Kirab Satu Negeri, #KitaIniSama Bela Agama, Bangsa Negeri!!
banner 728x90

Ilegal Fishing dan Pencemaran Laut Adalah Ancaman Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

nahdloh.com

Momen ‎hari laut sedunia yang diperingati pada 8 Juni, diharapkan bisa menyadarkan bangsa ini akan potensi laut supaya hal itu dapat dimaksimalkan secara optimal. ‎Tuhan telah menganugrahkan Indonesia lautan yang luas, di dalam­nya hidup beraneka ragam mahluk hidup.

Pentingnya peringatan hari laut sedunia bukanlah seremonial belaka, sebab laut kita memang sedang mengalami sakit yang parah‎. Selain banyak kapal asing mencuri di wilayah kedaulatan Negara, pencemaran sampah plastik, penyelundupan narkotika hingga penjualan manusia (human traviking). Hal itu membuktikan bahwa Pemerintah harus terus berupaya memaksimalkan penataan dan pengelolaan potensi laut dari berbagai ancaman, mengingat laut adalah masa depan negara.

Kerugian laut Indoneisa dari ilegal fishing, Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya melaporkan pada saat Tadarus Maritim yang dilaksanakan PB PMII di Graha Mahbub Junaidi pada 2 juni 2018 lalu, bahwa pada 2017, tidak kurang dari 7000 kapal asing melakukan pencurian di perairan indonesia.

Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan RI pernah mengungkap­kan bahwa total kerugian negara per tahun dari salah satu sub sektor laut tidak kurang dari Rp 300 triliun. Ang­ka yang cukup fantastis untuk membangun ratusan unit sekolah dan puluhan kilometer jalan tol di Indonesia‎ dan jika dibagikan uang sebesar itu bisa menghidupi fakir miskin yang terdata di badan pusat statistik.

Memang sangat masuk akal bila dikaji dari geostragis dan geohistoris bahwa Indonesia berpotensi menjadi poros maritim dunia manakala sektor maritim kemudian berperan sebagai mainstream pembangunan Nasional. Faktor-faktor kesejarahan, geo strategis, geo politik, dan geo ekonomi haruslah tersanding baik dengan dinamika hari ini.
Bayangkan saja, ‎sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dianugerahi untuk mengelola wilayah laut seluas 5,8 juta km² yang terdiri dari wilayah teritorial sebesar 3,1 juta km² dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif 2,7 juta km², 17.480 pulau dan memiliki garis pantai 95.181 km. ‎

Jika memang potensi itu dimaksimalkan, maka tekad pasangan Presiden Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla bisa tercapai menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, dengan mainstrem ekonomi maritim menjadi penyumbang besar ekonomi negara. Hal itu perlu terus ditegaskan melalui kerja nyata, salah satunya dengan menjaga kedaulatan laut, TNI harus kita dukung agar memusatkan perhatiannya dengan memperketat keamanan wilayah, agar tidak lagi ada kapal – kapal asing berlalu lalang mencuri ikan di wilayah Indonesia.

Kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan di wilayah negara Indonesia yang dikomandoi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan merupakan langkah tegas yang harus didukung dan dilanjutkan. Kita harus memastikan bahwa tidak boleh adalagi pencurian apapun dengan modus apapun, meski itu hanya satu butir garam.

Pencemaran Laut dan ketidak bijakan memanfaatnya akan mengancam ekosistem

Namun tekad menjadikan Indoneisa menjadi poros maritim dunia masih tidak lekang dari berbagai ancaman, salah satunya pencemaran ekosistem melalui limbah plastik, yang disumbang gara-gara pola hidup masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan, seperti sampah pelastik dan limbah industri yang mengalir ke laut.

Menurut hasil penelitian tim peneliti dari Australia dan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Dr. Jenna Jambeck, Dosen Universitas Georgia dan telah diterbitkan di Jurnal Science, menyatakan Air Laut Indonesia sendiri sudah 70% tercemar dan pencemaran ini disebabkan oleh sampah plastik sisa masyarakat. Tidak kurang dari 275 juta ton sampah dihasilkan pada tahun 2010 di seluruh dunia menyumbang Sebanyak 4,8 hingga 12,7 juta meter ton sampah dari botol plastik, bungkus plastik dan sampah plastik jenis lainnya, hanyut dan mencemari laut.

Indonesia sendiri termasuk ke dalam lima negara kontibutor ke empat pencemar sampah plastik tertinggi selain China, Filipina, Vietnam dan Thailand. Penelitian tersebut, dinyatakan bahwa masyarakat pesisir dunia menghasilkan sekitar 3,22 juta ton meter sampah plastik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 0,48 juta hingga 1,29 juta ton meter hanyut ke laut. Ini merupakan ancaman bagi masa depan laut, karena lingkungan yang bersih merupakan hak bagi seluruh alam.

Oleh karena itu, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan berkewajiban melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, supaya lingkungan hidup Indonesia, terutama laut dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lainnya, karena ancaman pencemaran lingkungan akan berdampak pada estetika dan ekosistem biota laut lain yang terkandung didalamnya seperti ikan, terumbu karang serta kesehatan air.

Semua kemungkinan buruk dapat diantisipasi jika semua pemangku kepentingan mau bahu membahu berkerja sama untuk mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia denganmenjaga ekosistem dari pencemaran lingkungan

Selamat Hari Maritim Dunia !!

Oleh : Ayi Sopwanul Umam

(Ketua PB PMII Bidang Kemaritiman)

Tags: ,
banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: