Semoga 2019 Lebih Berkah! Selamat Menyambut Tahun Baru Syamsiyyah
banner 728x90

Bukan Demak, Tapi Lumajang Kerajaan Islam Tertua Di Jawa

Oleh: Tim Nahdloh. Com

Bukan Demak, tapi Kerajaan Lumajang l20161021_234209ah Kerajaan Islam Tertua di Pulau Jawa. Lah kok begitu?. Dalam pelajaran sejarah sekolah, memang kita di doktrin untuk meyakini Kerajaan “Tertua” di Jawa adalah Demak. Disana diceritakan Raden Patah, raja pertama Kerajaan Islam berbentuk Kesultanan itu menjadi kekuatan baru mewarisi Majapahit.

Dalam berbagai su mber, Demak disebut pelopor pertama penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara denga salah satu peninggalannya Masjid Agung Demak. Meski tak lama medio 1475 -1548, Demak tercatat dalam sejarah kita sebagai Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Proses lahirnya Demak pun dilatar belakangi konflik. Raden Patah memerangi Ayahnya Brawijaya (Raja Majapahit terakhir) agar masuk Islam.

20161021_234125Latar konflik inilah yang secara sistematis diwariskan Kolonial Belanda kepada anak-anak bangsa melalui sekolah. Maka konflik seolah menjadi cara peralihan kekuasaan bangsa ini,” kata Sejarawan NU, Agus Sunyoto dalam Bukunya Atlas Wali Songo, Juni 2016 lalu. Lantas bukti sejarah apa yang bisa meluruskan?. Agus dalam Buku Atlas Wali Songo menyatakan Kerajaan Lumajang berdiri awal abad 12 . Ketua PP Lesbumi NU itu denga gamblang menyampaikan hasil penemuannya yang bertolak dari artefak dan ideofak yang bisa dilacak. Sebagaimana disebut dalam “Prasasti Mula Malurung” bahwa ada Kerajaan bernama Lumajang yang merupakan bagian dari Kerajaan Singasari, yang dirajai oleh Naraya Kirana, puteri Prabu Seminjngrat Wisnuwardana.

Naraya Kirana memiliki putra bernama Arya Wiraraja yang mengabdi sebagai Demung di Singasari. Arya Wiraraja oleh keturunannya Arya Pinatih di Bali diyakini beragama Islam. Terbukti setiap tahun mak20161021_234240am Arya Wiraja diziarahi oleh keturunannya yang muslim.

Adanya Kerajaan Lumajang juga bisa dibuktikan lewat “Situs Biting” di Dusun Biting Desa Kutorenon Kecamatan Sukadana Kabupaten Lumajang Jawa Timur yang sudah dibicarakan oleh J. Magmen tahun 1861.

Tahun 1920, A. Muhlenfeld seorang Belanda melakukan penggalian dan pendokumentasian Situs Biting. Tapi tak dipublikasikan secara besar-besaran, berbeda kepada hasil penemuan situs-situs Candi Hindu, Budha, reruntuhan Keraton, pintu gerbang dan prasasti.

Situs Biting pun hilang dari sentuhan penelitian. Namun tahun 1982, Kantor Dikbud Lumajang melakukan proses rekontruksi dan penggalian kembali Situs Biting berdasar laporan dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Ditemukan ad20161021_234151anya sisa-sisa dinding benteng kuno dengan struktur bangunan dari bata dan temua wadah gerabah, fragmen keramik serta reruntuhan yang berasal dari abad ke-14 sampai 20 masehi yang tersebar diarea sangat luas sekira 135 hektar. Bangunan yang paling mengesankan adalah bekas tembok benteng dengan panjang 10 kilometer, lebar enam meter dan tinggi 10 meter.

Kawasan Situs Biting ditafsirkan sebagai kawasan Ibu Kota Kerajaan Lumajang yang dipimpin Prabu Arya Wiraraja yang makamnya masih diziarahi sampai sekarang.

Dengan temuan situs purbakala beserta artefak-artefak serta topinim-toponim nama tempat telah menguak keberadaan Kerajaan Lumajang sebagai Kerajaan Islam tertua di Pulau Jawa. Sehingga sejarah kebesaran bangsa terkuak apa adanya sebagai keagungan dan kemuliaan peradaban agung leluhur bangsa. *

banner 200x200 banner 468x60

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

Suara Nahdliyyin
About
%d blogger menyukai ini: