banner 728x90

Bantahan Lengkap Atas Fitnah Pada Ketum PBNU, KH. Said Aqil Siraj: Sistematis Mereka Sebar Kebohongan untuk Hancurkan NU

Bantahan Lengkap Atas Fitnah Pada Ketum PBNU, KH. Said Aqil Siraj: Sistematis Mereka Sebar Kebohongan untuk Hancurkan NU
KH. Said Aqil Siradj

Nahdloh.com~Seperti mereka yang tidak pernah lelah mencaci, memfitnah Kyai kami, maka kamipun takan pernah lelah memberikan klarifikasi klarifikasi atas tuduhan tuduhan keji kepada Kyai kami !!!

Banyak fitnah mendera NU dan Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj di media abal-abal penuh fitnah. Masih banyak yang menanyakan kebenaran kabar tersebut. Dan berulangkali tidak terbukti. Barangkali ini bisa dirujuk untuk tabayun soal fitnah kepada kiai, yang sempat dibuat atau diupload klarifikasinya oleh Admin Dutaislam.

  1. Prediksi Gus Dur tentang Fitnah Kepada NU Zaman Kiai Said Aqil Ketum
Kepada KH. Sa'id Agil Siradj (Ketua Umum PBNU sekarang), dulu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkata, "Pak Said, sampeyan besok akan menjadi Ketua Umum PBNU. Tapi pada saat kepemimpinan sampeyan, NU akan mengalami badai fitnah yang besar, bahkan dahsyat." 

Gus Dur terdiam sambil memandang ke Pak Said yang juga terdiam mendengar wejangan Gus Dur tersebut yang sebelumnya tidak disangka sama sekali. "Tapi sampeyan tidak usah khawatir karena fitnah itu cuman sebentar dan NU akan menemukan lagi kejayaannya," sambung Gus Dur yang disambut tawa keduanya.

Sekarang ini bisa kita lihat kebenaran dari ucapan-ucapan Gus Dur. Nyatanya, Pak Said jadi Ketua Umum PBNU dan juga terkena fitnah yang terus-menerus dilancarkan ke NU. Mulai dari tuduhan syirik, liberal, kafir, bid'ah, syiah, sampai sebutan setan.

Ada yang diutarakan secara nyata dan kasar, ada juga yang melalui kiasan-kiasan. Yang dahsyat adalah fitnah dan tuduhan keji dari dalam dalam tubuh NU sendiri, yakni orang-orang yang mengaku NU tapi sejatinya mereka merusak NU. Naudzubillah. 

Pada zaman Kiai Said inilah, NU hidup dalam zaman yang disebut Nabi Muhammad sebagai katsural qalam (banyak pena) sehingga banyak juga kalam (ucapan) yang mudah ditulis dan disebar tanpa tanggungjawab. Kiai dihina, orang tua kanjeng Nabi disebut masuk neraka, amalan ulama sholihin disebut syirik, orang NU kembali disebut ahli bid'ah dan quburiyyun.

Fitnah zaman netizen mirip zaman NU di tahun awal-awal berdiri. Banyak musuh sana-sini. Terutama mereka yang suka mengafirkan yang menghardik umat islam ahlus sunnnah wal jamaah, bukan ahlus sunnah saja. Utamanya lagi, mereka yang ingin merongrong kedaulatan NKRI.

Tapi yakinlah bahwa fitnah yang menimpa NU hanya sesaat. Dan akan menemukan kembali sejarah terangnya, sebagaimana dikatakan Gus Dur.

2. Berita Kiai Said Makelar Tanah di Malang Adalah Fitnah di Siang Bolong

Ada-ada saja kelakukan pemilik media abal-abal untuk menjatuhkan NU lewat fitnah yang dilancarkan kepada kiai-kiai NU dan simbol-simbol NU. Cara mereka selalu sama, memutar kaset usang berulang-ulang, lalu dicopas sana-sini untuk diperdengarkan kepada khalayak umum, tanpa konfirmasi dan kalrifikasi. 

Beru-baru ini, broadcast tendensius yang menyebut kalau KH Said Aqil Siraj meraup untung dari jual-beli lahan seluas 1,8 hektar dari tanah milik H. Qosim, yang katanya, masih pengurus ranting NU Karang Besuki, Malang, Jawa Timur. 

Tanah itu, menurut laporan di bangsaonline.com, awalnya hendak dibeli seharga 500 ribu per meter, namun Qosim tidak mau menerima karena pihak pembeli adalah Yayasan Kristen. Ia kemudian rela menjual tanah itu ke Kiai Said dengan harga yang lebih murah untuk dijadikan Islamic Center. Harganya tidak sampai 100 ribu per meter. 

Qosim seperti bersedekah kepada Kiai Said, atau PBNU, hingga jika dihitung matematis, ia merugi milyaran rupiah. Penawaran Yayasan Kristen senilai 9 milyar ia abaikan dengan menerima tawaran 1,3 milyar dari Kiai Said. 

Berita itu kemudian menyebut Qosim depresi karena tanah lahan miliknya tersebut kini dibuat untuk pengembangan dakwah kristen, Seminari. Berita itu menyebut kalau Kiai Said yang menjual kembali lahan yang dulunya milik H Qosim ke Yayasan Kristen. 

Mengenai heboh berita di atas, Dutaislam.com mendapatkan keterangan tertulis dari Ketua Forum Independen Masyarakat Malang (FIMM), Subaryo, SH, orang dijadikan sumber berita di situs tersebut. 

Berita sepanjang 13 paragraf tersebut sempat menculik komentar Subaryo hingga 4 kali. Intinya, Subaryo disebut sebagai LSM yang membantu kasus depresi H Qosim dan menyebut Kiai Said sebagai "makelar tanah" dengan keuntungan milyaran rupiah. Naudzubillah. 

Merasa tidak pernah diwawancarai oleh situs tersebut, Subaryo memberikan klarifikasi. Dalam surat klarifikasinya itu, ia mengaku tidak kenal dengan media yang memuat berita mencatut namanya di atas. Bahkan Subaryo menyebut berita itu sebagai "cerita Abunawas", alias karangan belaka. 

"Kami siap dan selalu bersedia kapanpun waktunya untuk menjadi saksi terhadap berita yang belum tentu mengandung kebenaran. Dan bahkan saya berpendapat bahwa berita itu sama sekali sangat tidak benar. Saya juga belum pernah ketemu dengan Pemilik tanah yang diberitakan tersebut," kata Subaryo yang mengaku tidak pernah datang ke Muktamar Jombang karena tidak punya kepentingan.

Berita selengekan bin ngawur nggedebus tersebut ditulis oleh situs fitnah bangsaonline.com pada 1 Agustus 2015, hari pertama diadakan Muktamar NU ke 33 di Jombang, Jatim. Sementara, klarifikasi Subaryo ditulis hampir setahun kemudian, yakni 23 Juli 2016. 

Dalam editorial Dutaislam.com ini jelas terlihat nuansa politis atas berita Abunawas tentang kiai Said, yang disebar oleh kalangan sumbu pendek ke komunitas santri, untuk menjatuhkan martabat para kiai dan NU secara keseluruhan agar tidak lagi percaya ke kiai dan NU. Benar pula kata Gus Dur, NU zaman kiai Said sebagai Ketum, akan banyak fitnah

3. Difitnah Makelar Tanah Seminari Malang, Ini Bantahan Langsung Kiai Said Aqil Siraj.

Situs Bangsaonline.com kembali mengeluarkan berita yang menyudutkan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj setelah laporannya yang menyebut keterlibatan Kiai Said dibantah sendiri oleh sumber berita, Subaryo SH, dalam kasus makelar tanah milik H Qosim di Malang, Jatim.  

Setelah ada laporan bantahan dari situs Duta.co, dimana menyebut kalau tuduhan Bangsaonline.com adalah fitnah, situs yang masih satu atab dengan Harian Bangsa tersebut akhirnya dibully netizen. Redaksi kembali menurunkan bantahan berjudul "Keluarga Korban Penjualan Tanah ke Gereja Bicara, KH Lutfi Abdul Hadi: Said Aqil Kejam".

Namun, dalam berita tersebut, tidak ada klarifikasi langsung kepada aktor utama yang dipermasalahkan, yakni KH Said Aqil Siraj. Mereka hanya meminta tanggapan kepada Kiai Luthfi Abdul Hadi dan KH Imam Muslimin, menantu H Qosim. 

Judul Provokasi Harian Bangsa Tanpa Klarifikasi KH Said Aqil Siraj
Bahkan langsung membuat lead berita beropini, "Said Aqil Kejam, Sadis". Foto di atas adalah penampakan judul berita edisi cetak Harian Bangsa.

Jika mau melakukan klarifikasi, pasti masalah tidak akan menjadi polemik di media massa. Budaya tabayun masih menjadi sesuatu yang langka bagi mereka yang bermisi ingin menjatuhkan martabat NU dan para kiai.

Dalam sebuah rekaman yang dikirimkan kepada Dutaislam.com kemarin (Selasa, 27/12/2016), Kiai Said membantah soal isu dirinya menjadi makelar tanah di Malang tersebut. Bukan hanya itu, ia juga sekaligus mengklarifiksi soal tuduhan meraup untung penjualan tanah milik NU Batam yang pernah santer dimediakan pas momen muktamar berlangsung Agustus 2015 lalu.

"Tidak ada kaitannya sama sekali. Tidak ada baunya. Tidak ada alif-ba-ta-nya. Tahu-tahu saya sudah jadi makelar tanah," kata Kiai Said menanggapi soal isu mekelar tanah di Malang. Gedung Seminari di Malang itu, lanjutnya, sudah ada sejak ia belum pulang (kembali) ke Indonesia.

Cuma, Kiai Said sendiri mengaku kalau pernah diundang hingga 3 kali untuk mengisi acara seminar di gedung Seminari tersebut. "Saya pernah 3 kali mengisi seminar di gedung seminar itu sebelum jadi ketua umum," beber Kiai Said.

Berbeda kalau soal tanah di Batam. Kalau tanah di daerah Kepulauan Riau tersebut memang diakui ada alif-ba-ta nya (keterlibatannya). "Ketika zaman Gus Dur Pak Ismet, otoritas batam kasih tanah 5 hektar ke cabang. Nggak diurus-urus, sampai 17 tahun. Hingga dicabut tanahnya," cerita Kiai Said.

Saking baiknya pihak otorotas Batam, tanah kemudian diurus langsung oleh otoritas Batam saat itu, yakni Mustofa Wijaya. Daripada status tanah hilang karena tidak terurus, ia kemudian mengajukan permohonan untuk dialihkan hak penggunaan tanahnya kepada PBNU.

Bersama Syuriah dan Tanfidziyah, PBNU kemudian melakukan rapat membahas tanah. Akhirnya, PBNU sepakat membayar tanggungan tanah selama 17 tahun itu dengan biaya 2,4 milyar. Tanah tersebut kemudian dijual, "hasil penjualannya dikembalikan ke cabang 1 milyar," terang Kiai Said.

Sementara, masih ada sisa 1 hektar juga. Jadi tidak dijual semuanya, apalagi menyebut kalau keuntungan tersebut masuk kantong pribadi. Ini adalah klarifikasi kiai Said.

4. Kiai Said Difitnah Kembali Soal SMA Kristen Dago, Ini Klarifikasinya

Ramalan Gus Dur tentang fitnah yang akan menimpa Kiai Said Aqil Siraj zaman ia jadi Ketua Umum PBNU memang terbukti berkali-kali. Baru-baru ini, sebuah foto bangunan SMA Kristen Dago Bandung sengaja disebar tanpa keterangan. Sementara, di sana ada papan besi putih yang bertuliskan "Bangunan Ini Didirikan Atas Kerjasama dengan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA..Tanggal 11 Desember 2013."

Di grup-grup WhatsApp kalangan cingkrang, foto tanpa keterangan apapun tersebut kemudian liar ditafsirkan miring. Ada yang menyebut Kiai Said lebih mendukung Kristen daripada Islam, ada juga yang menghardik dengan sebutan "Munafiq" dan sebutan sejenis lainnya yang ngawur, tanpa dasar plus hoax.  

Keterangan yang didapatkan Dutaislam.com menyatakan kalau foto tersebut bukan editan, tapi sengaja dilempar untuk mendikreditkan NU dan simbol tertingginya (kiai dan ketua) agar masyarakat tidak lagi percaya kepada ormas ahlussuunah wal jamaah ini.

Kiai Said sengaja dicari-cari kelemahan dan dibuat fitnah terus menerus supaya nahdliyyin di akar rumput tidak lagi menghormatinya. Itulah tujuan NUGL, yang konon pertama sudah merencanakan serangan Kiai Said dengan isu foto SMA Kristen Dago tersebut.

Orang yang tidak tahu tentu akan mengalami miskomunikasi dan disinformasi terhadap foto yang sengaja disebar tersebut. Padahal, jika mau tabayun, akan ditemukan fakta sesungguhnya. Salah satu Netizen NU melakukan klarifikasi kepada Said sesaat setelah foto tersebut viral, dua hari lalu (Ahad, 01/01/2017).

Kiai Said mengatakan, soal SMA Dago yang beralamat di Jl. Ir. H. Juanda No. 93 Bandung, Jawa Barat tersebut, adalah kasus lama. Lokasi Yayasan Badan Perguruan Menengah Kristen Jawa Barat tersebut dulunya dibeli dari lelang tanah negara warisan Belanda.

Namun, di kemudian hari, tanah tersebut digugat oleh pengusaha Cina kaya raya, dan akhirnya dia menang. Merasa didhalimi, ketua yayasan berinisiatif meminta Kiai Said Aqil Siraj untuk menjadi pembina, biar mudah menggugat balik karena pengaruh NU yang luar biasa.

Tujuan kiai Said menerima tawaran ketua yayasan bukan mendukung kristenisasi, tapi mengembalikan hak warga negara, memulihkan hak yayasan agar mereka bisa kembali mencerdaskan anak bangsa dengan proses belajar mengajarnya.

Untuk menjadi cerdas, semua warga negara Indonesia tentu sangat berhak, dan dilindungi negara. Termasuk umat Nasrani. Asal tahu saja, mantan presiden RI ke 3, yakni BJ. Habibie dan juga putranya, Ilham Habibie, adalah salah satu alumnus SMA Kristen Dago Bandung yang pembinanya kini KH Said Aqil Siraj itu. Kristenisasi kah? Hahaha.

Intinya, kiai Said di yayasan itu sebetulnya hanya melindungi dan membantu lembaga yang sedang terdhalimi ketika itu. Apapun suku dan agamanya. Jika menggunakan logika minhum, kiai Said sedang melindungi kafir dzimmi, yakni non muslim yang mau hidup rukun damai dengan muslimin. Bukankah Nabi juga pernah mengatakan من اذى ذميا فٱنا خصمه | Barang siapa memusuhi dzimmi, aku musuhnya!

5. Ini Klarifikasi dan Alasan Kiai Said Agil Masuk Masuk Pengurus Yayasan Kristen

Reaksi berlebihan keluar dari kalangan Islam radikal ekstrim ketika KH Said Aqil Siraj dikabarkan jadi Ketua Pembina Yayasan Peduli Pesantren (YPP), yayasan yang bergerak ingin membantun banyak pesantren di Indonesia dalam bidang pembangunan fisik.

Kiai Said yang saat ini masih menjabat Ketum PBNU aktif makin dihujat ketika beredar sebuah surat dimana ia bertandatangan sebagai Pembina Yayasan Badan Perguruan Sekolah Menengah Kristen Jawa Barat (BPSMK-JB).

Kedua yayasan tersebut diprotes oleh mereka karena berbasis Kristen. YPP didirkan oleh Hari Tanoe Soedibyo (HT), yang kebetulan beragama kristen, sementara BPSMK-JB jelas dan terang milik umat yang beragama Kristen.

Hanya karena alasan Kristen itulah, kalangan Islam sumbu pendek menghasut umat Islam untuk tidak lagi mempercayai Kiai Said, yang artinya tidak usah lagi percaya NU dan kiai-kiai nya yang dianggap sudah dibeli oleh orang kafir. Naudzubillah. 

Saking kerasnya reaksi, bahkan ada pula yang menghasut untuk mencopot Kiai Said dari jabatan Ketum PBNU. Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten yang konon mewakili 3496 pondok pesantren sempat membuat pengumuman menolak YPP.

Mereka tidak pernah bertanya kepada KH Said Aqil Siraj, tapi mudah menjustifikasi sebagai bolokurowo kafirin kepet. Padahal, Kiai Said bersedia menjadi pengurus kedua yayasan tersebut karena beliau hanya berharap kepada HT, pendiri YPP, agar mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Yayasan tersebut adalah pintu masuk untuk dakwah. Bukankah ini hal yang mulia?

Bahkan, Kiai Said melakukan adzan dan iqomah seolah-olah hanya ditujukan kepada HT agar mendapatkan hidayah. Bukankah ini dakwah sesungguhnya? Silakan baca lengkap keterangan yang didapatkan Dutaislam.com dari Isfah Abidal Aziz, ini:

Keterangan Kiai Said soal YPP
Dalam sejarahnya, KH Said Agil Siraj sudah puluhan kali mensyahadatkan non muslim. Artinya, keterangan bahwa Kiai Said anti kepada Islam adalah bohong belaka. Itu hanya pernyataan yang dibuat untuk menghancurkan karakter NU dan para kiainya. Lihat saja, akhir-akhir ini, seiring terus menghangatnya Pilkada DKI Jakarta, hanya NU yang diserang oleh kalangan cingkrang jenggot kobong. Mereka mentarget NU bubar lebih cepat. Ya hayyu ya qoyyum, ya qohhar ya jabbar!

6. Dibanding Kiai Wahid Hasyim dan Gus Dur, Kontroversi Kiai Said Belum Apa-Apanya

Selama menjadi Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siraj selalu dijadikan bahan cemohoan oleh mereka yang sengaja ingin menggembosi NU. Hampir semua yang berkaitan dengan KH Said, tidak pernah benar di kalangan mereka.

Gambar-gambar grafis bernada menghina simbol NU (Ketum) dibuat untuk menggerus tokoh-tokoh NU macam KH Said Aqil Siraj dan lainnya. Salah satu gambar yang bukan hanya menyindir tapi juga menghina itu, antara lain di bawah ini.

 

Gambar yang menghina KH Said Agil Siraj
Hanya karena Kiai Said masuk sebagai pembina sebuah Yayasan Kristen, beliau jadi bahan gunjingan tiada batas di era media sosial sekarang. Dulu, ketika seorang tokoh membuat kebijakan kontroversial, polemik hanya berlangsung antar media. Kini, di era medsos, tukang becak pun bisa membuat gambar bernada nyinyir hanya lewan akun medsosnya hingga viral.

Padahal, dibandingkan dengan KH Abdul Wahid Hasyim dan putranya, Gus Dur, KH Said Aqil belum apa-apanya. "Gus Dur pernah jadi pengurus Yayasan Simon Peres dan digugat para ulama dan kiai. Tapi buktinya, beliau malah bisa mendamaikan konflik internasional," demikian tulis KH Luqman Hakim, tokoh sufi murid Gus Dur, di akun twitternya, https://twitter.com/KHMLuqman, Sabtu (17/12/2016).

Abahnya Gus Dur juga seorang reformis. Ia adalah tokoh yang NU yang pertama kali menggunakan jas dasi khas pakaian Belanda saat itu, yang diharamkan oleh para ulama (zaman itu). Tapi lihat apa yang terjadi sekarang, jas dan dasi hampir digunakan oleh para kalangan santri dalam acara-acara tertentu, walau sarung masih jadi ciri khas pakaian sehari-hari.

Ini artinya, KH Abdul Wahid Hasyim, Gus Dur dan KH Said Aqil Siraj, punya strategi jangka panjang untuk menata kehidupan bangsa yang lebih baik. Tindakan Gus Dur nyatanya memang banyak terbukti setelah beliau meninggal. Muridnya, Kiai Said, tentu punya karakter yang sama, reformis, bukan kontroversial.

Tweet Kiai Luqman tentang kontroversi Kiai Said Aqil
Jika Anda lihat ke belakang, para imam madzhab rata-rata semua kontroversial. Hanya pembenci berotak udang saja yang selalu bikin status-status nyinyir untuk menghancurkan NU. "Air kolam dilempar batu bunyinya nggak karuan. Lautan dilempar batu tak berbekas," lanjur cuitan Kiai Luqman.

Begitulah NU, tidak akan hancur hanya dengan ulah lemparan batu tetangga yang suka fitnah. NU itu lautan, bukan kolam, apalagi kolam susu, yang hanya tahu kenikmatan tanpa tirakat.

7. Kiai Said Disambut Hangat Di Sidogiri

Oleh Sulthon

Saya diajak KH Said Aqil Siroj berkunjung ke Ponpes Sidogiri untuk silaturahmi dengan KH A. Nawawi Abdul Jalil dan menghadiri seminar. Sudah kuduga, pertemuan Kyai Said Aqil dengan Kyai Nawawi berlangsung sarat makna dan penuh keakraban.Tentu yang kutunggu pun terjadi: dua kyai berdiskusi tentang keislaman, terutama soal tauhid dan tasawuf. Ini pertemuan kedua yang saya ikuti setelah sebelumnya di Kantor PBNU juga terjadi diskusi cukup gayeng. Banyak tema yang didiskusikan dua kyai saya ini, seperti tentang Keesaan Allah, kekuasaan Allah, angan-angan orang-orang saat shalat yang berbeda-beda terhadap Allah, tentang Ahmadiyah, Syiah, Wahabi, Jawlah, termasuk yang ringan-ringan.

Saya dan sekitar tujuh tamu yang lain asik mendengarkan. Termasuk ada mas Ahmad Sa’dulloh, putra Kyai Abdul Alim yang oleh Kyai Nawawi dikenalkan sebagai menantu Gus An’im Mahrus dari Ponpes Lirboyo, “Lah, ini saudara saya,” kata Kyai Said Aqil yang memang masih famili KH Mahrus Ali Lirboyo.  

Selesai diskusi gayeng, rombongan Kyai Said dipersilahkan untuk makan pagi di kediaman beliau. Selepas Sarapan pagi, Kyai Said Aqil minta ijazah wirid kepada Kyai Nawawi yang langsung dikabulkan, “Ini wirid dari Kyai Cholil Nawawi.” Kata beliau setelah menulis dalam secarik kertas. Tak terasa hampir satu jam kedua kyai saya ini bercengkerama. Lalu Kyai Nawawi pun mengajak Kyai Said Aqil dalam satu mobil menuju lokasi seminar.

Di lokasi Seminar, ratusan undangan terdiri dari kyai, ustadz, habaib sudah berkumpul. Terdapat KH Miftahul Achyar, KH Kafabihi Mahrus, Habib Taufiq, dll., termasuk narasumber Buya Yahya dan Syaikh Abu Bakar al-Adny. Sesi pertama Kyai Said Aqil menyampaikan materi tentang Islam Nusantara yang hingga saat ini menjadi kajian menarik berbagai kalangan.

Setelah break makan siang, seminar memasuki sesi dialog. Sesi ini berlangsung cukup hidup. Habib Taufiq memberi pengantar  bahwa sesi tanya jawab harus dilandasi dengan pikiran jernih untuk menemukan kebenaran. Sesi dialog cukup hidup, hingga Kyai Said Aqil minta saya untuk mengundurkan waktu penerbangan kembali ke Jakarta dari semula pukul 16.00 menjadi pukul 18.00 WIB.

Akhirnya, waktu dialog dikonsentrasikan dengan Kyai Said Aqil. Pada pukul 15.45 WIB dialog selesai dan dilanjutkan dialog dengan Syaikh Abu Bakar al-Adny. Sedangkan Buya Yahya pulang terlebih dahulu sehingga tidak mengikuti sesi dialog.

Kyai Said Aqil menuju ke Lt. 1 menemui Kyai Nawawi Abdul Jalil. Sempat foto-foto di teras dengan para undangan yang banyak juga para dari mereka pengurus PCNU dan MWCNU. Setelah berbincang sebentar dengan Kyai Nawawi, akhirnya Kyai Said Aqil pun kembali ke Jakarta. [ab]
Kyai Ma’ruf Amin sedianya diundang oleh keluarga besar Sidogiri namun berhalangan hadir karena harus ke Doha Qatar memenuhi undangan Menteri Wakaf Qatar. Akhirnya digantikan oleh Buya Yahya yang tidak bisa mengikuti acara hingga selesai karena harus ke Brebes dan Jakarta.

8. Umat Islam Unyu-Unyu Suka sekali Kiai Said Aqil dan NU Dinistakan Media

Oleh Kajitow Elkayeni

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah tidak menghendakinya, bahkan semakin menyempurnakan cahaya-Nya…”

Banyak dari umat islam unyu-unyu di Indonesia ini yang lebih menyukai bungkus luar. Berhadapan dengan seseorang bergelar habib langsung gemetar. Melihat orang berjubah, jenggotnya sampai dada, jidadnya hitam, dianggap orang suci. Simbol-simbol yang diambil dari agama atau kebudayaan lain, seperti jilbab, rosario, kubah, bulan sabit, disakral-sakralkan.

Sementara ketika bertemu kyai toleran, pakai batik, sarungan dan peci ke mana-mana, dianggap liberal dan disesat-sesatkan. Karena wajah mereka yang tidak ada arab-arabnya, logat mereka yang medok, keluarga mereka yang sangat Indonesia, lantas dengan mudah fitnah dihembuskan pada mereka.

Gusdur dimusuhi, keluarganya yang tidak berjilbab (hanya memakai kerudung) dicaci, masih pula difitnah selingkuh. Tapi dengan santai tuduhan itu dibiarkan. Nanti juga capek sendiri, kata Gusdur ringan. Gusdur memang tidak mau ambil pusing.

Hanya karena Gusdur tidak memakai gelar habib dan tidak berjubah, bukan berarti tidak islami. Siapa yang tidak kenal Mbah Hasyim Asy’ari? Masih meragukan nasabnya yang sampai pada Sunan Giri dan menyambung pada Rasulullah? Habib Jawa medok ini memang tidak menganggap penting gelar seperti itu. Namun membela Rizieq dan merendahkan Gusdur hanya karena nasab misalnya, adalah kekeliruan berpikir.

Setelah Gusdur tiada, pusaran fitnah yang sangat keras menerpa Kyai Said. Siapakah ulama yang dianggap syiah dan liberal ini? 

Sebagaimana Gusdur, Kyai Said juga habib. Nasabnya menyambung pada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Tapi kenapa yang bersangkutan tidak heboh ke mana-mana pamer nasab? Karena yang suka pamer itu kelasnya anak kecil. Yang senang membangga-banggakan nama orang tua biasanya karena mereka tidak mempunyai prestasi yang membanggakan.

Sejak kecil ia hidup dalam didikan pesantren. Kemudian membuat pilihan mengejutkan dengan meneruskan studi ke Universitas Umm Al-qura, Arab Saudi. Sarang dari kelompok penyamun bernama Wahabi. Tapi Said Aqil berkeyakinan, para pengajar di sana rata-rata dari Mesir. Saudi dan Mesir sama saja. Karena Saudi ketika itu (sampai sekarang) memang masih terbelakang dalam hal pemikiran.

Tidak hanya sekadar studi sekilas-lalu, Said Aqil menamatkan S1, S2 dan S3nya di sana. Dengan ilmu yang sangat mumpuni, Gusdur menyebutnya sebagai perpustakaan berjalan. Namun seperti ikan yang tak terpengaruh asinnya air laut, dagingnya tetap manis. Begitulah Said Aqil, ia dibesarkan oleh lingkungan Wahabi, tapi sekarang justru paling getol melawan aliran keras itu di Indonesia.

Akibatnya, simpatisan Wahabi yang mendapatkan kucuran dana petrodolar sangat membencinya. Ratusan situs, ribuan pembenci, memfitnahnya siang-malam. Muslim unyu-unyu yang tak paham apa-apa ikut mencaci dan menebarkan permusuhan. Serangan-serangan terhadap para kyai NU ini sejatinya adalah upaya pembusukan dari dalam.

Mereka tidak mungkin melakukan itu secara terbuka dengan identitas organisasi mereka. Karena itulah mereka menyaru, menyusup, dan menyebarkan bibit fitnah dari dalam. Orang-orang NU dipisahkan dari kyai-kyai mereka yang toleran. Saat mereka terhasut, para srigala berbulu domba ini akan mulai menerkam.

Karena NU adalah musuh terbesar mereka. Para ekstremis dan gerakan intoleran memahami betul, selama ada NU, selama itu pula mereka tak bisa bergerak leluasa. NU harus dihancurkan dari dalam. Mereka ingin memadamkan “cahaya” itu. Namun Tuhan semakin menyempurnakannya.

Habib-habib medok itu seolah-seolah terhapuskan nasabnya karena mereka membaur. Sebagian sengaja tak ingin diberi gelar demikian, padahal sangat layak menerimanya, seperti Quraish Shihab. Sikap merasa tak layak ini sejatinya muncul dari sifat rendah hati, bukan karena yang bersangkutan tidak pantas.

Habib dan sayid dua hal berbeda yang sering dicampur-adukkan di Indonesia. Padahal, ada juga yang dengan bangga mengobral gelar tersebut, meskipun masih dipertanyakan kualitasnya. Mereka mungkin sayid (keturunan Nabi), tapi belum tentu habib (sayid yang dicintai).

Salah satu fitnah yang kembali didaur-ulang adalah persoalan makelar tanah seminari di Malang, juga di Batam. Dengan tanpa rasa sungkan lagi, Kyai Said dituduh telah melakukan penipuan. Tidak saja melalui media online, tapi juga cetak. Konon pemilik media ini salah satu satu kader partai politik. Dengan tujuan merendahkan, Kyai Said disebut makelar.

Fitnah dasarnya dari kebencian. Sedangkan benci tidak memiliki agama. Orang yang menyebarkan fitnah tidak perduli lagi dengan kaidah agama. Bagi mereka, dosa itu sesuatu yang asing dan tak layak dihitung.

Kyai Said telah membantah fitnah tersebut, tapi banyak yang telah termakan hasutan semacam itu. Dan mereka dengan bangga mengatas-namakan diri sebagai bagian dari NU. Sebagai bagian dari organisasi yang dipimpin oleh orang yang mereka caci. Lagipula orang-orang itu memang tak perduli dengan kebenaran. Mereka lebih suka meributkan asap daripada menyelidiki muasal apinya.

Said Aqil Siradj memang sosok yang serba mengejutkan. Semua itu berawal dari kiprah Gusdur. Bahkan lebih jauh, sebenarnya berawal dari maha guru mereka, Sayid Muhammad Al-Maliki. Jauh-jauh hari sang guru berpesan kepada Gusdur agar kelak mengangkat Said muda sebagai katib NU. Satu posisi yang biasanya diisi orang-orang tua, atau yang telah lama mengabdi di NU. Banyak yang protes, tapi Gusdur dengan santai membelanya. Said memang masih muda, tapi ilmunya sangat luas, soal tasawuf misalnya, ia memiliki seribu referensi.

Said Aqil dan Gusdur bersama guru para ulama Aswaja dunia, Sayid Muhammad al-Maliki (di tengah)
Cak Nur (Nurcholis Majid) mengatakan, bahwa Said Aqil ini pernah ingin membuat buku yang isinya mengkritik pemikiran Algazali. Satu nama yang dianggap keramat di Indonesia. Dengan senang hati Cak Nur menanggapi hal itu. Untungnya buku itu tidak jadi diterbitkan. Bayangkan bagaimana hujatan yang akan ia terima jika hal itu diwujudkan. Berapa besar serangan yang akan ia terima. Bukan dari luar lagi, tapi dari dalam barisan yang dipimpinnya sendiri.

Said Aqil dianggap liberal. Pikiran-pikirannya mengguncang kebiasaan dalam tubuh NU. Konon di tahun 90-an ada trend Said-Aqilian menjangkiti para Nahdliyin muda. Tentu saja hal itu juga menimbulkan reaksi keras. Para pengkritik bahkan ingin agar gelar akademisnya dicabut. Tapi ia menjawab enteng, jangankan gelar akademis, gelar haji jika diminta akan ia berikan.

Said Aqil adalah fenomena mengejutkan. Seorang habib yang menanggalkan gelarnya. Seorang intelek yang diam saja ketika dihina oleh orang-orang dungu. Ia membiarkan dirinya dicaci dan difitnah hanya demi satu hal, agar orang-orang berpikir kritis dan waras. Atas nama toleransi beragama, ia membuat keputusan kontroversial, seperti berceramah di gereja, bersikap rahmah pada non-muslim. Tidak mengejutkan jika kemudian ia dicap syiah dan diliberalkan.

Maka benarlah Imam Syafii, "Carilah pemimpin yang banyak panah-panah fitnah menuju kepadanya, ikutlah mereka yang banyak difitnah, karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di jalan yang benar."

9. Ketum PBNU Siap Layani Tantangan Debat Publik Majelis Mujahidin

Tidak terima disebut organisasi berbahaya bagi negara, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melayangkan surat tantangan berdebat secara terbuka kepada Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Sirajd (21/9). 

Surat yang ditandatangani 6 petinggi MMI itu dibuat atas tanggapan pernyataan Kang Said di media soal semua teroris di Indonesia merupakan jebolan institusi wahabi. 

“Untuk itu, kami Majelis Mujahidin mengajak Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd, M.A melakukan transparansi publik dalam uji sahih debat ilmiah akademik sesuai koridor hukum dan perundang-undangan tentang ‘Majelis Mujahidin Organisasi Membahayakan NKRI’,” katanya dalam surat bertanggal 7 September 2016 itu.

Apabila yang bersangkutan tidak mau, menurut surat itu, berarti telah sengaja melakukan pecah belah dan fitnah di kalangan umat Islam. “Kami bersama umat Islam akan melakukan perlawanan melalui saluran konstitusi dan langkah-langkah yang dibenarkan oleh syariat Islam. Kami menunggu respon surat ajakan debat publik ilmiah ini dalam waktu 7 hari setelah surat ini diterima,” katanya.

Gayung pun besambut, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyatakan kesiapannya melayani tantangan MMI untuk debat secara ilmiah tentang radikalisme dan kebangsaan. “Ayo kapan, saya siap, siap, siap,” katanya seperti dikutip duta.co di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (23/9).

Ini berita yang terdapat pernyataan Kiai Said di Duta Islam: PBNU Usul ke Kapolri Segera Bubarkan HTI

Melayani tantangan ini dengan niat baik dan demi kebaikan tidak ada masalah bagi lulusan pondok pesantren Krapyak Yogyakarta ini. “Pokoknya selama untuk kebaikan saya siap,” katanya.

Seperti diketahui, saat menandatangani MoU tentang Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian (hate speech) bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kang Said mengingatkan supaya memantau sejumlah institusi yang mengatasnamakan Islam di Indonesia namun menjadi penyebar paham radikalisme. 

MMI dan Jamaah Takfir Wal Hijrah di antaranya. Mereka yang terindikasi itu, kata Kang Said, selangkah lagi menjadi gerakan terorisme yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

“Ada 20 pesantren, semuanya wahabi. Wahabi memang bukan teroris, tapi ajarannya ekstrim. Kita ini semuanya dianggap bid’ah dan musyrik karena menurut mereka Maulid Nabi itu bid’ah, Isra’ Miraj bid’ah, ziarah kubur musyrik, haul musyrik, dan semuanya masuk neraka. Kami khawatir murid mereka memahami kalau begitu boleh dibunuh dong orang ini, karena kerjaannya musyrik semua,” kata Kang Said.

Sementara Itu,

Menurut laporan Tempo.co (7/10, 2014), Wakil Amir Majelis Mujahidin, Abu Jibril, tercatat pernah ditangkap aparat keamanan Malaysia 21 Juni 2001 ketika akan memberikan ceramah pengajian di Shah Alam, Selangor. 

Ketika itu, Abu Jibril dituduh melakukan kegiatan yang membahayakan keamanan dalam negeri Malaysia karena aktif dalam kelompok Mujahidin Malaysia. MMI juga sempat tercatat mempunyai hubungan dengan Abu Bakar Ba’asyir sebelum mendekam di penjara.

Nama Abu Jibril juga pernah disebut-sebut dalam tragedi bom bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, keduanya di Jakarta, pada 2009. Salah satu anaknya, yaitu Muhammad Jibril Abdurrahman alias Ricky Ardan, divonis lima tahun penjara karena terbukti melakukan pidana terorisme.

Putranya yang lain, Muhammad Ridwan, telah tewas di Suriah ketika bergabung dengan kelompok An-Nusra, cabang kelompok teroris Al-Qaeda sebagaimana ISIS. Ridwan atau yang dikenal sebagai Abu Omar itu dikabarkan tewas akibat terkena peluru tank di Kota Idlib – Suriah, pada  26 Maret 2015. 

Karena itu, Abu Omar tidak termasuk di antara 531 kombatan Indonesia yang pulang ke tanah air seperti disebut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Suhardi Alius.

Pria yang kerap bersurban putih di kepalanya ini juga dikenal sebagai penceramah di sejumlah tempat. Di Kompleks Witanaharja, Pamulang, Tangerang Selatan misalnya, warga setempat menganggap pengajian yang dipimpin Abu Jibril terkesan eksklusif dan hampir menguasai mayoritas Masjid Al Munawaroh yang ada di dalam perumahan itu.

Selain itu, dalam setiap ceramahnya, Abu Jibril lebih menekankan jihad secara Islam. ”Volume suaranya keras, materi ceramahnya juga keras,” kata Widiyanto, salah seorang warga setempat seperti dikutip Tempo.co (26/8, 2009).

10. Posting Klarifikasi Kiai Said di Grup, Netizen NU Diancam Bunuh “Mujahidin”

Makin hari umat Islam di Indonesia yang mengaku mujahidin menunjukkan arogansi dan kebodohannya. Pantauan salah satu Netizen NU yang melaporkan kepada Dutaislam.com, grup WhatsApp yang menggunakan nama "Mujahideen Cyber Army" selalu menebar broadcast yang berisi ujaran kebencian.

Hampir tiap hari, kata sumber, mereka teriak takbir jika ada yang posting Gus Dur sesat, kiai Said liberal, atau ajakan untuk acara lanjutan yang masih berkaitan dengan penistaan Ahok. Pokoknya takbir. Jika ada yang posting di luar garis "perjuangan" 212, akan dibully, bahkan diancam bunuh.

Itulah yang dialami oleh salah satu member yang langsung melaporkan ke Dutaislam.com malam ini (31/12/2016). Dalam screen shoot yang dikirimkan ke meja redaksi Dutaislam.com itu, ia diancam bunuh oleh salah satu member grup dengan nomor 08111568269 (FP Jateng01 - Subuh W). "Bukan hanya sepak (kick dari grup, red), tapi bunuh dia munafik," tulisnya dalam grup penuh caci maki tersebut. 

Netizen diancam bunuh Mujahidin Cyber Army
Cerita yang dituturkan oleh sumber Dutaislam.com tersebut, katanya, berawal dari Ferdi Purnaman (081296246242), admin grup, yang memposting berita yang diberi judul "Ketum PBNU Ajak Masyarakat Maafkan Ahok," dicomot dari kompas.com. Kalau cuma berita itu saja yang dishare tidak masalah. Sayangnya, dalam postingan Ferdi Purnaman itu, Kiai Said dilawan balikkan dengan Habib Rizieq yang selalu dipuja-puji jadi panutan terakhir mereka di grup. Ini postingan lengkapnya:

---------------
SIKAP KETUM PBNU TERHADAP HABIB RIZIEQ DAN AHOK

KETUM PBNU AJAK MASYARAKAT MAAFKAN AHOK

http://nasional.kompas.com/read/2016/10/11/09371301/ketum.pbnu.ajak.masyarakat.maafkan.ahok

KETUM PBNU DORONG KEPOLISIAN TUNTASKAN KASUS HABIB RIZIEQ

Dorong Kepolisian Tuntaskan Kasus Habib Rizieq

http://a.msn.com/r/2/BBxImMo?a=1&m=ID-ID

Lihat bagaimana sikap KETUM PBNU terhadap HABIB RIZIEQ dan AHOK. 

Silahkan anda nilai sendiri.....

Terkait hal tersebut, ada pelajaran penting dari dua Ulama besar yang mudah mudahan dapat bermanfaat untuk kita dalam rangka menyikapi sikap Ketum PBNU tersebut. 

Pelajaran pertama datang dari Habib Umar Bin Muhammad Bin Syekh Abu bakar, Beliau berkata : 

Indikasi terkuat dari mulai lunturnya iman seseorang adalah pada saat ia sebagai seorang muslim: 

-Lebih tampak CINTA kepada orang kafir dan kekafiran serta terkesan menjauh dan tidak peduli dengan orang mukmin dan keimanan. 
-Lebih MEMBELA kekafiran ketimbang membela Keimanan. 
-Lebih CONDONG kepada  kekafiran dari pada perkara2 Iman.
-Lebih PERHATIAN kepada urusan orang kafir dari pada urusan orang mukmin. 
- Lebih AKRAB dgn org kafir dari pada orang mukmin. 
-Lebih SIMPATI kepada nasib orang kafir dari pada membela nasib kaum mukminin. 
-Sikap dan tindakannya lebih meng UNTUNG kan org kafir daripada umat Islam. 
-Ucapannya lebih MENYENANGKAN orang kafir dibanding orang mukmin. 
-Keputusannya lebih cenderung MEMENANGKAN orang kafir dari pada  orang Mukmin. 
-MERESTUI kebatilan dan menjadi medianya.
-Dalam banyak hal sering MEMBENARKAN orang kafir dan MENYALAHKAN orang mukmin.

Pelajaran yang kedua, datang dari Alhabib Muhammad Bin Abdurrahman Bin Ali Alhabsyi ( Kwitang ) : 

Salah satu ciri Ulama su' ialah dimana Fatwanya selalu disenangi oleh kaum musyrikin dan munafikin dan cenderung merugikan kebanyakan kaum muslimin. 

Semoga ALLAH SWT Menjauhkan kita dari ULAMA SU'.

Laskar Cyber Aswaja 
-------------------
Lihatlah, baca dengan teliti, para mujahidin tersebut jelas punya kepentingan untuk menggerus NU sampai akar hingga mau mengadu doma dengan comot pendapat ulama sana-sini lalu menuduh sesuka nafsunya. Kalau anti Ahok ya silakan, kenapa harus menggunakan provokasi serta melibatkan Ketum PBNU?

Gus Dur dipicek-picekkan disebut bajak laut!
Tentu hal itu membuat para anggota grup ada yang gerah, tapi sekali lagi, mereka tidak mengenal persepktif. Jika ada yang beda dengan mereka, langsung disebut Syiah, termasuk sumber Dutaislam.com itu. Gara-gara memposting link Dutaislam.com berjudul "Umat Islam Unyu-Unyu Suka Sekali Kiai Said dan NU Dinistakan Media".

Ia sengaja menshare link tersebut ke grup karena sebelumnya ada postingan yang menyudutkan Kiai Said soal makelar tanah di Malang dan soal "Maaf Ahok", dimana kedua berita tersebut sudah lama diposting. Tapi, respon yang diberikan justru dituduh Syiah. "Jika antum pembela Said Agil, berarti antum Syiah," tulis Andika (081380609350) membalas. Ini screen shootnya.

Bela Kiai Said vonisnya langsung Syiah. Wkwkwk
Banyak juga yang langsung menghardik kiai Said pasca postingan yang beda pandangan tersebut. Sumber Dutaislam.com langsung disebut penyusup, munafik, syiah, liberal, dan terakhir diancam bunuh. Sementara, kiai Said disebut aqil gila, si qil busuk, si sangit dll, "kite kasih dia ngoceh dulu smpe jari2nya kriting trus kite SEPAK pantatnye!" kata admin grup pongah menanggapi sumber Dutaislam.com. Sopan sekali kan bahasa para mujahid abal-abal itu!

Akhirnya, banyak yang ikut-ikutan menuduh. Ada yang kemudian menyebut hal itu sebagai debat sehingga tidak perlu dilanjutkan karena tidak pernah diajarkan oleh Rasul. Padahal, itu bukan debat, tapi klarifikasi berita hoax. Kata sumber, sikap para mujahidin di grup memang begitu. Harus manut postingan yang menistakan NU dan Kiai Said serta yang tidak sejalan, dan, keroyokan tanpa logika, seperti buih.

Awas debat, kalian akan dikutuk. Islam unyu-unyu kebakaran jenggot!
Jika ada yang mengejek mereka, sangaaaaaaat reaktif sekali. Teriak Allahu akbar lalu main tuduh, sikat, bunuh-bunuhan dan bentuk intimidasi lainnya. Itulah kelompok muslim yang lemah iman, maunya dituruti, jika tidak, ngambek, lalu mukul-mukul. Tidak diselesaikan secara gentle, tapi suka marah-marah sendiri berkelompok. Sampai kapan kebencian para muslim yang mengaku mujahidin itu redup yah? Apa sampai mati dan Ahok menang? Hadanallah.

11. Menghina Ketum PBNU, Kader HMI Ini Dipolisikan GP Ansor

Para pendemo aksi damai (tapi rusuh) pada 4 November 2016 kemarin tidak menerima permintaan maaf Ahok karena dianggap telah menistakan Al-Qur’an dan meminta proses hukum terus berjalan. Nah, bagaimana jika salah satu kader organisasi yang ikut demo kemarin harus tetap diproses hukum karena menghina NU dan kiai nya, walau sudah meminta maaf?

Namanya Deni Iskandar, yang di Facebook menggunakan nama Dheny Goler Tea. Entah sebab apa, Sekum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghina dengan mulut kasarnya.

Dalam status Facebook, ia menyebut Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang tidak punya kelam!n hanya karena tidak ikut berpartisipasi dalam demonstrasi politis yang mengatasnamakan “Bela Islam II” itu.

Lebih dari itu, Dheny juga membela FPI sembari menyebut NU sebagai ormas pemecah belah. “Yang mecah belah ini adalah Nahdlatul Ulama. Ganti aja namanya, jangan Nahdlatul Ulama tapi Nahdlatul Udud,” tulisnya.

Tidak puas menertawakan NU, ia meminta pecat Ketum PBNU yang disebutnya pen****. “Kau ji***-ji*** itu pan tatnya Ahok dan Jokowi wahai para ulama pen****,” sarkas mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama UIN Jakarta ini.

Berbeda dengan kasus penistaan Al-Quran yang masih multitafsir, kanda Dheny yang kader Nurkholis Majid ini (biasanya moderat sih), sudah terang benderang menghina secara sad1s dan tidak berdasar kepada NU dan simbol tertingginya, yakni Ketua Umum.

Emosinya tidak tertahan sehingga harus membuat statemen yang menyakiti warga NU (nahdliyyin). Bukan hanya di Jakarta, tapi juga di seluruh dunia.

Kalau saja Dheny penghina NU itu ke Madura, kata warga sana, dikutip Duta Islam, ada yang siap memberi dia cicipan celurit emas untuk diminta klarifikasi.

Sudah menjadi organ biang kerusuhan demo 4 November 2016 kemarin (kata Kapolda lho yah), ini malah ada kader HMI (Dhenny) bikin rusuh lagi di media sosial. Kalau hanya mengkritik, tidak masalah. Tapi jika sudah menghina, permintaan maaf saja, -sebagaimana logika Front Pembela Islam (FPI),- tidaklah cukup.

Ketakutan, ia menghapus sendiri postingan yang membuatnya blunder tidak karuan itu. Dalam akun Facebook tersebut, ia kemudian mengklarifikasi dengan meminta maaf. Ini teks lengkapnya:

====================
Assalamualaikum wr. wb.

Saya atas nama pribadi, Deni Iskandar, mengucapkan banyak-banyak minta maaf, atas status Facebook saya yang banyak menyinggung warga nahdiyyin.

Saya juga berterima kasih kepada guru-guru saya, senior-senior saya baik, senior pondok pesantren, maupun senior dan guru-guru saya di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang sudah mengingatkan saya, mengkritik saya, dan mengingatkan saya.

Apa yang saya tulis dalam status facebook saya, itu merupakan kegelisahan saya dalam melihat realitas NU saat ini. Dan dalam penulisan status tersebut, tidak ada yang mendorong saya, menyuruh saya dalam menuliskan hal tersebut.

Ada pun statmen saya dianggap mempropokasi sekaligus dianggap menghina secara Institusi NU, maka saya mohon maaf, mungkin ini adalah ketidak tahuan saya, saat NU melakukan Ijtihad, selain itu kurangnya Informasi yang saya ketahui, tentang latar belakang kenapa Harus ada Surat Himbauan, dari NU sebagai organisasi Islam, yang konsisten mempertanankan NKRI.

Secara Pribadi, saya mohon maaf, sebesar-besarnya, bila ada yang tersinggung pada status facebook saya, salah, dan khilaf, sejatinya merupakan sifat dasar manusia sebagai "Insan" semoga dengan begini, saya secara pribadi bisa lebih bijak, sekaligus lebih banyak belajar lagi, sekaligus lebih banyak Silaturahmi lagi dengan warga Nahdiyyin, sekaligus kiai-kiai dan guru guru.

Status Facebook itu, datang dari diri saya secara pribadi. Tidak ada gading yang tak retak, manusia secara alamiah, tempatnya salah. Persoalan pernyataan Facebook saya, itu hasil dari pemikiran saya. !. Mohon dimaklumi dan di pahami.

Sekali lagi, saya secara pribadi, meminta maaf kepada semua warga Nahdhayyin dimana pun berada.

Billahi Taufiq Wal Hidayah
Wassalamualaikum wr.wb.



Deni Iskandar.

Pemilik akun Facebook
"Dheny Gholer Tea"

==================== 


Meski begitu, Sekretaris PC GP Ansor Tangerang Selatan (Tangsel) sudah melaporkan Dheny ke Polres setempat pada Ahad (6/11/2016). Walau ia sudah mengaku khilaf dengan alasan minim menerima informasi terkait NU, tetap saja harus diusut tuntas secara hukum agar tidak ada lagi oknum-oknum culun semacam itu bergentayangan di dunia maya.
Lapor: Ansor Tangsel melaporkan Deny ke Polisi

Foto: KBAswaja
Informasi yang diterima Duta Islam menyebutkan kalau kasus ini sudah masuk daftar intel. Dilaporkan oleh Tim Cyber Kantor Berita Aswaja (KBA). Mari kita kawal dengan menandatangani petisi Online.
Status Deni Iskandar yang menghina NU
Ini loh yang bernama Deni Iskandar
Catatan: 

Undang-Undang Hukum Indonesia, sebagaimana UU ITE  bisa dibaca sebagai berikut: 

Pasal 27 ayat (3) UU ITE

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

Pasal 45 UU ITE

(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 36 UU ITE
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain”

Misalnya, seseorang yang menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain akan dikenakan sanksi pidana penjara maksimum 12 tahun dan/atau denda maksimum 12 milyar rupiah (dinyatakan dalam Pasal 51 ayat 2)

Pasal 51 ayat (2) UU ITE

Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

12. Tidak Minta Maaf Setelah Fitnah Kiai Said Aqil, Ansor Bakal Bertindak

Ketua GP Ansor Sidoarjo H Rizza Ali Faizin meminta kepada redaksi salah satu media cetak (Harian Bangsa) agar meminta maaf dan mengklarifikasi pemberitaannya yang tidak benar terkait Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj atas kasus makelar tanah di Kelurahan Karang Besuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur.

Jika pihak redaksi tidak meminta maaf atau mengklarifikasi kepada Kiai Said, GP Ansor Sidoarjo dengan tegas akan mendatangi kantor media tersebut.  

"Ansor Sidoarjo akan mendatangi kantor media tersebut untuk bersilaturahim jika media tersebut tidak meminta maaf atau mengklarifikasi kepada Kiai Said. Karena dua hari ini berita yang mencatut nama ulama itu bikin resah warga NU dan masyarakat," kata Rizza saat ditemui NU Online di kantornya, Jalan KH Mukmin Sidoarjo, Jumat (30/12/2016).

Riza juga menyayangkan adanya pemberitaan yang sama sekali tidak benar itu. Pasalnya, pembeli tanah dari H Qosim atas nama Denny M Syafullah membantah berita tersebut. Menurut dia, berita tersebut sangat jahat. “Ini berita jahat. Ini orang jahat. Seribu persen bohong!” katanya di gedung PBNU, Jakarta, pada Kamis (29/12).

Dengan adanya pemberitaan di Harian Bangsa itu, Riza mengatakan bahwa media yang bersangkutan sudah keluar dari ruh jurnalistik, karena telah mencatut nama ulama.

Pihaknya mengimbau kepada media cetak, online maupun media massa supaya memberikan berita yang objektif dan tidak hoax sehingga tidak menimbulkan keresahan. Disamping itu, Rizza juga meminta kepada semua pihak untuk menahan diri.

"Kami harap media tersebut segera melakukan tabayun, apalagi telah mencatut nama Kiai yang menjadi panutan. Biar segera cepat selesai serta tidak memperkeruh suasana negara ini," tegas Rizza.

13. Muat Berita Yak Nah Soal Kiai Said, Ini Surat Terbuka Kepada Pemilik Harian Bangsa

Beberapa hari ini Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siraj mendapatkan fitnah berita miring atau yak nah (ora nggenah) soal makelar tanah di Malang. Bangsa Online yang pertama menurunkan berita tersebut pada saat muktamar NU Jombang dimulai.

Kini, media pimpinan Masud Adnan tersebut telah hilang marwahnya di kalangan nahdliyyin. Salah satu buktinya adalah kiriman surat terbuka di bawah ini, ditulis oleh kader NU Madura. Monggo dibaca tuntas.  
---------
Surat Terbuka Untuk HM. Masud Adnan

Kepada yang terhormat Bpk. HM. Masud Adnan (Direktur Harian Bangsa dan Bangsa Onlien)

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barkatuh.
Apa kabar, Pak Masud? Saya harap bapak baik-baik saja. Bapak masih ingat dengan saya? Saya tidak menanyakan bapak kenal saya atau tidak, karena yang jelas bapak tidak akan kenal saya. Tapi, setidaknya bapak masih ingat wajah saya. Supaya lebih gampang diingat: dulu waktu bapak hendak mencalonkan diri menjadi anggota legislatif provinsi Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa, saat masa-masa kampanye, bapak pernah meminta salah satu organisasi kemahasiswaan di daerah saya untuk mengadakan bedah buku yang bapak tulis yaitu “Sunan Gus Dur: Akrobat Politik Ala Nabi Khidir”. Semoga bapak mulai ingat. Kegiatan itu dilaksanakan di GOR kecamatan Palengaan, Pamekasan, pak. Waktu itu, saya sebagai moderator. Ingat, kan, pak? Waktu itu ratusan mahasiswa yang datang, sampai-sampai buku tulisan bapak itu (yang dibagikan gratis) tidak cukup.

Bapak masih ingat juga, kan, waktu bapak meminta saya untuk dipertemukan dengan ketua Gus Durian Madura? Waktu itu sekitar jam dua belas siang, bapak naik mobil dan saya rela naik motor meskipun gerimis. Dan seingat saya, dari kegiatan dan pertemuan bapak itu, semua saya lakukan dengan ikhlas tanpa menerima uang sepeserpun. Saya korbankan waktu dan tenaga saya waktu itu demi organisasi itu. Organisasi yang saya geluti.

Jujur, saya bangga dengan karya-karya bapak yang mengangkat tema-tema tentang idola saya. Gus Dur. Tapi akhir-akhir ini kebanggaan saya itu mulai luntur ketika media yang berada di bawah pimpinan bapak (Harian Bangsa dan Bangsa Online) memuat berita-berita provokatif dan mendiskreditkan jam'iyah Nahdlatul Ulama yang “diwariskan” secara turun-temurun kepada saya. Entah apa motifnya. Yang menjadi tanda tanya besar dalam benak saya adalah: bukankah bapak juga warga NU? Apa iya bapak tidak tahu menahu tentang content media yang bapak pimpin? Sebagai seseorang yang —sedikit banyak— paham tentang media, saya tidak yakin bapak tidak tahu. 

Jika memang tujuannya mencari untung, apa harus dengan cara seperti itu? Apa yang diperoleh institusi media bapak dari pemberitaan itu? Apa yang bapak dapatkan ketika masyarakat mulai tidak percaya dan membemci NU? Apa bapak merasa puas ketika masyarakat membagikan link berita tentang NU (yang provokatif) itu? Saya rasa, dari semua peetanyaan ini, jawabannya pasti “TIDAK”. Bukankah bapak alumni Pesantren Tebu Ireng? Pesantren yang didirikan oleh Rais Akbar NU, Hadlratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari.

Berdasarkan pengamatan saya terhadap isi berita pada media bapak itu, khususnya berita tentang NU dan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., dimuat tanpa ada konfirmasi dan klarifikasi kepada subyek yang diangkat dalam berita itu. Bukankah hal ini bertentangan dengan kode etik pers?

Sebelum surat ini saya akhiri, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Demi Allah, saya tulis surat ini bukan untuk menjatuhkan bapak. Saya menulis surat ini hanya ingin mengembalikan marwah NU yang mulai terkikis. Dan saya yakin, bapak juga tidak menginginkan hal itu.

Mungkin saya cukupkan surat terbuka ini, pak.

Semoga kita senantiasa mendapatkan aliran barokah dari Mbah Hasyim dan para pendiri NU lainnya. Amin.

Palengaan, 29 Desember 2016

Pengagum bapak

Muhammad Ahnu Idris
-------------------

Kini, situs online yak nah di atas, sedang moncer di kalangan wahabi. Mereka bertepuk tangan karena media milik kader NU sendiri justru menggembosi Ketum nya. Naudzubillah. Pantaskan disandingkan dengan portal fitnah piyungan, nugaris gatholoco dan juga media-media wahabrot yang moncrot-moncrot kalau asyik menghina kiai NU dan amaliyahnya. Yak nah beh.

14. Inilah Para Ulama Besar yang Pernah Dituduh Kafir, Syiah, Yahudi, oleh Sumbu Pendek

Sebaik apapun niat Anda melakasanakan tugas, pasti ada yang ingin mencari kesalahan. Itulah sifat iri, dengki, hasud, yang jika dicampur dengan bumbu-bum serakah, akan menghasilkan kekacauan di dunia. Hanya karena kebencian kepada seorang non muslim, jutaan manusia bisa digerakkan untuk sama-sama belajar menghasud.

Inilah tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam yang tidak pernah lekang dari tuduhan, hinaan, fitnah dan kabar-kabar hoax yang ingin menjatuhkan dan membunuh karakternya. Sebagaimana sedang hangat akhir-akhir ini sejak isu SARA mencuat, dimuali besar-besaran dari Jakarta.

1. Shahabat Ali bin Abi Thalib, sebelum masa Khalifah Adil Umar bin Abdil Aziz, selalu dicela dan dicaci maki oleh para khathib di mimbar-mimbar Jum'ah.

2. Shahabat Abdullah bin Abbas, Turjumanul Qur'an, pernah dituduh ngawur atau asal-asalan dalam menafsirkan Al-Qur'an.

3. Imam Bukhari saat datang ke Naisabur, semua murid-muridnya meninggalkan majlis pengajiannya karena hasudan ulama setempat yang iri terhadap majlis beliau yang ramai di datangi para murid-murid ilmu agama.

4. Imam Thabari pernah dituduh Syiah disebabkan mempunyai pendapat fikih yang kebetulan sama seperti pendapat Syiah.

5. Qadhi Iyadh pernah dituduh Yahudi bahkan tuduhan tersebut berujung pada pembunuhannya karena setiap hari Sabtu beliau tidak keluar rumah karena menulis kitab asy Syifa' bi Huquq al Mushthofa.

6. Imam Taqiyuddin as Subki berkali-kali difatwa kafir sampai meninggal padahal beliau adalah seorang mujtahid mutlak dan diakui kelimuannya.

7. Imam Abdul Wahhab asy Sya'rani pernah dituduh murtad oleh ulama Mesir gara-gara kitab beliau disisipi kekufuran oleh orang-orang yang hasad kepada beliau.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah ulama yang dibenci oleh masyarakatnya sendiri karena suatu fitnah yang muncul dari orang yang hasad. (Lihat dalam kitab al Yawaqit wal Jawahir atau al Ajwibah al Mardhiyyah karya Imam asy Sya'rani)

Senior kami di pondok yang pernah mengenyam pendidikan di Yaman pernah bercerita bahwa di kalangan santri dan ulama Hadhramaut masyhur ucapan:

لولا الحسد لصار الناس اولياء
Artinya: "Andai bukan karena sifat hasad, tentu manusia akan (banyak yang) menjadi waliyullah".

Bagaimana dengan sejarah umat Islam di era netizen ini? Samakah dengan data-data sejarah di atas? Siapa saja kah yang sering mendapatkan tuduhan kafir, sesat, Yahudi, syiah, dkk? Siapakah yang selama ini sering menghasud tanpa bukti? Bacalah: Mewaspadai Penggembosan NU oleh Minhum dan juga NU Ditarget Hancur dari Indonesia Paling Cepat Tahun 2020.

Ternyata hasad adalah penyakit hati yang paling sulit ditundukkan, meskipun mereka adalah ahli ilmu. Mugi Allah jagi kawulo lan panjenengan saking sifat hasad. Amin. [dutaislam.com/ ab]

Keterangan:
Data artikel di atas disadur dari tulisan Kiai Hidayat Nur

Sekian, terimakasih. Bisa disebarkan untuk mencounter fitnah Ketum PBNU. Mereka hanya menebar kebohongan untuk menjatuhkan NU agar grasroot tidak percaya lagi kepada NU dan Kiai. Takbir! Shollu alan Nabi Muhammad

Editor: Ibn Yaqzan

Sekian, terimakasih. Bisa disebarkan untuk mencounter fitnah Ketum PBNU. Mereka hanya menebar kebohongan untuk menjatuhkan NU agar grasroot tidak percaya lagi kepada NU dan Kiai. Takbir! Shollu alan Nabi Muhammad

sumber:Dutaislamnu, Online, arrahmah, dll

Tags:
banner 468x60 banner 200x200

Subscribe

Terimakasih anda sudah membaca Artikel ini

No Responses

Tinggalkan Balasan