Tahun Politik, Tetap Jaga Ukhuwah!!
banner 728x90

Hj. Euis Muhaemin, Sosok Teladan Keluarga, Fatayat dan Masyarakat

 

nahdloh.com

Hj. Euis Muhaemin lahir di Padaherang, Kab. Ciamis pada 15 april 1955, Lahir dari pasangan Hj. Titi Siti Aisyah dengan H. Nana Sumpena. Memulai pendidikan formal di SD Padaherang dan melanjutkan pendidikan menengah di SLTP Sekolah kepandian Putri (SKP) di Tasikmalaya sekarang Perwari. Hj. Euis Muhaemin selanjutnya memilih mengenyam pendidikan Pesantren di Cintapada dari tahun 1969 sampai tahun 1972 dengan berguru langsung pada Hajah Nonoh, selama tiga tahun mondok di cintapada Hj. Euis Muhaemin Muda hanya fokus mengaji di pesantren tanpa mengikuti kegiatan organisasi di luar pesantren.

Sebagai putri dari pengusaha tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang istri kyai, beliau tidak pernah mengenal masa pacaran awalnya suka mengikuti pengajian ke Pesantren Cicapar Padaherang Banjarsari dari situ bertemu dengan kyai muda Abdullah Muhaimin. Pada april tahun 1972 Hj. Euis Muhaimin dipersunting oleh Kyai muda Abdullah Muhaimin Putra KH. Bustomi pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Awipari.

Tahun 80an Kyai Abdullah Muhaimin menjadi ketua Ansor Kabupaten Tasikmalaya, maka beliaupun turut aktif di Fatayat. Melalui Konferensi Cabang tahun 1985, bertempat di Argasari yang dihadiri oleh Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Tasikmalaya, Ibu Hj. Euis Muhaimin terpilih memimpin PC Fatayat NU kabupeten Tasikmalaya mengungguli Ibu Hj. Lilis Muhlisoh.

Saat itu, yang menjadi masalah nasional adalah angka kematian bayi sangat tinggi yang disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu untuk memeriksakan dan memberikan imunisasi pada bayi ke pusat kesehatan atau Posyandu, kala itu ibu-ibu takut memberikan imunisasi pada bayinya, oleh karena itu Pimpinan Pusat bekerja sama dengan UNICEP menggalakan program Bina Balita. Bersama tiga anggota pengurus lain yakni sahabat Yayah guru MANU Tasikmalaya dan sahabat hajah Dedeh dari Pesantren Cipasung, Hj. Euis Muhaimin yang baru tiga bulan melahirkan tentu hal itu menjadi pengalam dan tantangan tersendiri dengan membawa bayi tiga bulan harus mengikuti acara selama tiga hari di Jakarta.

Pasca acara pelatihan fasilitator Bina Balita di tingkat Pimpinan Pusat, tim yang beranggotakan tiga orang tersebut membina fasilitator cabang yang terdiri kader fatayat Ranting dan Anak Cabang. Fasilitator tersebut bekerja sekaligus motivator dan membina ibu-ibu agar memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk melakukan imunisasi terhadap bayi serta aktif mengikuti Posyandu untuk memantau kesehatan ibu dan bayi. Tim fasilitator belusukan ke daerah-daerah untuk mensuskseskan program Bina balita melalui edukasi program tersebut dalam Yaumul Iztima di tiap ranting dan anak cabang. Dengan usaha keras pengurus pada program bidang kesehatan itulah, PC. Fatayat Tasikmalaya berhasil mendapatkan penghargaan dari pimpinan Pusat Fatayat.

Hj. Euis Muhaimin (kerua dari kanan), pada acara Puncak peringatan Harlah Fatayat NU Tahun 2018

Kini beliau hari-harinya disibukan dengan mengasuh santri-santriyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Awipari. Ke depan beliau berharap dapat mendirikan pesantren takhosus putri dan takhosus putra. tantangan pendidikan di zaman milenial ini sungguh berat, merosotnya implementasi nilai-nilai agama, akhlaqul karimah dalam kehidupan remaja sehari-hari dan tentangan dampak negatip pergaulan bebas sangat membahayakan masa depan generasi muda, maka kaum ibu harus mampu menjadi figure teladan bagi anak-anaknya, peran pesantren harus semakin kuat dalam membenahi akhlak generasi muda melalui Pendidikan agama, tandasnya. (NUNUN NURAENI)

Tags:
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: