepada masyarakat bahwa Al Quran adalah Makhluk Allah yang Bersifat hadist (baru).

Beliau juga menjelaskan bahwa fitnah ini merupakan salah satu fitnah terbesar. Tragedi ini merupakan tragedi pertama dimana pemerintahan Islam menyerukan sebuah Bid’ah kepada Muslimin sementara khalifah-khalifah sebelumnya tidak pernah menyerukannya.

Salah satu ulama yang menjadi korban fitnah ketika itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, pencetus Madzhab Hambali. Beliau sempat didatangi oleh utusan pemerintah yang bertanya  mengenai pendapat beliau tentang Al Quran. Hebatnya, beliau berani menjawab bahwa Al Quran itu Kalamullah yang bersifat Qodim. Sehingga pemerintah menjebloskan beliau ke penjara. Akhirnya aliran Mu’tazilah dicopot sebagai madzhab resmi negara pada masa Khalifah al Mutawakkil tahun 487 H.

Kejadian dahsyat berikutnya yang terjadi pada abad ketiga adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Yahya al-Qurmuthi. Ia terus berusaha merebut mahkota kesultanan sampai akhirnya terbunuh pada tahun 390 H.

Pada abad ini, juga terjadi pembunuhan terhadap sejumlah Ulama dan Qodhi ( Hakim ). Hanya perbedaan pendapat saja, banyak ulama dan Fuqoha yang di bunuh dan di intumidasi oleh lawan debatnya, dan sejarah telah mencatat atas kejadian di penghujung abad ke tiga sebagai wujud penghianatan terhadap para Ulama dan Fuqoha.

Jangan sampai terulang kembali kejadian di abad ketiga ini dengan kondisi sekarang, walaupun satu sama lain di Indonesia, ada beberapa kelompok atau ormas Islam yang bersebrangan pendapat dan merasa dari mereka benar pendapatnya. Tetapi jangan merasa benar sendiri tetap kita kembalikan kepada jati diri sebagai bangsa Indonesia yang dari dulu selalu menerima perbedaan pendapat tanpa konflik. Mungkin orang merasa benar sendiri dikarenakan dia merasa lebih dekat dan lebih Tho’at kepada Allah dan merasa Amal ibadahnya yang paling benar, sehingga muncul kesucian diri yang paling benar itu adalah saya.

Padahal Imam Syakh Atoi’illah dalam kitab Syarhul Hikam mengatakan :

اَنْتَ اِلَی حِلْمِهِ اِذَا اَطَعْتَهُ اَحْوَجُ مِنْكَ اِلَی حِلْمِهِ اِذَا عَصَيْتَهُ

“ANTA ILAA HILMIHI IDZA ATO’TAHU, AKHWAZU MINKA ILAA HILMIHI IDZA ‘ASOYTAHU”

Artinya : ” Dimana kamu to’at kepada Allah, maka kamu lebih membutuhkan kebijaksanaan dari Allah, dari pada kamu bermaksiat kepada Allah ”

Maksudnya, harus membutuhkan kebijaksanaan dari Allah itu adalah karena sifatnya manusia dimana mana toat/ibadah kepada Allah suka punya rasa bahwa dirinya yang paling benar, suka timbul rasa saya paling sholeh dan paling dekat dengan Allah, dan merasa lebih hebat dari pada orang lain. Akhirnya teriindikasi sifat Takabbur malah suka menghina dan merendahkan terhadap orang lain, yang belum bisa tooat seperti dia sendiri, karena dia punya rasa bahwa dirinya telah diberikan pahala yang besar oleh Allah hasil dari ketoaatnnya, kalau istilah bahasa sunda ( Asa ka aleum tur ka ogo ) sehingga merasa dimanja bahwa Allah itu hanya bersama dia saja, dan itulah yang disebut sifat culangong ( sifat yang sangat tidak terpuji ).

Semoga dengan momentum Idul Fitri ini kita saling mengerti satu sama lain, tidak boleh memperpanjang permusahan, mari kita hentikan saat ini, kita tidak boleh mewariskan kejadian negatif hari ini ke generasi kita yang akan datang. Malu kalau permaslahn bangsa saat ini menular ke genarsi berikutnya. Mari saling memafkan dan saling menebar kasih sayang ( Rahmah ) diantara sesama umat manusia.

Kita jadikan Lebaran Idul Fitri ini sebagai pemersatu umat walaupun kita berbeda pemahaman dan pendapat. Kepentingan kita sama adalah menjadi Hamba yang baik di sisi Allah SWT. Karena walaupun berbeda keinginan dan pemikiran tetap kita sebagai Bangsa Indonesia yang mempunyai kepribadian rendah diri.( Tawadlu ).

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”

Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

 

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

واﷲ الموافق الی اقوا م الطارق

Mohon maaf apabila ada kesalahan kata, lafadz dengan i’robnya, mohon untuk diperbaiki.

مجلس الذكر والصلوات رجال لا نصار جوا برات

PW. MDS RIJALUL ANSOR JAWA BARAT
Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H

Semoga segala amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin

Oleh : H. Ahmad Anwar Nasihin
(Ketua PW. MDS Rijalul Ansor Jawa Barat) 

pwansorjabar.org

Tags:
banner 468x60 banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: