Kirab Satu Negeri, #KitaIniSama Bela Agama, Bangsa Negeri!!
banner 728x90

ISLAM NUSANTARA DAN DERADIKALISASI

NAHDLOH.COM

Islam Nusantara kini diperbincangkan oleh banyak kalangan, sepintas memang aneh, Islam kok ” Nusantara”, tapi ada yang lebih aneh “UIN JAKARTA ” ( Universitas Islam Negeri Jakarta) ” Apaan itu Islam Negeri ?? “.

Kearifan lokal suatu negara, atau bahkan suatu daerah pasti berbeda, di sinilah Islam Nusantara hadir untuk berinteraksi dengan budaya.

Ketika Islam tersebut berinteraksi dengan budaya, maka budaya tersebut mengandung nilai Ibadah.

Gus Nadir menyampaikan bahwa ; Islam NUsantara tidak menabrak Syari’at tapi mengisi aplikasi penerapan Syari’at dengan mengkomodir budaya. Dalam bahasa Ushul al-Fiqh ini disebut dengan: al-‘Adah Muhakkamah (adat kebiasaan dijadikan panduan menetapkan hukum).

Begitu juga dengan Kaidah: al-Ma’ruf ‘urfan ka al-Masyrut Syartan (hal baik yg sudah dikenal secara kebiasaan diterima seperti halnya syarat) atau “al-Tsabit bi al-dalalah al-‘urf ka al-tsabit bi al-dalalah al-nash” (yang ditetapkan dengan indikasi dari adat sama statusnya dengan yang ditetapkan berdasarkan petunjuk nash). Ada pula Kaidah lainnya: “Ma raahu al-muslimun hasanan fa huwa ‘indallah hasan” (apa yang dianggap baik oleh umat Islam maka di sisi Allah pun dianggap baik).

Oleh karena itu, Islam Nusantara adalah Islam moderat, lentur, fleksibel tapi juga lurus. Dalam bahasa lain, Istilah NU, tawazun, tasamuh, tawasuth dan i’tidal.

Inilah konsep global untuk deradikalisasi, Kapolri Tito pernah menyampaikan betapa pentingnya penanganan Radikalisme melalui Ideologisasi dengan konsep Islam Nusantara karena penanganan radikalisme – terorisme tidak bisa hanya dengan menangkap dan menembak.

Radikal berawal dari cara pandang/cara berfikir seseorang yang salah, memahami agama dengan pesimis, terbius dengan paradigma-paradigma yang semu dengan di iming-imingi Pahala dan Surga.

Menurut Buya Syafi’i akar permasalahan nya adalah :

Pertama, adalah kegagalan umat Islam dalam menghadapi arus modernitas sehingga mereka mencari dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayangkan belum tercemar.

Kedua, adalah dorongan rasa kesetiakawanan terhadap beberapa negara Islam yang mengalami konflik, seperti Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, Kashmir, dan Palestina.

Ketiga, dalam lingkup Indonesia, adalah kegagalan negara mewujudkan cita-cita negara yang berupa keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata.

Peran serta pemerintah saja tidak cukup, dibutuhkan keterlibatan Ulama Nahdlatul Ulama dalam menyikapi hal ini. Islam Nusantara telah digelorakan sebagai konsep meraih Islam Rahmatan Lilalamin.

Memberikan pemahaman bahwa Islam adalah Rahmah, memberikan rasa aman kepada siapa pun, baik di dunia maupun di akhirat.

Nabi SAW tidak pernah mengajarkan/Berdakwah melalui kekerasan. Sejatinya, Mengajak adalah dengan kelembutan tidak dengan kekerasan atau paksaan.

Memahami ayat-ayat al-qur’an dan hadits harus secara kontektual tidak secara tekstual. Apalagi dalam memahami ayat-ayat perang.

Menampilkan wajah Islam yang ramah-Moderat inipun menjadi tugas berat, terutama bagi elemen Bangsa Indonesia yang belum tertular virus radikalisme atas nama agama.

Pemerintah jangan hanya berusaha menangkis gerakan radikalisme dan terorisme saja. Namun juga, dengan berupaya memperbaiki kondisi bangsa dan kinerja pemerintah, sehingga lebih mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Deradikalisasi juga bisa dilakukan dengan menampakan Islam yang Humanis di akar rumput, dengan Internalisasi Nilai-nilai Islam Rahmatan Lilalamin – Islam Nusantara di majelis Ta’lim, Lembaga Pendidikan, dan lembaga publik lainnya.

Beragama tidak hanya cukup dengan semangat, tetapi harus dengan referensi yang jelas, benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Apabila deradikalisasi ini tidak segera dilakukan mulai dari akar rumputnya, maka semua ini akan menjadi Bom Waktu yang kapan saja bisa meledak.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Ricky Assegaf
(Pojok Saung Hikmah, 11 Juli 2018)

Tags: ,
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: