Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan Nasional, Semoga NKRI Senantiasa dalam Lindungan Allah SWT
banner 728x90

‘Full Day School’ Penduniawian Pendidikan

Nahdloh.com

Pendidikan sebagai upaya membentuk karakter manusia, hal ini menjadi kongruen akan pernyataan “manusia sebagai mahluk terbaik di muka bumi ini”. Pendidikan hari ini dihadapkan pada kondisi dan situasi yang cukup sulit, pendidikan diharuskan mencetak kader bangsa yang lebih baik, kader bangsa yang hebat dengan mental dan karakter yang hebat pula, untuk membentuk bangsa yang “baldatun toyyibatu warubbun ghofur”. Tentunya hal ini tidak bisa diraih hanya dengan mengunggulkan satu jalur pendidikan saja.

Pendidikan mempunyai peran yang strategis dalam menciptakan generasi bangsa yang unggul. Mengukur suksesnya pendidikan membutuhkan waktu yang sangat lama, pendidikan bukan semata belajar ilmu saja, tetapi bagaimana membuat manusia mampu memberikan manfaat untuk masyarakat, karena itulah makna dari sebuah “Tarbiyah”.

Berbagai konsep pendidikan yang ditawarkan oleh para pakar pendidikan, termasuk “Full Day School” yang hari ini akan diluncurkan oleh Kemendikbud. Semua ini tiada lain untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang, tetapi pada akhirnya semua akan bermuara pada bagaimana perubahan karakter manusia, perubahan akhlaq manusia.

Rencana pemerintah akan menerapkan “Full day School” pada tingkat Pendidikan Dasar kiranya ini bertolak belakang dengan budaya dan tradisi Pendidikan Indonesia, bahkan tidak relevan dengan Almuhafadhotu ‘ala Qodimi Sholih, wal akhdu bil Jadidi Ashlah, jangan lalu kemudian menerapkan hal yang baru, sedangkan hal yang lama yang baik tidak dirawat. Seharusnya Mendikbud merumuskan formulasi pendidikan yang menguatkan Pendidikan Umum dan Pendidikan Diniyah, bukan malah mengkebiri Pendidikan Diniyah dengan Full day school.

Full day school akan menjadikan sebuah proses ‘Penduniawian Pendidikan’, yang akan mempersempit arti Pendidikan (Tarbiyah), dengan memudarkan nilai keyakinan, keluhuran budi pekerti. Pedahal, nilai keyakinan, susila, budi pekerti, adalah penopang berlangsungnya keta’atan pada hukum agama, ketundukan pada kebenaran akidah dan kesediaan memelihara akhlak mulia yang selalu digembor-gemborkan Kemendikbud dengan istilah “Berkarakter”.

Dengan ‘Penduniawian Pendidikan’ ini, bukan hanya akan mempersempit, mengkebiri ruang gerak Pendidikan Agama, malah akan memporakporandakan menjadi dua wilayah. Pertama pendidikan agama, yaitu wilayah pendidikan agama yang “biasa-biasa saja”, Pendidikan Informal (sekolah diniyah) yang tidak memiliki arti strategis, dan yang Kedua, wilayah “Vital” Pendidikan Formal (Sekolah Dasar) yang menjadi tumpuan harapan.

‘Penduniawian Pendidikan’ Ini mau tidak mau kemudian dianggap sebagai “Wilayah Gawat”, ketika pendidikan digunakan hanya untuk mencapai tujuan duniawi saja, mencari kepandaian pribadi saja, tidak untuk kemanfaatan, mengabdi kepada orang banyak.

Kita tahu, bahwa pendidikan tertua di Indonesia dan memiliki sistem pendidikan yang telah terukur adalah Pendidikan Berbasis Pesantren. Kita tahu, ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, kondisi Pendidikan masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hampir 70% warga masyarakatnya buta huruf, tetapi hari ini kita saksikan bersama, perkembangan pendidikan sangat pesat, Indonesia mampu bersaing dengan negara lain dalam berbagai hal, Indonesia tetap aman, nyaman, dan tentram. Semua ini tiada lain atas jasa para pejuang pendidikan terdahulu, yang selalu mengedepankan pengabdian untuk masyarakat banyak dan tidak mendikhotomi pendidikan, karena pendidikan memiliki nilai nilai yang sama.

Saya teringat dengan (alm) Gus Dur, ketika itu beliau mengutif statemen Imam Syafei, yang berbunyi “Man ‘Arafa Tarikh, Zaada `Aqluhu” barang siapa tahu sejarah, maka akalnya akan bertambah bijak. Dengan begitu kita hanya bisa menyaksikan, sejarah jualah yang akan menentukan, apakah kerja yang dilakukan memiliki nilai atau tidak. Semoga Pendidikan di Indonesia selalu ada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Oleh: Ricky Assegaf
(Ketua PC GP. Ansor Kota Tasikmalaya, Kepala Madrasah Aliyah dan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikmah Mugarsari Kecamatan Tamansari)

Tags: ,
banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan