Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

Jadikan Tradisi Mudik Sebagai Potensi Ekonomi Daerah

Nahdloh.com

Mudik adalah tradisi warga Indonesia pulang ke kampung halamannya untuk menuangkan rasa rindu kepada keluarga, berkumpul bersama, dan membagi kebahagian bersama. Waktu mudik yang tidak lama, kemudian dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga dicukupkan untuk menjadi penawar kerinduan yang tersimpan lama.

Ada hal yang menarik dalam tradisi mudik lebaran ini, selain menjalin silaturahmi, berkumpul dengan keluarga, tradisi mudik lebaran tersebut merupakan potensi penguatan ekonomi daerah.

Dalam penguatan ekonomi khususnya Kota Tasikmalaya, ada dua unsur yang harus diperkuat, Pertama : menciptakan lebih dari 2% penduduk daerah sebagai pengusaha. Kedua : pemerintah mampu menangkap peluang dan kesempatan untuk memperbesar pemasukan, baik dari PAD maupun Non-PAD.

Parameter yang digunakan untuk mencapai tujuan peningkatan ekonomi daerah itu adalah Falah (kesejahteraan yang hakiki), suatu sistem (Nidhom al-Istishad) yang mengantarkan umat manusia kepada real welfare (kesejahteraan sebenarnya).

Falah (kesejahteraan) yang dimaksud dalam perspektif ekonomi Islam, bukan hanya pada peningkatan pendapatan asli daerah yang tinggi saja, dan bukan hanya satu-satunya komponen pokok yang menyusun kesejahteraan. Ini hanya merupakan necessary condition dan bukan sufficient condition.

Karena Esensi manusia ada pada rohaniahnya, maka seluruh kegiatan duniawi termasuk dalam aspek ekonomi diarahkan tidak hanya memenuhi secara jasadiyah saja, melainkan memenuhi kebutuhan rohani (mannan, 1984).

Apabila Falah (kesejahteraan) tolak ukurnya hanya pada peningkatan Pendapatan asli daerah (PAD) saja, hal tersebut hanya akan mendorong menciptakan manusia yang cenderung hedonis, sehingga dengan bebas memproduksi, mendistribusi dan mengkonsumsi produk-produk yang sisi kemanfataannya useless dan tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya bagi aspek kehidupan lain.

Bagaimana moment mudik ini bisa dijadikan sebagai peluang dan kesempatan bagi Pemerintah Daerah untuk menambah pemasukan di luar pendapatan asli daerah (PAD)?. Berdasarkan sebuah penelitian, biaya terbesar yang dikeluarkan pemudik ini adalah biaya Tranportasi, Shodaqoh kepada kerabat, kebutuhan Wisata dan pribadi.

Mengingat hal tersebut, Kota Tasikmalaya merupakan kota kecil yang terdiri dari 10 Kecamatan dan 69 Kelurahan dengan lokasi yang sangat strategis untuk berbisnis, teritorial dengan batas kota antara Kab.Tasik dan Ciamis ditambah daya beli masyarakat yang sangat tinggi. Ini akan menjadi modal utama untuk mendorong penguatan ekonomi daerah.

Faktanya pada bulan Ramadhan, apalagi menjelang lebaran, pusat pembelanjaan, pusat Kota, pasar modern, pasar traditional, bahkan pedagang musiman di setiap bahu jalan pun kecipratan berkah, selalu dipadati pengunjung.

Apabila diasumsikan, 100 ribu dari jumlah penduduk satu daerah yang membelanjakan uangnya pada bulan ini, hanya dengan Rp50.000 saja sudah mencapai 5 Miliar uang yang beredar.

Selain itu, moment Mudik ini bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk khas setiap kampung, khusus di Kota Tasikmalaya. Bahkan bisa dijadikan sebagai sarana promosi “gratis” langsung kepada konsumen untuk memperkenalkan dan memperluas wilayah distribusi, sehingga produk lokal dengan mudah bisa bersaing di lebih luas dan bisa membumi di seluruh indonesia bahkan luar negeri.

Dengan demikian, harus ada peran pemerintah secara terarah, dan terencana dengan baik mulai tingkatan Kota hingga Kelurahan dalam mempertajam meningkatkan kualitas produk-produk lokal sehingga mampu bersaing.

Bisa kita bayangkan, ketika setiap Kecamatan atau Kelurahan di Kota Tasikmalaya mempunyai produk khas yang mampu bersaing di dunia pasar luas, maka bukan hanya akan mencapai peningkatan ekonomi daerah, 2% dari penduduk adalah pengusah bisa tercapai, bahkan akan menjadi solusi masalah klasik terkait dengan kemiskinan.

Sebuah keterangan menyebutkan “alhaqqu bila nidzom yaghlibuhul bathil binnidzom (kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir)”. Bermuamalah adalah kebaikan, bahkan dianjurkan dalam Al-Qur’an, tetapi apabila tidak diorganisir dengan baik (oleh pemerintah), maka akan sia-sia, sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan tidak tercapainya tujuan bersama.

Penghujung Ramadhan 1438 H.
Ricky Assegaf

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan