banner 728x90

Kader PKS Dwi Estiningsih, Angkuh Namun Pengecut

Kader PKS Dwi Estiningsih, Angkuh Namun Pengecut

Nahdloh.com~ Melihat akun twitter Dwi Estiningsih, saya jadi migren dengan istilah pahlawan kafir. Ini maksudnya mungkin pahlawan Indonesia yang non muslim, jadi disebut pahlawan pahlawan kafir. Bukan pahlawan yang membela kepentingan-kepentingan kafir.

Apa yang dipertanyakan oleh Estiningsih merupakan pertanyaan standar dari orang-orang yang kurang beruntung dan tidak mampu mengenyam pendidikan, tapi fanatik terhadap Islam.

Jika ada yang juga mempertanyakan dan setuju dengan opini Estiningsih, kita tak perlu terlalu bersikap reaktif. Sebab inilah salah satu kenyataan dan kegagalan negara ini dalam memberikan fasilitas pendidikan yang baik bagi rakyatnya.

Dan suka tidak suka, pertanyaan Estiningsih ini cukup masuk akal. Kenapa 5 dari 11 orang pahlawan yang dipilih adalah pahlawan dengan agama non Muslim?

Pertanyaan ini mengingatkan saya pada kejadian baliho milik UKDW yang diminta diturunkan karena menggunakan model mahasiswi berkerudung.

UKDW diprotes karena dianggap menggunakan simbol Islam (kerudung) padahal mereka adalah universitas kristen. Meskipun selama ini mereka menerima mahasiswa Muslim, tapi tetap saja mereka adalah universitas kristen dan tidak boleh menggunakan simbol-simbol Islam, begitulah pemikiran kelompok tukang sweeping yang mendatangi UKDW.

Padahal menurut rektor UKDW sendiri, pemilihan model mahasiswa berdasarkan prestasi. Dari sekian banyak mahasiswa Kristen, salah satunya adalah mahasiswi Muslimah dan berkerudung.

Sekarang melihat Estiningsih mempermasalahkan pahlawan kafir di uang kertas, ini jadi kebalikan dengan kasus UKDW menampilkan model muslimah di baliho mereka. Jadi sebenarnya kalau kita mau berpikir sedikit saja, mereka ini adalah orang-orang yang akan selalu negatif dengan apapun di masa pemerintahan Jokowi. Apapun!

Orang Muslim nampil di baliho mereka protes, orang non muslim nampil di uang kertas, pun mereka protes. Jadi semua serba salah. Pokoknya harus salah. Bahkan andai gambar yang dipasang adalah monyet pun akan disalah-salahkan. Sebab apa? Sebab Presidennya Jokowi. Haha

Jadi, apapun yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dan jajarannya, akan dinilai salah semua. Semuanya! Lihatlah betapa bagusnya program tax amnesty, tapi kemudian ditolak oleh Fahri karena dianggap memasukkan uang haram dari luar atau membantu para pencuci uang memasukkannya ke Indonesia dan seterusnya. Atau pembangunan infrastruktur yang selama ini mangkrak kanan kiri, setelah Jokowi membereskannya, malah disebut buang-buang uang, tidak perlu.

Untuk itu menurut saya, orang-orang seperti Estiningsih merupakan orang yang normal di kalangan kaum salawi. Untuk menjadi kaum salawi memang harus punya pemikiran seperti itu. Jika tidak, maka dia akan dinilai tidak normal di kalangannya.

Sebenarnya mereka lucu dan menggemaskan, hanya saja sayangnya sudah emak-emak atau om-om, jadi kelihatan titik-titik. Tidak sesuai karena bukan masanya. Seperti pramugari yang datang ke masjid dengan seragam rok yang belahannya 10 senti di atas lutut.

Angkuh tapi pengecut

Hal yang juga tidak sesuai dalam diri Dwi Estiningsih adalah angkuh namun pengecut. Sebelum dilaporkan ke Polisi, Estiningsih sempat begitu angkuh karena belum ada yang menuntutnya secara resmi. Sebab masyarakat menyebutnya penyebar hoax, dan memang bukan pertama kalinya dia menyebar hoax.

Lalu sekarang setelah ada tuntutan resmi -meskipun bukan soal hoax- kemudian muncul permintaan maaf. Namun permintaan maaf tidak keluar langsung dari mulut Estiningsih, tapi hanya melalui kuasa hukumnya. Dan sampai sekarang Dwi Estiningsih belum mau meminta maaf, malah membuat klarifikasi untuk menyatakan bahwa dirinya tidak salah mengatakan pahlawan kafir dan menyebut bahwa lebih banyak kafir pengkhianat.

Luar biasa kan? Estiningsih begitu angkuh dengan menyebut dirinya pura-pura heran karana tidak pernah dituntut, namun setelah dituntut oleh suatu kasus pahlawan kafir dan kafir pengkhianat dia malah membuat klarifikasi, kemudian menyuruh kuasa hukumnya meminta maaf atas nama dirinya.

Seharusnya kalau memang merasa benar, hadapi saja proses hukum atau meminta maaf secara terbuka seperti Ahok, itu baru berani berbuat berani bertanggung jawab, berani minta maaf. Bukan malah mengklarifikasi dan menganggap kita tidak paham, tapi di sisi lain berharap kasus ini tidak dilanjutkan.

Mewakili masyarakat yang sangat terganggu dengan tweet Estiningsih, saya harap proses hukum dilanjutkan sampai memenjarakan emak-emak ini. Supaya ke depan dia tidak heran lagi kenapa tidak ada yang menuntutnya. Minimal dia tau bahwa apa yang dilakukannya itu salah.

Begitulah kura-kura

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan