Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

Kemanakah Arah Pergerakan Generasi Milenial kini?

Nahdloh.com

Terlalu banyak permasalahan yang menjadi ancaman serius di negara kita, Angkatan militer yang ingin selalu dihargai, fanatisme keagamaan yang dijadikan pondasi bernegara, kebebasan berpikir dibatasi. Sungguh ini jaman modernisasi yang dipenjara. Perkembangan IPTEK pesat berlari membuat masyarakat mudah terprovokasi. Konyolnya ruang mahasiswa pun dikebiri. Orang tua yang masih hidup zaman sekarang adalah generasi milenial (generasi y) dibuktikan dalam kehidupannya yang terus diajarkan kepada anak cucunya.

Mempengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati sosio-sejarah yang sama. Artinya “Sekalipun memiliki karakter yang berbeda, tetapi tetap saling mempengaruhi”. (Karl mainheim:1923) Saya pikir pergeseran generasi justru akan menjadi cikal bakal penebaran kasih antar sesama, antonim terjadi yakni saling memakan bangkai saudara sendiri. Kebhinekaan, Pancasilais, NKRI, nyatanya menjadi semboyan semata. Ektremisme, kekiri-kirian, kekanan-kananan toh malah dijadikan lahan konflik, sejatinya menjadi literasi asik agar tidak tergerus menjadi alat produksi yang diprakarsai kapitalis.

Mahasiswa sosok independen dalam mengejawantahkan hak sipil dan hak politik, kebebasan akademik merupakan tahta  tertinggi dan tetap harus dijunjung. Apalagi mengenai kajian ilmiah, radikal, ektremisme karena itu corak berpikir mahasiswa. Konstruktif paradigmatik perlu dan terus dikembang biakan kearah pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Lalu bagaimana hubungan dengan vigilantisme keagamaan? Vigilantisme semacam kelompok diluar kampus yang selalu jadi aktor utama untuk menghambat proses pengembangan kajian belakang belakang ini, heranya agama adalah bungkus gerakannya. Apakah ini menjadi sebuah ancaman ?Jelas, ini senjata mereka. Kebebasan Akademik dicantumkan dalam bagian ketiga (hak mengembangkan diri) pasal 11 – 16 Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 tahun 1999 yang gamblang dijelaskan bahwa kebebasan berpendapat, berserikat itu diperbolehkan. Kendati demikian pengembangan diri dilingkup kedalam ruang akademik. Lalu bagaimana peraturan pendidikan? Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi mencantumkan kebebasan akademik pada Bab VI pasal 17-20 yang mengamanatkan mahasiswa “Agar kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan merupakan kebebasan akademik sebagai civitas akademika dalam menjalankan aktifitas pendidikan dengan bertanggung jawab dan mandiri” . Kemudian Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional mengatur pula hak dan kewajiban masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan pada bagian ketiga pasal 8-9 yang bernadakan dorongan segala bentuk kegiatan yang bersifat kemajuan dalam penyelengaraan pendidikan.Sedang aktor utama ancaman kebebasan akademik adalah elemen masyarakat (ormas).

Pergeseran zaman yang membodohi atau ada dalang yang ingin berkuasa ? Hegemoni ancaman kebebasan akademik semakin mengkristal dan sistematis, aparat keamanan, birokrasi, hingga masyarakat awam sudah menggumpal menjadi senjata sekaligus peluru yang akan mematikan insan akademis, counter hegemoni juga bagian strategi defensive mahasiswa harusnya. Semoga lekas bangun dan kembali hidup seperti yang disemogakan.

Oleh: Rizal Muttaqin

(Ketua Komisariat PMII UIN SGD Cab. Kabupaten Bandung) 

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan